Breaking News

Berita Viral

18 Siswi di Garut Trauma, Dedi Mulyadi Bawa Korban ke Salon Perbaiki Rambut yang Dipotong Guru BK

Terlebih, siswi yang mengenakan hijab diminta membuka kerudungnya sebelum rambutnya diperiksa dan dipotong.

Tayang:
Tribunjabar.com
BAWA KE SALON - Foto dokumentasi Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi. Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, mengaku telah membawa 18 siswi SMKN 2 Garut yang rambutnya dirazia guru ke salon untuk dirapikan. 

Asep Muhidin, selaku kuasa hukum para siswi, membeberkan kronologi kejadian berdasarkan pengaduan yang diterima melalui Badan Eksekutif Mahasiswa Stainus Garut.

Baca juga: Perjalanan Penuh Berkah : Perjuangan Bapak Pedagang Molen yang Rajin Beribadah

Ia menjelaskan bahwa razia dilakukan tepat saat para siswi kembali ke dalam kelas. 

Oknum guru tersebut masuk membawa gunting dan langsung menyasar para siswi, termasuk mereka yang mengenakan kerudung.

"Alasannya ada laporan masyarakat soal warna rambut, tapi kami pertanyakan dasar laporannya. Kenapa tidak melibatkan orang tua, itu lebih etis," ujarnya saat dihubungi Kompas.com, Selasa (5/5/2026).

Asep menilai tindakan pihak sekolah sangat berlebihan dan tidak memikirkan dampak psikologis anak didik.

TANGIS Siswi SMKN 2 Garut Rambutnya Dipotong Guru Meski Pakai Kerudung, Ortu Ancam Bawa Jalur Hukum
RAMBUT SISWA DIPOTONG - Para siswi nampak menunjukkan potongan rambut mereka yang diduga dipangkas secara paksa oleh seorang oknum guru, orang tua sampai marah besar.

Apalagi, selama ini para siswi tersebut selalu menutupi rambut mereka dengan kerudung saat berada di lingkungan sekolah.

Hingga Selasa (5/5/2026), upaya mediasi yang digelar di Kantor Cabang Dinas (Cadin) Pendidikan Wilayah XI Garut antara pihak sekolah dan wali murid dikabarkan masih belum menemui titik terang.

Meski pihak sekolah telah melayangkan permohonan maaf, beberapa orang tua menolak untuk menandatangani kesepakatan damai begitu saja.

Baca juga: Dedikasi Tanpa Cacat, Aiptu Daulat Matondang Naik Pangkat Jadi Ipda

"Tadi (ada pertemuan) di Cadin (Cabang Dinas Pendidikan Jabar) XI Garut tapi belum ada hasil mediasi, sebagai orangtua juga diajak ke sekolah diminta tandatangan penerimaan permohonan maaf," ucap Asep.

Ketegangan semakin meningkat lantaran ada tuntutan tegas dari pihak wali murid.

Beberapa orang tua mendesak agar oknum guru yang bersangkutan segera dimutasi.

Alasan utamanya adalah trauma mendalam yang dialami para siswi hingga membuat mereka enggan untuk kembali menginjakkan kaki di sekolah.

Baca juga: PREDIKSI Skor Bayern Munchen Vs PSG Leg 2 Semifinal, Munchen Diunggulkan Bertemu Arsenal

"Dari klien kami ada yang tidak mau memaafkan sebelum guru yang terlibat dipindah tugaskan karena putrinya itu mengalami trauma tidak mau sekolah," katanya.

Jika aspirasi ini tidak segera direspons secara serius oleh sekolah, Asep menegaskan bahwa pihaknya siap membawa kasus ini ke ranah hukum.

"Kalo keinginan klien kami tidak dipenuhi, maka kami akan melaporkan kasus ini ke pihak kepolisian," tegasnya.

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved