Berita Viral

Ibu Korban Daycare Little Aresha Syok, Anaknya Bisa Ikat Kaki Sendiri Sejak Dititipkan

Salah satu orangtua, AF, membagikan kisahnya setelah menitipkan dua anaknya di tempat tersebut dalam waktu yang berbeda.

IST
DAYCARE LITTLE ARESHA: Polisi mengungkap alibi para pelaku yang sudah jadi tersangka kasus kekerasan anak di daycare Little Aresha. Pelaku mengaku ogah repot urus anak. 

“Anak-anak seperti di-brainwash, setiap ditanya selalu bilang miss-nya baik,” katanya.

Riwayat Sakit yang Mengkhawatirkan

Tak hanya perubahan perilaku, kondisi kesehatan anak pertama AF juga sempat menjadi perhatian serius.

Ia mengungkapkan bahwa anaknya beberapa kali harus menjalani perawatan medis akibat penyakit yang berulang.

"Yang anak pertama itu sempat bronkopneumonia sampai tiga kali masuk rumah sakit. Terus impetigo juga. Jadi sakit, sembuh, sakit lagi,” imbuh AF.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa para orangtua tidak sembarangan dalam memilih tempat penitipan anak. Kesan awal terhadap daycare tersebut justru terlihat meyakinkan.

“Wali murid bukan orang-orang bodoh. Kami mohon jangan di-judge, tapi didukung,” ujarnya.

Tangis Orangtua dan Fakta yang Terungkap

Kisah serupa juga datang dari orangtua lain, Khairunnisa, yang mengaku terpukul setelah menyadari anaknya menjadi salah satu korban dalam video yang beredar.

"Anak saya tidak diberi baju dan tangannya bukan dibedong, tapi diikat kencang. Di salah satu video yang tersebar, saya yakin itu anak saya. Saya menangis melihatnya," kata Khairunnisa, dikutip dari laman Pemprov Jogja, Sabtu (25/4/2026).

Ia juga menyoroti minimnya sistem pengawasan di dalam daycare tersebut.

"CCTV hanya ada di luar, sementara di dalam tidak ada. Jadi selama ini kami tidak bisa memantau apa yang terjadi di dalam ruangan.

Selain itu, ada aturan kalau mau jemput harus WA dulu 30 menit atau satu jam sebelumnya. Tidak boleh dadakan,” tambahnya.

Kasus Bergulir, Belasan Tersangka Ditetapkan

Seiring dengan terkuaknya fakta demi fakta, pihak kepolisian telah menetapkan 13 orang sebagai tersangka dalam kasus ini.

Mereka terdiri dari ketua yayasan berinisial DK, kepala sekolah AP, serta 11 pengasuh lainnya.

Kasus ini pun menjadi peringatan keras bagi masyarakat tentang pentingnya pengawasan dan transparansi dalam layanan penitipan anak.

Di balik fasilitas yang tampak meyakinkan, ternyata bisa tersembunyi praktik yang jauh dari kata manusiawi.

Kini, harapan para orangtua hanya satu: keadilan bagi anak-anak mereka dan jaminan bahwa tragedi serupa tidak akan terulang kembali.

Artikel sudah tayang di Kompas

(*/ Tribun-medan.com)

Baca berita TRIBUN MEDAN lainnya di Google News

Ikuti juga informasi lainnya di FacebookInstagram dan Twitter dan WA Channel

Berita viral lainnya di Tribun Medan

Sumber: Tribunnews
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved