Berita Viral

Ibu Korban Daycare Little Aresha Syok, Anaknya Bisa Ikat Kaki Sendiri Sejak Dititipkan

Salah satu orangtua, AF, membagikan kisahnya setelah menitipkan dua anaknya di tempat tersebut dalam waktu yang berbeda.

IST
DAYCARE LITTLE ARESHA: Polisi mengungkap alibi para pelaku yang sudah jadi tersangka kasus kekerasan anak di daycare Little Aresha. Pelaku mengaku ogah repot urus anak. 

TRIBUN-MEDAN.com - Di balik harapan orangtua yang ingin memberikan tempat terbaik bagi buah hati, terselip kisah pilu yang perlahan terkuak.

Apa yang awalnya terlihat sebagai tempat penitipan anak yang aman dan nyaman, justru menyisakan tanda tanya besar.

Perubahan demi perubahan perilaku anak mulai muncul halus, namun mencurigakan hingga akhirnya mengarah pada satu dugaan yang mengkhawatirkan.

Perubahan Perilaku yang Tak Lagi Wajar

Sejumlah orangtua mulai angkat bicara mengenai kondisi anak-anak mereka setelah dititipkan di Daycare Little Aresha, Yogyakarta tempat yang kini tengah menjadi sorotan publik akibat dugaan penganiayaan dan penelantaran.

Pengungkapan kasus ini bermula dari penggerebekan yang dilakukan polisi pada Jumat (24/4/2026). Dalam operasi tersebut, ditemukan fakta mengejutkan: anak-anak hanya mengenakan pampers, dengan tangan dan kaki terikat.

Salah satu orangtua, AF, membagikan kisahnya setelah menitipkan dua anaknya di tempat tersebut dalam waktu yang berbeda.

Anak pertamanya sudah mulai dititipkan sejak usia 4,5 bulan pada 2021, sempat berhenti, lalu kembali lagi saat berusia 2 hingga 4 tahun.

Namun, justru pada anak keduanya, perubahan mencolok mulai terlihat.

“Dia pernah bilang takut masuk ke sana, takut sama miss-nya, katanya galak,” kata AF, dikutip dari TribunJogja, Senin (27/4/2026).

Bukan hanya rasa takut, kebiasaan aneh pun mulai muncul. Anak yang masih berusia balita itu menunjukkan perilaku tak lazim, seperti bermain tali dengan pola tertentu.

“Anak usia 2 sampai 3 tahun kok sudah pintar main tali. Tapi, setiap kali main tali itu sudah diikat kakinya sama tangannya,” katanya.

Kebiasaan Aneh hingga Dugaan Tekanan Psikologis

Perubahan tidak berhenti di situ. Dalam keseharian di rumah, anak tersebut juga menunjukkan perilaku yang berbeda dari biasanya.

“Banyak banget perubahan-perubahan yang udah di alami anak saya. Kayak tidur nggak mau di kasur, di rumah itu selalu lepas celana maunya pake pampers aja gitu,” ungkap AF.

"Tidur maunya perutnya dibuka, terus suka cubit, suka gigit, dan lain-lain kayak gitu banyak banget kalau dirinci," sambungnya.

AF bahkan mencurigai adanya tekanan psikologis yang dialami anak selama berada di daycare.

“Anak-anak seperti di-brainwash, setiap ditanya selalu bilang miss-nya baik,” katanya.

Riwayat Sakit yang Mengkhawatirkan

Tak hanya perubahan perilaku, kondisi kesehatan anak pertama AF juga sempat menjadi perhatian serius.

Ia mengungkapkan bahwa anaknya beberapa kali harus menjalani perawatan medis akibat penyakit yang berulang.

"Yang anak pertama itu sempat bronkopneumonia sampai tiga kali masuk rumah sakit. Terus impetigo juga. Jadi sakit, sembuh, sakit lagi,” imbuh AF.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa para orangtua tidak sembarangan dalam memilih tempat penitipan anak. Kesan awal terhadap daycare tersebut justru terlihat meyakinkan.

“Wali murid bukan orang-orang bodoh. Kami mohon jangan di-judge, tapi didukung,” ujarnya.

Tangis Orangtua dan Fakta yang Terungkap

Kisah serupa juga datang dari orangtua lain, Khairunnisa, yang mengaku terpukul setelah menyadari anaknya menjadi salah satu korban dalam video yang beredar.

"Anak saya tidak diberi baju dan tangannya bukan dibedong, tapi diikat kencang. Di salah satu video yang tersebar, saya yakin itu anak saya. Saya menangis melihatnya," kata Khairunnisa, dikutip dari laman Pemprov Jogja, Sabtu (25/4/2026).

Ia juga menyoroti minimnya sistem pengawasan di dalam daycare tersebut.

"CCTV hanya ada di luar, sementara di dalam tidak ada. Jadi selama ini kami tidak bisa memantau apa yang terjadi di dalam ruangan.

Selain itu, ada aturan kalau mau jemput harus WA dulu 30 menit atau satu jam sebelumnya. Tidak boleh dadakan,” tambahnya.

Kasus Bergulir, Belasan Tersangka Ditetapkan

Seiring dengan terkuaknya fakta demi fakta, pihak kepolisian telah menetapkan 13 orang sebagai tersangka dalam kasus ini.

Mereka terdiri dari ketua yayasan berinisial DK, kepala sekolah AP, serta 11 pengasuh lainnya.

Kasus ini pun menjadi peringatan keras bagi masyarakat tentang pentingnya pengawasan dan transparansi dalam layanan penitipan anak.

Di balik fasilitas yang tampak meyakinkan, ternyata bisa tersembunyi praktik yang jauh dari kata manusiawi.

Kini, harapan para orangtua hanya satu: keadilan bagi anak-anak mereka dan jaminan bahwa tragedi serupa tidak akan terulang kembali.

Artikel sudah tayang di Kompas

(*/ Tribun-medan.com)

Baca berita TRIBUN MEDAN lainnya di Google News

Ikuti juga informasi lainnya di FacebookInstagram dan Twitter dan WA Channel

Berita viral lainnya di Tribun Medan

Sumber: Tribunnews
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved