Kecelakaan Kereta Api

Penjelasan Pakar ITB Kenapa Lokomotif Argo Bromo Bisa Tembus Gerbong KRL di Bekasi

taksi mogok tersebut diduga telah menyebabkan persinyalan menjadi terganggu karena parameter mobil listrik ini elektrik

TRIBUN MEDAN/(Dok./Tangkapan layar video akun X TMC Polda Metro Jaya)
KECELAKAAN KERETA - Taksi hijau Green SM ditabrak KRL di sekitar Stasiun Bekasi Timur, Senin (26/4/2026). 

Ringkasan Berita:- Dalam kecelakaan ini yang menjadi pertanyaan sederhana adalah kenapa taksi tersebut bisa mogok di perlintasan.
Taksi mogok tersebut diduga telah menyebabkan persinyalan menjadi terganggu karena parameter mobil listrik ini elektrik.
Untuk kasus yang terjadi di Bekasi Timur diduga kuat karena sistem persinyalannya terganggu akibat taksi mogok.

 

TRIBUN-MEDAN.com - Pengamat transportasi dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Sony Sulaksono menjelaskan analisis kecelakaan yang melibatkan kereta api Argo Bromo Anggrek dan KRL Commuter Line di Stasiun Bekasi Timur.

Sony menyoroti kronologi yang berawal dari adanya taksi mogok di sekitar perlintasan, kemudian tertabrak oleh KRL hingga akhirnya datang Kereta Api Argo Bromo Anggrek yang melintas di satu jalur.

"Sehingga korbannya cukup banyak, kalau tidak salah ada tujuh orang. Atas kejadian itu Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) lagi menginvestigasi," ujarnya saat dihubungi, Selasa (28/4/2026).

Baca juga: Mahasiswa Teknik USU Ditangkap Diduga Edarkan Ekstasi

Hanya saja, kata dia, dalam kecelakaan ini yang menjadi pertanyaan sederhana adalah kenapa taksi tersebut bisa mogok di perlintasan.

Menurutnya, kondisi itu terjadi karena taksi ini diduga kuat merupakan mobil listrik.

"Taksi itu kan mogok di tengah rel yang dari besi, jadi ada kemungkinan mempengaruhi sinyal. Harusnya kalau kejadian tabrakan seperti itu ada warning buat kereta api sebelumnya," kata Sony.

Atas hal tersebut, kata dia, taksi mogok tersebut diduga telah menyebabkan persinyalan menjadi terganggu karena parameter mobil listrik ini elektrik.

Namun, terkait hal ini tetap harus menunggu hasil investigasi yang sedang dilakukan oleh pihak KNKT.

"Kalau mobil biasa kan sebenarnya gak masalah, tabrak terus kemudian ada peringatan ke belakang. Jalur itu kan padat, seharusnya setiap ada halangan di kawasan stasiun, harus ada antisipasi atau mitigasi langsung untuk segera memberikan informasi ke kereta di belakang yang akan datang ke Bekasi Timur," ucapnya.

Baca juga: Duduk Perkara Hakim Rafid Ihsan Lubis Masuk Struktur Daycare Little Aresha, Tak Ada Terima Imbalan

EVAKUASI KORBAN - Konidisi kereta yang bertabrakan antara KRL Commuterline dengan KA Argo Bromo Anggrek relasi Gambir-Surabaya Pasar Turi di Stasiun Bekasi Timur, Bekasi, Jawa Barat, Selasa (28/4/2026). TRIBUNNEWS/HERUDIN (TRIBUNNEWS/HERUDIN)
EVAKUASI KORBAN - Konidisi kereta yang bertabrakan antara KRL Commuterline dengan KA Argo Bromo Anggrek relasi Gambir-Surabaya Pasar Turi di Stasiun Bekasi Timur, Bekasi, Jawa Barat, Selasa (28/4/2026). TRIBUNNEWS/HERUDIN (TRIBUNNEWS/HERUDIN) (TRIBUNNEWS)

Di sisi lain, Sony menilai sistem persinyalan kereta api di wilayah Jabodetabek sudah cukup bagus. 

Hanya saja, untuk kasus yang terjadi di Bekasi Timur diduga kuat karena sistem persinyalannya terganggu akibat taksi mogok.

"Memang ada kecurigaan yang ditabraknya itu mobil listrik ya, yang punya komponen-komponen elektrik yang mungkin bisa mempengaruhi persinyalan. Ini mungkin ada penyidikan lebih jauh terutama dari KNKT," ujar Sony.

Sedangkan untuk sistem persinyalan kereta api berbasis kereta api listrik seperti KRL, Sony menilai sudah bagus.

Hanya saja, untuk sistem persinyalan kereta api yang  antarkota memang masih perlu ada peningkatan lagi.

Baca juga: ASN Polri Cuman Divonis 5 Bulan Kasus Pemalsuan Surat di PN Medan

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved