Perang AS dan Israel vs Iran

Di Tengah Protes Keras Iran soal Blokade AS, Trump Malah Tambah Kapal Induk di Timur Tengah

Kapal induk USS George HW Bush dilaporkan telah tiba, menambah armada besar AS yang sudah lebih dulu beroperasi di wilayah itu.

Editor: Juang Naibaho
Istimewa
Kapal induk bertenaga nuklir kelas Nimitz, USS George HW Bush.(ANGKATAN LAUT AS via WIKIMEDIA COMMONS) 

TRIBUN-MEDAN.com - Iran terus menyuarakan protes keras atas blokade Amerika Serikat (AS) di perairan sekitar Selat Hormuz.

Blokade AS ini pula yang menjadi alasan Iran tak mengirimkan delegasi untuk negosiasi putaran kedua di Pakistan. Teheran menegaskan, tak ada perundingan lanjutan sebelum AS mencabut blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.

Sebaliknya, AS merespons protes keras tersebut dengan meningkatkan pasukan militernya di Timur Tengah.

Kapal induk USS George HW Bush dilaporkan telah tiba, menambah armada besar yang sudah lebih dulu beroperasi di wilayah itu.

Dengan kedatangan USS George HW Bush, maka AS telah mengerahkan tiga kapal induk sekaligus ke kawasan tersebut. 

Kehadiran tiga kapal induk ini terjadi di tengah perpanjangan gencatan senjata yang diumumkan Presiden AS Donald Trump pada Selasa (21/4/2026).  

Baca juga: Detik-detik Kapolda Jambi Copot Seragam 2 Polisi Pelaku Rudapaksa Calon Polwan, Diganti Baju Tahanan

Militer AS pada Kamis (23/4/2206), sebagaimana dilansir AFP, menyatakan bahwa kapal induk USS George HW Bush telah tiba di Timur Tengah, sehingga jumlah kapal induk Amerika yang beroperasi di kawasan itu kini menjadi tiga. 

Komando militer AS untuk Timur Tengah mengatakan kapal tersebut berlayar di Samudra Hindia dalam area tanggung jawab Komando Pusat AS.

Sebuah unggahan di X juga menampilkan gambar dek kapal yang dipenuhi pesawat tempur. 

Selain USS George HW Bush, kapal induk USS Gerald R Ford dilaporkan beroperasi di Laut Merah. 

Sementara itu, kapal induk USS Abraham Lincoln juga berada di kawasan tersebut, menurut unggahan media sosial Komando Pusat AS (CENTCOM). 

Ketiga kapal induk itu masing-masing beroperasi bersama kelompok kapal perang pendukung dalam jumlah besar. 

Pengerahan kapal induk ketiga ini terjadi di tengah gencatan senjata yang kembali diperpanjang oleh Trump. 

USS Gerald R Ford sebelumnya sempat berlayar ke Kroasia untuk perbaikan setelah terjadi kebakaran di dalam kapal pada 12 Maret.

Namun, kapal induk terbesar di dunia itu kini telah kembali beroperasi. 

Kapal tersebut telah berada di laut selama sekitar 10 bulan, dalam penugasan yang juga mencakup operasi AS di kawasan Karibia. 

Dalam operasi itu, pasukan AS melakukan serangan terhadap kapal yang diduga digunakan untuk penyelundupan narkoba, mencegat tanker yang dikenai sanksi, serta menyita aset milik pemimpin Venezuela, Nicolas Maduro.

Baca juga: USAI Pengobatannya Dikritik Dokter Anak, Ferizka Pamer Testimoni, Viral Ditotok Sirih Sampai Nangis

Trump Perintahkan Tembak Kapal Iran Penebar Ranjau

Sementara itu, Presiden Donald Trump memerintahkan Angkatan Laut AS untuk menembak kapal-kapal Iran yang memasang ranjau di Selat Hormuz. 

Ia juga menegaskan pasukannya tidak perlu ragu untuk menenggelamkan kapal-kapal tersebut jika terbukti melakukan aktivitas tersebut.

“Saya telah memerintahkan Angkatan Laut AS untuk menembak dan menghancurkan kapal apa pun yang memasang ranjau di perairan itu,” kata Trump melalui platform Truth Social, Kamis (23/4/2026). 

“Selain itu, kapal-kapal penyapu ranjau kita sedang membersihkan Selat saat ini. Dengan ini saya memerintahkan agar kegiatan tersebut dilanjutkan, tetapi dengan intensitas tiga kali lipat!” tambahnya, dikutip dari New York Post. 

Arahan tersebut keluar hanya beberapa jam setelah Departemen Perang AS mengonfirmasi penyitaan sebuah kapal tanker bermuatan minyak Iran di Samudra Hindia. 

Kapal itu diketahui telah masuk daftar sanksi dan menjadi penyitaan kedua dalam pekan yang sama. 

Di sisi lain, parlemen AS disebut telah menerima laporan bahwa Iran diduga menempatkan sekitar 20 ranjau atau lebih di sekitar Selat Hormuz. 

Beberapa di antaranya disebut dipasang secara jarak jauh menggunakan teknologi GPS, sehingga membuat proses deteksi menjadi lebih sulit, menurut laporan The Straits Times, Kamis. 

Adapun, isu ranjau di Selat Hormuz sendiri bukan hal baru. Trump sebelumnya menyatakan bahwa Iran telah atau sedang menyingkirkan ranjau-ranjau tersebut, dan mengeklaim sebagian besar kelompok “penebar ranjau” Iran telah dihancurkan dalam serangan AS. 

Namun, Iran membantah seluruh tuduhan tersebut. Pemerintah Teheran menyebut klaim itu sebagai propaganda AS. 

Meski begitu, media Iran melaporkan bahwa Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) sempat mengeluarkan peta jalur aman di kawasan tersebut. 

Kondisi di Selat Hormuz sendiri saat ini masih jauh dari stabil. Kapal-kapal yang dikaitkan dengan Iran maupun kelompok proksi dilaporkan beberapa kali mengganggu jalur perdagangan di Selat Hormuz. 

Gangguan tersebut termasuk dugaan penggunaan ranjau laut dan kapal cepat untuk menghambat serta mengancam kapal tanker yang melintas.

Di sisi lain, Eropa juga mulai meningkatkan kesiapan. Politico melaporkan bahwa Inggris tengah menyiapkan penyelam militer untuk operasi pembersihan ranjau sebagai bagian dari upaya multinasional.

Personel Angkatan Laut Kerajaan yang memiliki keahlian dalam penjinakan bahan peledak disebut siap dikerahkan, bersama sistem pencarian ranjau otonom, menurut Kementerian Pertahanan Inggris.

Selain itu, Inggris bersama sejumlah negara Eropa lainnya juga telah membahas rencana pembentukan misi koalisi yang lebih luas untuk mengamankan jalur pelayaran internasional. 

Namun hingga kini, rencana tersebut masih berada pada tahap perencanaan dan belum sepenuhnya dijalankan. (*/tribunmedan.com)

Artikel ini sudah tayang di Kompas.com

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved