Anggaran IT MBG Sebesar Rp 1,2 T, Kepala BGN: Agar Distribusi Gizi Tepat Sasaran

Dadan memastikan bahwa seluruh tahapan administrasi tetap berjalan sesuai ketentuan hukum yang berlaku.

|
Tribun Jabar/Rahmat Kurniawan
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, menyebut bakal menambah jumlah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), Kamis (30/1/2025). Penambahan SPPG diperlukan untuk menjangkau lebih banyak sasaran Makan Bergizi Gratis (MBG). (Tribun Jabar/Rahmat Kurniawan) 

Di tengah tantangan besar kualitas sumber daya manusia, pemerintah mulai menggenjot langkah strategis yang tak lagi setengah hati.

Melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG), negara berupaya hadir langsung dalam kehidupan anak-anak Indonesia, bukan hanya sebagai kebijakan, tetapi sebagai investasi jangka panjang bagi masa depan bangsa.

Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, menegaskan bahwa program ini bukan sekadar bantuan makanan, melainkan bentuk intervensi menyeluruh yang dirancang secara sistematis.

Fokusnya jelas: menyasar dua fase paling krusial dalam kehidupan manusia 1.000 hari pertama kehidupan yang menentukan kualitas kecerdasan, serta fase usia sekolah yang menjadi fondasi pertumbuhan fisik optimal.

Pemaparan tersebut ia sampaikan dalam forum Retret Ketua DPRD Seluruh Indonesia di Magelang, Sabtu (18/4/2026), sebuah forum strategis yang membahas arah kebijakan nasional ke depan.

Menekan Stunting, Mengangkat Kualitas Generasi

Dalam penjelasannya, Dadan Hindayana menaruh harapan besar pada dampak jangka panjang program ini. Ia melihat MBG sebagai kunci untuk memutus rantai masalah gizi yang selama ini menghantui generasi muda Indonesia.

“Kita harapkan dengan program ini stunting-nya bisa dicegah, karena rata-rata IQ Indonesia sekarang 78 kita dengan harapan dengan hadirnya program ini nanti 10 tahun 15 tahun ke depan yang lahir hari ini, 20 tahun kemudian akan jadi tenaga kerja produktif itu sudah tidak stunting, dan tinggi badannya naik karena kita intervensi dari sekarang,” ujar Dadan.

Pernyataan ini menggambarkan sebuah visi besar: membentuk generasi yang lebih sehat, lebih cerdas, dan lebih siap bersaing di masa depan.

Di balik lahirnya MBG, terdapat kegelisahan yang tidak sederhana. Program ini, menurut Dadan, berangkat dari perhatian serius Presiden Prabowo Subianto terhadap laju pertumbuhan penduduk yang tinggi, yang belum sepenuhnya diimbangi dengan peningkatan kualitas manusia.

“Program ini sebetulnya berawal dari kegelisahan Presiden, karena Indonesia masih tumbuh 6 orang per menit, tiga juta per tahun dan masih akan tumbuh mencapai 324 juta tahun 2045, dan sekarang permasalahannya bukan pertumbuhannya tapi berasal dari mana pertumbuhan itu,” tutur dia.

Pertanyaan besar pun muncul: apakah pertumbuhan itu diiringi kualitas? Ataukah justru memperbesar beban jika tidak diimbangi dengan intervensi yang tepat?

Akar Masalah: Pendidikan dan Akses Gizi

Dadan juga menyoroti persoalan mendasar yang selama ini kerap luput dari perhatian rendahnya tingkat pendidikan masyarakat.

Rata-rata lama sekolah yang hanya sembilan tahun dinilai berdampak langsung pada pola asuh dan pemenuhan gizi anak.

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved