KKB Papua

Seorang Anggota KKB Papua Tewas Ditembak Aparat, Buronan Sejak 2024

Petugas menembak mati Oni Enumbi, anggota Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) pimpinan Lekagak Telenggen.

Editor: Salomo Tarigan
FACEBOOK
Ilustrasi KKB PAPUA - Petugas menembak mati Oni Enumbi, anggota Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) pimpinan Lekagak Telenggen. 


Sementara itu, tujuh lainnya mengalami luka-luka.


Selain itu, dia juga mendapatkan informasi terdapat tiga anak-anak yang turut menjadi korban dalam baku tembak tersebut.


"Anak-anak juga menjadi korban dan sekarang ada juga yang di rumah sakit dan sudah mendapat perhatian pemerintah daerah, itu sudah ada, benar," ucap dia di kantor Kementerian HAM Jakarta pada Senin (20/4/2026).


"Tiga orang kalau enggak salah (anak-anak) luka. Yang meninggal itu dewasa. Saya tidak tahu (ada anak-anak yang meninggal), karena kan ini baru (informasi) awal," kata Pigai.


Terkait terduga pelaku, Pigai belum bisa memastikannya.


Ia mengatakan akan mengirim tim untuk memverifikasi langsung data dan informasi yang diterimanya tersebut.


Dia juga mendorong proses hukum terhadap para pelaku segera dilakukan.


"Khususnya kalau ada yang nanya siapa pelakunya? Peristiwa ini terjadi di siang hari, pagi hari. Kalau 15 orang yang meninggal, tentu kita tidak bisa jadikan mereka informasi karena sudah meninggal," ungkap Pigai.


"Tapi mereka yang luka-luka dan penduduk yang ada di tempat kejadian perkara, mereka tahu siapa pelakunya. Oleh karena itu tidak usah bermain opini, 'bukan kami, oleh dia, oleh mereka', itu tidak usah. Karena peristiwa yang terjadi siang hari, semua disaksikan dan suatu saat akan dibuka," lanjutnya.


Pigai juga menyiratkan ada penggunaan kekuatan berlebih (excessive use of power) dalam insiden tersebut.


Akan tetapi, ia tidak menjelaskan secara gamblang siapa yang melakukan penggunaan kekuatan secara berlebih tersebut.


"Kita baru kepada menekankan tindakan excessive use of power yang menyebabkan kematian dan luka-luka supaya biar bertanggung jawab," ujarnya.


"Saya tidak ingin situasi 15 orang meninggal dan tujuh orang luka-luka ini menjadi salah satu benang kusut noda hitam bagi bangsa yang bisa dipakai alat bagi orang lain untuk menekan kita dalam berbagai aspek," lanjut dia.


Bagi Pigai, menyembunyikan peristiwa itu justru akan merugikan bangsa Indonesia.


Dia pun mendorong agar ada proses peradilan untuk mendapatkan pertanggungjawaban dari para pelaku.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved