Berita Viral
AWAL Mula 9 Siswa SMAN 1 Purwakarta Lecehkan Ibu Guru Hingga Viral, Dedi Mulyadi Bereaksi
Sebagai tindak lanjut, para siswa akan menjalani pembinaan karakter yang menitikberatkan pada penguatan empati dan disiplin.
TRIBUN-MEDAN.com - Beginilah awal mula 9 siswa SMAN 1 Purwakarta viral lecehkan ibu guru.
Dedi Mulyadi pun bereaksi usai kasus ini mencuat ke publik.
Dalam video yang beredar menampilkan aksi tak pantas sejumlah pelajar berseragam khas SMAN 1 Purwakarta.
Baca juga: Kronologi Anak Kandung Bakar Rumah Orangtua dan Kakak hingga Ludes di Deli Serdang
Para siswa terlihat mengejek seorang guru perempuan dengan gestur tidak sopan, seperti mengacungkan jari tengah dan menjulurkan lidah.
Aksi pelecehan terhadap guru itu terjadi sesaat setelah kegiatan belajar mengajar selesai di kelas.
Perilaku tersebut dinilai mencederai nilai-nilai pendidikan serta etika yang seharusnya dijunjung tinggi di lingkungan sekolah.
Tak butuh waktu lama, video itu menyebar cepat dan memicu reaksi keras dari berbagai kalangan, mulai dari Dewan Pendidikan, tenaga pendidik, alumni, hingga masyarakat di Kabupaten Purwakarta.
Baca juga: 11 Pejabat di Kota Tanjungbalai Dilantik, Berikut Nama-nama dan Jabatannya
Ketua Dewan Pendidikan Kabupaten Purwakarta, Agus Marzuki mengaku prihatin sekaligus kecewa atas insiden tersebut.
Ia menilai tindakan para pelajar itu bertolak belakang dengan semangat program pendidikan karakter yang tengah digalakkan oleh Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat, yakni Gapura Panca Waluya.
"Program ini menekankan pembentukan karakter siswa melalui lima nilai utama, yakni cageur (sehat jasmani dan rohani), bageur (berperilaku baik dan santun), bener (jujur dan berintegritas), pinter (cerdas dan kompeten), serta singer (cekatan dan kreatif)," ujar Agus saat dikonfirmasi Tribunjabar.id, Sabtu (18/4/2026).
Menurut Agus, jika benar pelaku merupakan siswa dari sekolah unggulan di Purwakarta, hal ini menjadi ironi tersendiri.
Ia menyayangkan munculnya perilaku tidak terpuji yang mencerminkan kurangnya rasa hormat terhadap guru.
"Terlepas dari alasan apapun, apalagi jika hanya dianggap sebagai ekspresi di dalam kelas, ketika sudah masuk ke ruang publik, tindakan itu menjadi tidak etis dan melanggar norma," ucapnya.
Ia juga mengingatkan bahwa tindakan yang terlihat sepele dapat berdampak besar terhadap reputasi sekolah dan kepercayaan masyarakat.
"Hal kecil yang dianggap biasa bisa meninggalkan jejak yang dalam. Ini harus menjadi perhatian bersama," katanya.
Baca juga: Laga Hidup Mati, PSMS Medan Wajib Kalahkan Sriwijaya FC demi Hindari Play-Off Degradasi
Dewan Pendidikan berharap peristiwa ini menjadi pembelajaran penting bagi seluruh siswa agar lebih bijak dalam bersikap, terutama di era digital di mana informasi sangat cepat tersebar.
Agus juga mendorong adanya komunikasi yang lebih terbuka antara guru dan siswa untuk membangun hubungan yang saling menghormati.
"Kami berharap kejadian seperti ini tidak terulang. Jadikan ini sebagai refleksi bersama agar dunia pendidikan kita tetap menjunjung tinggi nilai moral dan etika," ucapnya.
Dedi Mulyadi Beraksi
Menanggapi peristiwa itu, Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi menyatakan prihatin dengan peristiwa yang terjadi di SMAN 1 Purwakarta.
“Saya cukup prihatin dengan peristiwa tersebut. Kronologisnya saya sudah mendengarkan paparan dari Dinas Pendidikan,” ujar Dedi, Sabtu (18/4/2026).
Dikatakan Dedi, berdasarkan informasi yang diterimanya orang tua dari para siswa yang melakukan melecehkan guru tersebut sudah dipanggil dan menyesalkan atas perbuatan anaknya.
“Anak tersebut orang tuanya sudah dipanggil ke sekolah dan orang tuanya nangis, merasa menyesal atas tindakan anaknya,” katanya.
Saat ini, kata Dedi, pihak sekolah sudah memberikan sanksi berupa skorsing kepada anak-anak tersebut selama 19 hari agar mendapatkan bimbingan di rumahnya masing-masing.
“Tapi saya memberikan saran, anak itu tidak skorsing selama 19 hari, ini saran mudah-mudahan bisa digunakan. Tapi, diberikan hukuman membersihkan halaman sekolah, menyapu setiap hari dan membersihkan toilet,” ucapnya.
Saran tersebut, kata Dedi, dapat diterapkan selama satu sampai tiga bulan, tergantung perkembangan dari anak tersebut.
“Prinsip dasar setiap hukuman yang diberikan harus memberikan manfaat dalam pembentukan karakter, bagaimanapun itu adalah anak yang perlu dibimbing oleh orang tua dan gurunya,” katanya.
Kronologi
Kepala Dinas Pendidikan Jawa Barat, Purwanto mengatakan peristiwa itu terjadi pada Kamis 16 April 2026. Namun, videonya baru viral pada Sabtu 18 April 2026.
Dikatakan Purwanto, kejadian bermula seusai siswa mengikuti kegiatan terkait pengolahan aneka makanan.
“Setelah kegiatan itu selesai, kemudian terjadi aksi yang tidak terpuji dari anak-anak tersebut,” ujar Purwanto, Sabtu (18/4/2026).
Aksi tersebut dilakukan oleh sembilan siswa dari kelas XI IPS terhadap seorang guru bernama Atum yang baru mengajar di sekolah tersebut.
Pihak sekolah, kata dia, sudah mengambil langkah dengan memanggil para siswa dan orang tua mereka.
Dalam proses tersebut, para siswa mengakui kesalahannya dan menyesali perbuatannya.
“Orang tua juga menyayangkan kejadian ini, dan sekolah langsung melakukan langkah pembinaan,” katanya.
Terkait motif para siswa, Dinas Pendidikan Jawa Barat mengaku masih melakukan pendalaman dan belum dapat memastikan alasan di balik tindakan tersebut.
“Untuk alasannya, kami belum sampai ke sana. Itu masih didalami oleh pihak sekolah,” ucapnya.
Purwanto memastikan, kejadian ini merupakan yang pertama kali terjadi di SMAN 1 Purwakarta.
Menurutnya, fenomena ini menjadi pengingat bahwa pola pendidikan anak tidak hanya berlangsung di ruang kelas, tetapi juga dipengaruhi lingkungan digital.
“Anak-anak sekarang tumbuh tidak hanya di sekolah, tapi juga di ruang digital. Ini perlu perhatian serius dari orang tua dan sekolah,” katanya.
Purwanto menegaskan, peristiwa ini harus menjadi bahan refleksi bersama, tidak hanya bagi SMAN 1 Purwakarta, tetapi juga seluruh sekolah dan orang tua.
Sebagai tindak lanjut, para siswa akan menjalani pembinaan karakter yang menitikberatkan pada penguatan empati dan disiplin.
Selain itu, Dinas Pendidikan Jawa Barat juga mendorong evaluasi penggunaan ponsel di lingkungan sekolah, karena dinilai berpotensi memicu perilaku spontan yang mencerminkan karakter siswa.
“Penggunaan ponsel juga perlu dievaluasi. Kadang anak mengekspresikan sesuatu secara spontan, dan itu bagian dari refleksi karakter mereka,” katanya.
Artikel ini telah tayang di TribunJabar.id
(*/ Tribun-medan.com)
Baca berita TRIBUN MEDAN lainnya di Google News
Ikuti juga informasi lainnya di Facebook, Instagram dan Twitter dan WA Channel
Berita viral lainnya di Tribun Medan
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/AWAL-Mula-9-Siswa-SMAN-1-Purwakarta-Lecehkan-Ibu-Guru-Hingga-Viral-Dedi-Mulyadi-Bereaksi.jpg)