Keracunan MBG
72 Siswa Keracunan MBG Jadi Sorotan, Ahli Epidemiologi Ungkap Dugaan Bakteri Tahan Panas
Ahli epidemiologi menanggapi kasus keracunan makanan yang menimpa puluhan siswa usai mengonsumsi menu MBG
TRIBUN-MEDAN.com - Ahli epidemiologi menanggapi kasus keracunan makanan yang menimpa puluhan siswa usai mengonsumsi menu dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Seperti diberitakan, sebanyak 72 siswa di Duren Sawit, Jakarta Timur dilarikan ke rumah sakit.
Mereka mengalami keracunan setelah mengonsumsi makanan MBG dalam waktu yang hampir bersamaan di lingkungan sekolah.
Menu meliputi spaghetti bolognese, bola-bola daging, scramble egg tofu, sayuran campur, dan buah stroberi.
Epidemiologi adalah ilmu yang mempelajari pola sebaran (distribusi), frekuensi, dan faktor penyebab (determinan) penyakit atau masalah kesehatan pada populasi tertentu.
Epidemiologi terkait ini bertujuan menentukan tingkat dan luas penyakit, mengidentifikasi penyebab, mempelajari riwayat alamiah penyakit, dan mengevaluasi langkah pencegahan.
Ahli epidemiologi sekaligus pakar kesehatan masyarakat, Dicky Budiman, menilai kejadian ini sangat kuat mengarah pada Kejadian Luar Biasa (KLB) keracunan pangan.
“Dengan adanya 72 siswa keracunan MBG atau spageti ini, ini sangat kuat yang mengarah pada KLB keracunan pangan,” ujarnya pada Tribunnews, Minggu (5/4/2026).
Pola Kasus Mengarah ke Sumber Tunggal
Dalam perspektif epidemiologi, pola kejadian ini dinilai jelas menunjukkan satu sumber penyebab.
“Korban dalam waktu singkat, sumber makanannya sama, lokasinya juga terbatas di sekolah. Jadi ini jelas, point of source-nya itu jelas,” jelasnya.
Artinya, ada satu titik kegagalan dalam rantai keamanan pangan yang menyebabkan banyak siswa terdampak secara bersamaan.
Dugaan Bakteri Tahan Panas
Dicky menyebut, penyebab paling rasional dalam kasus ini berkaitan dengan kontaminasi bakteri penghasil toksin.
“Dugaan penyebab paling rasionalnya, tentu secara klasik ini berkaitan dengan potensi bakteri penghasil toksin dari staphylococcal food poisoning,” katanya.
Bakteri ini dapat berasal dari tangan penjamah makanan yang tidak higienis.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/Gubernur-a-pramono-jenguk.jpg)