Berita Viral

AS Kembali Bombardir Fasilitas Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Iran, Rusia Evakuasi 198 Karyawan

Serangan udara ini dilaporkan menewaskan seorang petugas keamanan dan memaksa Rusia mengevakuasi 198 karyawan Rosatom.

Editor: AbdiTumanggor
TRIBUN MEDAN/AFP/ATTA KENARE/KOMPAS.COM
Foto yang diambil pada Agustus 2010, menunjukkan pembangkit listrik tenaga nuklir Iran di kawasan Bushehr yang dibangun pada 2010. Kini, fasilitas pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) Bushehr Iran ini menjadi sasaran serangan udara Amerika Serikat dan Israel pada Sabtu (4/4/2026). Serangan udara ini dilaporkan menewaskan seorang petugas keamanan dan memaksa Rusia mengevakuasi 198 karyawan Rosatom. 

TRIBUN-MEDAN.COM - Fasilitas pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) Bushehr Iran kembali menjadi sasaran serangan udara Amerika Serikat dan Israel pada Sabtu (4/4/2026).

Serangan udara ini dilaporkan menewaskan seorang petugas keamanan dan memaksa Rusia mengevakuasi 198 karyawan Rosatom.

Pembangkit listrik tenaga nuklir Bushehr merupakan satu-satunya fasilitas nuklir sipil operasional Iran.

Fasilitas ini dibangun oleh Rusia dan secara resmi diserahkan pada September 2013.

Kritikan Iran ke Barat

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengecam sikap negara-negara Barat yang dinilai munafik dalam menyikapi isu keselamatan nuklir.

Ia membandingkan kekhawatiran Barat terhadap risiko di Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Zaporizhzhia di Ukraina dengan sikap diam mereka atas serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap fasilitas nuklir Iran.

Dalam pernyataannya di media sosial X Sabtu (4/4/2026), Araghchi menyoroti minimnya respons Barat terhadap serangan yang menargetkan infrastruktur nuklir Iran, termasuk PLTN Bushehr. 

Menurut dia, reaksi tersebut sangat kontras dengan kekhawatiran besar yang sebelumnya disuarakan Barat terkait keselamatan nuklir di Ukraina.

Araghchi juga memperingatkan bahwa kerusakan pada fasilitas nuklir Bushehr berpotensi menimbulkan kebocoran radioaktif yang berdampak luas di kawasan. 

Ia menegaskan, dampak tersebut tidak hanya akan dirasakan Iran, tetapi juga negara-negara tetangga, terutama yang berada di kawasan Teluk Persia. 

“Mereka dulu marah soal ancaman di Zaporizhzhia. Sekarang, AS dan Israel sudah membombardir Bushehr empat kali. Jika terjadi kebocoran radioaktif, dampaknya justru akan menghancurkan ibu kota negara-negara Teluk, bukan Teheran,” ujar Araghchi,, dikutip dari Tasnim News Agency.

Serangan ke sektor petrokimia

Selain fasilitas nuklir, Iran juga menuding serangan terhadap sektor petrokimia menunjukkan tujuan strategis lain dari operasi militer tersebut.

Pernyataan Araghchi muncul beberapa jam setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan udara ke fasilitas petrokimia di Provinsi Khuzestan, Iran barat daya.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved