Berita Nasional

Menku Purbaya Ungkap 3 Skenario Pahit Buat Ekonomi RI Imbas Selat Hormuz Terganggu

Menurut Purbaya, kondisi geopolitik yang tidak menentu biasanya membuat pelaku pasar global bersikap lebih berhati-hati.

|
Kompas.com
DRAMA BPJS NONAKTIF - Menkeu Purbaya menegaskan bahwa negara telah mengalokasikan dana besar untuk menjamin keberlangsungan BPJS Kesehatan PBI pada tahun 2026. (Kompas.com) 

TRIBUN-MEDAN.com - Menteri Keuangan Purbaya ungkap tiga skenario pahit buat ekonomi imbas Selat Hormuz terganggu. 

Meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memunculkan kekhawatiran terhadap stabilitas ekonomi global.

Konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran dinilai berpotensi mengganggu jalur distribusi energi dunia, terutama jika aktivitas pelayaran di Selat Hormuz terganggu.

Selat sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab tersebut merupakan salah satu jalur paling vital bagi perdagangan minyak dunia.

Gangguan kecil saja di wilayah ini dapat memicu gejolak harga energi global dan menimbulkan efek domino terhadap perekonomian berbagai negara.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan pemerintah terus memantau situasi tersebut dengan sangat cermat karena dampaknya bisa menjalar hingga ke pasar keuangan internasional.

“Ketidakpastian ini tercermin dari meningkatnya sentimen risk off di pasar global, terlihat dari volatilitas tinggi di berbagai indeks pasar, pergeseran dana ke aset safe haven, penguatan dolar AS, serta kenaikan imbal hasil US Treasury,” ujar Purbaya dalam konferensi pers APBN KiTa edisi Maret 2026 di Jakarta, Rabu (11/3/2026).

Investor Beralih ke Aset Aman

Menurut Purbaya, kondisi geopolitik yang tidak menentu biasanya membuat pelaku pasar global bersikap lebih berhati-hati.

Ketika risiko meningkat, investor cenderung memindahkan dananya dari aset berisiko ke instrumen yang dianggap lebih aman.

Perubahan sikap tersebut dapat memicu pergerakan tajam di berbagai pasar keuangan dunia, mulai dari pasar saham hingga pasar obligasi.

Ketika aliran modal global berubah arah, negara-negara berkembang seperti Indonesia berpotensi merasakan dampaknya secara langsung.

Tiga Jalur Risiko ke Ekonomi Indonesia

Purbaya menjelaskan bahwa potensi dampak dari gangguan di Selat Hormuz terhadap ekonomi Indonesia dapat muncul melalui tiga jalur utama.

1. Jalur Perdagangan dan Harga Energi

Risiko pertama datang dari sektor perdagangan internasional. Jika konflik menyebabkan lonjakan harga minyak dunia, biaya impor energi Indonesia dapat meningkat secara signifikan.

Situasi tersebut berpotensi mengurangi surplus neraca perdagangan dan memberikan tekanan tambahan terhadap neraca pembayaran nasional.

Sumber: Tribunnews
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved