Breaking News

Berita Viral

SAAT Trump Klaim Iran Sudah Lumpuh, 2 Kapal Taheran Diam-diam Ambil Bahan Bakar Roket dari China

Muatan kapal yang diangkut dari China kemungkinan bahan kimia penting untuk program misil Iran.

|
Editor: AbdiTumanggor
TRIBUN MEDAN/X @ChinaNow24
Pemerintah China mengklaim menjadi satu-satunya negara yang kapal-kapalnya diizinkan Iran untuk melewati Selat Hormuz yang ditutup Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) sejak 28 Februari 2026. Hal itu sebagai ungkapan terima kasih atas sikap mendukung Beijing terhadap Teheran selama perang. cuit akun X @ChinaNow24,Rabu (4/3/2026). 

TRIBUN-MEDAN.COM - Di tengah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim bahwa Iran sudah lumpuh dan perang akan segera berakhir, justru dua kapal kargo milik perusahaan pelayaran Iran yang terkena sanksi dilaporkan meninggalkan pelabuhan kimia di China dengan muatan yang diduga berkaitan dengan bahan bakar roket. Kedua kapal itu kini berlayar menuju Iran setelah sempat bersandar di pelabuhan Gaolan di Zhuhai, pesisir tenggara China.

Analisis data pelacakan kapal, citra satelit, serta catatan sanksi menunjukkan muatan mereka kemungkinan merupakan bahan kimia penting untuk program misil Iran.

Dilansir The Washington Post, Selasa (10/3/2026), dua kapal yang dimaksud adalah Shabdis dan Barzin, yang dioperasikan oleh Islamic Republic of Iran Shipping Lines (IRISL), perusahaan pelayaran milik negara Iran.

IRISL saat ini berada di bawah sanksi dari Amerika Serikat, Inggris, dan Uni Eropa.

Washington menuduh IRISL kerap mengangkut material yang digunakan dalam program misil balistik Iran. 

Kedua kapal tersebut sebelumnya berlabuh di pelabuhan Gaolan di Kota Zhuhai, sebuah fasilitas penyimpanan kimia di pesisir tenggara China yang dikenal menangani volume besar bahan kimia industri.

Para ahli menyebut pelabuhan itu sering memproses bahan seperti sodium perchlorate, prekursor penting untuk memproduksi bahan bakar roket padat. 

Para pakar yang melacak pergerakan kapal menilai muatan yang dibawa kemungkinan adalah sodium perchlorate, bahan yang diperlukan Iran untuk membuat propelan misil.

Isaac Kardon, peneliti senior di Carnegie Endowment for International Peace, mengatakan, pola perjalanan kapal tersebut mirip dengan pengiriman sebelumnya. 

“Melihat rekam jejaknya, penjelasan yang paling sederhana adalah bahwa mereka memuat komoditas yang sama yang telah mereka kirim bolak-balik selama lebih dari setahun terakhir,” ujarnya.

Ia juga menilai pemerintah China sebenarnya memiliki berbagai cara administratif untuk menahan keberangkatan kapal tersebut, tetapi tidak melakukannya.

“China sebenarnya bisa menahan kapal-kapal ini di pelabuhan, memberlakukan penundaan administratif, atau membuat penahanan bea cukai—banyak sekali alat birokrasi yang bisa digunakan—tetapi tidak dilakukan,” kata Kardon.

Menurutnya, keputusan itu cukup mencolok mengingat Amerika Serikat dan Iran sedang terlibat konfrontasi militer langsung. 

Hingga Sabtu dan Minggu, kedua kapal dilaporkan berada di Laut China Selatan. 

Kapal Barzin sempat berlabuh di lepas pantai Malaysia saat menuju pelabuhan Bandar Abbas di Iran, yang berjarak sekitar 4.000 mil. Kapal itu diperkirakan tiba pekan depan.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved