Makan Bergizi Gratis

Kemendikdasmen Bikin Survei MBG, Hasilnya Ada Penurunan Gangguan Konsentrasi Akibat Lapar

Kemendikdasmen melalui Pusat Penguatan Karakter melakukan survei tentang program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Editor: Juang Naibaho
HO/Tribun-medan.com
MENU MBG - Siswa terima menu MBG kelapa muda yang tidak dikupas untuk dua hari konsumsi di Kecamatan Palengaan, Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur, pada Kamis (12/2/2026). (Repro bidik layar) 

TRIBUN-MEDAN.com - Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melalui Pusat Penguatan Karakter melakukan survei tentang program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Hasil survei diklaim menunjukkan dampak positif dalam mengurangi gangguan konsentrasi akibat rasa lapar dan peningkatan fokus belajar siswa. 

Kemendikdasmen mempublikasikan, temuan ini diketahui dari hasil survei evaluasi yang terintegrasi dalam kerangka Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat (7KAIH), yang salah satunya membiasakan makan sehat dan bergizi. 

Evaluasi implementasi 7KAIH pada tahap baseline Mei–Juni 2025 hingga November–Desember 2025 yang melibatkan 1.203.309 responden siswa secara nasional. 

Hasilnya sekolah penerima MBG mencatatkan rata-rata penurunan gangguan belajar akibat lapar lebih besar 2,37 poin persentase dibandingkan sekolah yang belum menerima. 

Baca juga: ALASAN Kepala BGN Beri Insentif Rp 6 Juta per Hari untuk SPPG, Termasuk Hari Libur dan Bebas Pajak

Selain itu, di wilayah Indonesia Timur, penurunan gangguan belajar akibat lapar pada sekolah penerima MBG bahkan tercatat 14,85 poin persentase lebih besar dibandingkan sekolah yang belum melaksanakan MBG. 

Kepala Pusat Penguatan Karakter, Rusprita Putri Utami mengatakan, pemilihan responden dilakukan dengan pendekatan sampling sistematik untuk memastikan hasil evaluasi yang mewakili kondisi sebenarnya.

"Sekolah pelaksana MBG kami pilih secara acak, dengan memastikan memiliki data awal dan akhir yang memadai. Setelah itu, kami padankan dengan sekolah yang belum melaksanakan MBG dengan jenjang, wilayah, dan jumlah murid yang relatif sama sehingga kondisi awal data hampir identik dan dapat dibandingkan," kata Rusprita dikutip dari keterangan tertulis, Kamis (19/2/2026). 

“Pendekatan ini memperkuat validitas hasil sekaligus memastikan setiap rekomendasi kebijakan benar-benar berbasis data,” lanjutnya.

Menurut Ruspita, pencapaian ini mengisyaratkan bahwa intervensi gizi melalui MBG tidak hanya memenuhi kebutuhan dasar siswa, tetapi juga memperkuat kesiapan dalam mengikuti pembelajaran. 

Selain itu, dia bilang, data ini menjadi bukti kuat bahwa bagi anak-anak di wilayah Indonesia Timur, kehadiran program MBG adalah kunci penting untuk menghapus bayangan. 

“Memastikan mereka bisa belajar dengan fokus dan kesempatan yang sama dengan anak-anak di wilayah lainnya,” ujarnya. 

Baca juga: Heboh 1 Kelapa Muda Tak Dikupas Jadi Menu MBG untuk 2 Hari bagi Ribuan Siswa

Sementara itu, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu'ti menegaskan bahwa MBG merupakan bagian dari strategi pembangunan manusia jangka panjang. 

Dalam rangka menyiapkan generasi emas Indonesia 2045 di semua jenjang pendidikan. 

“Program MBG yang diluncurkan Presiden Prabowo Subianto merupakan investasi jangka panjang pembangunan manusia Indonesia. Kita sedang menyiapkan generasi 2045, yakni mereka yang hari ini masih berada di bangku PAUD, SD, SMP, SMA, bahkan yang masih dalam kandungan, agar tumbuh sehat, cerdas, dan kuat secara fisik maupun mental,” ujar Mu'ti. (*)

Artikel ini sudah tayang di Kompas.com

Baca berita TRIBUN MEDAN lainnya di Google News

Ikuti juga informasi lainnya di FacebookInstagram dan Twitter dan WA Channel

Berita viral lainnya di Tribun Medan 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved