Berita Viral

Sosok Asmiati Guru Honorer 22 Tahun di Luwu, Rela Nginap di Kelas Demi Bisa Mengajar

inilah sosok Asmiati, guru honorer 22 tahun di Luwu, Sulawesi Selatan yang rela tidur di kelas demi bisa mengajar

Tayang:
IST/Dok Asmiati
NGINAP DI SEKOLAH - Foto Asmiati Abdullah, seorang guru di sekolah terpencil di pegunungan Bastem Utara, Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan saat sedang memimpin upacara bendera di halaman sekolah dikirimkan kepada Tribun-Timur.com, Rabu (26/11/2025). Asmiati rela menginap di sekolah lantaran jarak tempat tinggal dan sekolah yang jauh demi bisa mengajar. 

TRIBUN-MEDAN.COM – Inilah sosok Asmiati, guru honorer 22 tahun di Luwu, Sulawesi Selatan yang rela menginap di kelas demi bisa mengajar.

Sosok Asmiati Abdullah belakangan ini menjadi sorotan setelah dirinya diketahui rela tidur di ruang kelas demi bisa mengajar.

Adapun Asmiati merupakan guru honorer K2 di salah satu sekolah di Kecamatan Suli.

Pengabdiannya sebagai guru dimulai dari 2004 hingga 2022.

Sebelum akhirnya ia diterima menjadi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK), setahun setelahnya.

Asmiati diangkat sebagai guru agama PPPK di SDN 666 Pangiu, Desa Karatuan, Kecamatan Bastem Utara.

Sementara di arah selatan, bergandengan dengan Kota Palopo dan bagian Baratnya beririsan dengan Kabupaten Tana Toraja dan Kabupaten Enrekang. 

Medan menuju sekolah Asmiati pun tak mulus seperti jalanan beraspal di ibukota Luwu, Belopa.

Jalanannya hanya bisa dilalui menggunakan mobil berpenggerak 4x4.

Merujuk pada mobil dengan sistem penggerak empat roda.

Baca juga: Bertambah Korban Banjir Bandang di Humbahas, 4 Orang Meninggal, 4 Masih Hilang

Ataukah menggunakan pilihan kedua, memanfaatkan kelincahan sepeda motor.

Sebab medan jalan yang harus dilalui berkontur bebatuan.

Apalagi, kata Asmiati, material jalanan tetap berlumpur walaupun tak diterpa hujan.

"Seperti batu papan," bebernya dengan lugas saat dikonfimasi Tribun-Timur.com, Rabu (26/11/2025) pagi sekitar pukul 07.30 Wita.

"Saya tidak berani (pakai motor), lebih pilih naik ojek," tambahnya menjelaskan kontur batu papan yang sangat licin ketika dilewati kendaraan.

Menurut Asmiati, tak ada pilihan selain menggunakan jasa ojek.

Ia rela merogoh kocek setidaknya Rp120 ribu, untuk perjalanan dari Palopo hingga Bastem Utara.

"Lebih baik korban materi dari pada korban jiwa," akunya.

Kondisi inilah yang membuat Asmiati memberanikan diri menginap di sekolah.

Memastikan jika setiap mata pelajaran dimulai, ia bisa tepat waktu memasuki ruang kelas.

Baca juga: Harga Pasar Properti Residential Naik, Pembeli Muda Minggir, Beralih dari Membeli ke Menyewa

Hitung-hitung sedikit menghemat pengeluaran dan menjamin keselamatannya dari bahaya longsor yang sewaktu-waktu bisa datang.

Asmiati pun menyulap satu ruangan kelas berukuran 6×6 meter, untuk dijadikan tempatnya beristirahat.

Ruangan kelas itu ia sekat dengan kain sederhana, digantung melintang, kemudian dipaku di masing-masing ujungnya.

"Alhamdulillah aman, karena aman ya betah di sini," ujarnya.

Karena berada di pedalaman, akses seperti toko kelontong maupun pasar pun terbatas.

Membuat Asmiati harus menyetok bahan makanan, untuk nantinya diolah.

"Iya, biasanya kalau saya mau naik ke Bastem Utara, semua keperlukan itu saya ikutkan selama masih bisa dibawa ojek, tapi kalau sayur sama ikan, alhamdulillah ada langganan yang datang dari Palopo dan Toraja," terangnya.

Kondisi inilah yang ia rasakan hampir 3 tahun setelah terangkat menjadi guru di SDN 666 Pangiu.

Tapi keterbatasan akses, dikalahkan dengan semangat mengajar Asmiati.

Meski ia mengajar siswa dari kelas 1 hingga kelas 6 di SDN 666 Pangiu.

Ia paham betul, 52 orang muridnya inilah yang nantinya akan menjadi generasi penerus bangsa.

Semangat Asmiati pun kembali terisi, ketika melihat tingkah tak terduga muridnya.

"Alhamdulillah, namanya anak-anak ya kadang kita kerepotan mengurus tapi  kadang juga mereka membuat tingkah lucu. Karena ada-ada saja kelakuan yang luar biasa," jelasnya dengan penuh semangat.

Suasana pegunungan yang asri, juga membuat Asmiati betah tinggal di daerah dengan luas wilayah sekitar 114,88 kilometer itu.

Ia menyukai ketenangan di pelosok Bastem Utara, hal yang sukar ia dapatkan di kota.

"Sukanya tinggal di pelosok seperti sekarang ini dapat melihat pemandangan yang sejuk dan segar setiap hari. Dan yang saya paling suka itu jauh dari hiruk pikuk kendaraan," tandas Asmiati sambil menggambarkan kondisi di sekitar sekolahnya itu.

Artikel ini telah tayang di TribunTimur

Baca berita TRIBUN MEDAN lainnya di Google News

Ikuti juga informasi lainnya di FacebookInstagram dan Twitter dan WA Channel

Berita viral lainnya di Tribun Medan

Sumber: Tribun Timur
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved