Berita Medan
Jaga Identitas Kota, Budayawan Sepakat Dorong Pemko Medan Bangun Museum Tamadun Melayu
Gagasan itu mengemuka dalam Focus Group Discussion (FGD) Permuseuman 2026 yang digelar Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Medan.
Penulis: Dedy Kurniawan | Editor: Ayu Prasandi
TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN- Kota Medan dinilai sudah saatnya memiliki Museum Tamadun Melayu sebagai pusat pelestarian sejarah dan budaya yang menjadi bagian penting dari identitas kota.
Gagasan itu mengemuka dalam Focus Group Discussion (FGD) Permuseuman 2026 yang digelar Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Medan.
Forum ini mempertemukan akademisi, budayawan, penggiat museum, dan pemerhati sejarah untuk membahas penguatan peran museum di tengah masyarakat.
Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Medan, OK Zulfani Anhar, mengatakan museum tidak lagi sekadar tempat menyimpan benda bersejarah.
Menurutnya, museum harus menjadi pusat edukasi, literasi budaya, dan ruang pewarisan nilai-nilai sejarah kepada generasi muda.
“Pelestarian sejarah dan budaya membutuhkan kolaborasi pemerintah, akademisi, budayawan, dan masyarakat agar museum benar-benar hidup dan dekat dengan publik,” katanya, Jumat (15/5/2026).
Dalam diskusi tersebut, sejarawan Prof. Dr. Ichwan Azhari menekankan pentingnya penataan koleksi museum berdasarkan periodesasi sejarah Kota Medan.
Menurut dia, koleksi museum perlu disusun secara kronologis agar masyarakat dapat memahami perjalanan Medan, mulai dari masa awal pertumbuhan kawasan, era Kesultanan Deli, masa kolonial, hingga perkembangan kota modern.
Penggiat museum Sri Hartini menambahkan, museum masa kini harus menjadi ruang interaktif yang edukatif, kreatif, dan inklusif.
“Museum harus menghadirkan pengalaman belajar yang menarik bagi generasi muda. Jika museum hidup, sejarah dan budaya akan tetap hidup di tengah masyarakat,” ujarnya.
Sementara itu, budayawan M. Muhar Omtatok menilai museum berperan penting dalam mendokumentasikan dan melestarikan berbagai objek pemajuan kebudayaan, baik berupa benda maupun warisan tak benda seperti bahasa, adat istiadat, seni, dan tradisi.
Ia menilai Kota Medan yang tumbuh dari akar tamadun Melayu membutuhkan museum yang mampu merawat memori kolektif masyarakat.
“Medan membutuhkan museum yang tidak hanya menyimpan artefak, tetapi juga menjaga ingatan sejarah dan kebudayaan masyarakatnya,” katanya.
Para narasumber dan peserta FGD sepakat bahwa Museum Tamadun Melayu dapat menjadi langkah konkret untuk menjaga warisan budaya Melayu yang selama ini menjadi salah satu fondasi perkembangan Kota Medan.
Selain sebagai pusat dokumentasi sejarah, museum tersebut juga diharapkan menjadi sarana pendidikan dan pembentukan karakter generasi muda melalui pemahaman terhadap budaya lokal.
(Dyk/Tribun-Medan.com)
Baca berita TRIBUN MEDAN lainnya di Google News
Ikuti juga informasi lainnya di Facebook, Instagram dan Twitter dan WA Channel
Berita viral lainnya di Tribun Medan
| Kesal Dituduh Curi Perangkap Ikan, Pria di Hamparan Perak Tega Bunuh Abang Ipar |
|
|---|
| Saat Tubuh Harus Berjuang, Tari Artika Pilih Menata Hidup Lewat Usaha Rumahan |
|
|---|
| Bangunan Rumah Mewah Tanpa PBG di Sei Agul Terus Berjalan, Dinas Perkimcikataru Medan Siapkan SP2 |
|
|---|
| Ridho Optimistis DPMPTSP Gaet Investor ke Medan, MPP Jadi Andalan Permudah Perizinan |
|
|---|
| Pedagang Tempe Dibegal di Hamparan Perak, Motor Miliknya Raib Digondol 4 Pelaku |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/Dinas-Pendidikan-dan-Budayawan-gelar-Focus-Group-Discussion-FGD-Permuseuman.jpg)