Berita Medan
Tak Harus ke Kota, Evi Wulandari Hadirkan Kuliner Modern Lewat Bikin Rindu Cafe
Saat banyak orang membangun usaha di pusat keramaian, Evi Wulandari justru melihat peluang di kampung halamannya sendiri.
Penulis: Husna Fadilla Tarigan | Editor: Ayu Prasandi
TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN- Di tengah kawasan kabupaten yang jauh dari hiruk-pikuk kota, seorang perempuan muda memilih mengambil langkah berani.
Saat banyak orang membangun usaha di pusat keramaian, Evi Wulandari justru melihat peluang di kampung halamannya sendiri.
Ia mendirikan Bikin Rindu Cafe, sebuah tempat makan modern bernuansa estetik di Jalan Binjai Kuala, Kabupaten Langkat.
Kehadiran cafe itu perlahan mengubah wajah kawasan yang sebelumnya sepi menjadi ramai dikunjungi warga setiap malam.
Bagi Evi, ide membangun usaha ini lahir dari pengamatan sederhana. Ia melihat di kampungnya belum banyak pilihan makanan modern maupun tempat nongkrong yang nyaman untuk anak muda dan keluarga.
“Awalnya karena ada kesempatan. Saya lihat di kampung belum ada makanan modern dan tempat nongkrong modern,” ujarnya.
Selain itu, perempuan kelahiran Menjahong, 2 Oktober 1997 ini memang memiliki kemampuan memasak. Dari keahlian itulah muncul ide untuk mulai berjualan.
“Awalnya saya suka buat makanan. Kemudian tumbuh ide, kenapa nggak dijual saja,” katanya.
Perjalanan Evi menjadi pengusaha tidak datang begitu saja. Sejak 2017, ia sempat mencoba berbagai pekerjaan, mulai dari admin hingga marketing. Namun, semakin lama ia merasakan kejenuhan bekerja untuk orang lain.
Di saat yang sama, ia melihat teman-temannya yang memiliki usaha sendiri tampak lebih leluasa mengatur hidup dan waktu. Dari sanalah keinginannya memiliki bisnis semakin besar.
“Awalnya lihat teman. Enak banget ya, bisa jalan-jalan kapan saja, tapi penghasilan jalan terus. Jadi mimpi punya usaha sendiri makin besar,” ungkapnya sambil tersenyum.
Keinginan itu terus ia simpan hingga akhirnya mulai diwujudkan sedikit demi sedikit.
Dari Gerobak Sederhana Hingga Jadi Cafe Modern
Sebelum memiliki bangunan cafe seperti sekarang, Evi memulai usahanya dari bawah. Ia berjualan menggunakan gerobak sederhana dan membuka angkringan kecil.
Dari usaha kecil itu, ia belajar banyak hal, melayani pelanggan, mengatur keuangan, hingga memahami selera pasar. Proses panjang itulah yang kemudian membawanya sampai pada impian membuka cafe modern.
“Cita-cita buka cafe sudah dari 2017. Prosesnya cukup lama bisa sampai di titik ini,” ujarnya.
Kini, Bikin Rindu Cafe berdiri lebih luas dengan konsep semi outdoor yang nyaman. Pencahayaan estetik dan suasana santai menjadi daya tarik tersendiri, terutama bagi anak muda yang ingin berkumpul atau membuat konten media sosial.
Ke depan, Evi juga berencana menghadirkan ruang indoor yang bisa dimanfaatkan sebagai tempat rapat bagi para pekerja pada pagi hari.
Banyak orang mungkin bertanya, mengapa Evi tidak membuka usaha di kota? Baginya, justru di kampung peluang itu lebih besar.
Menurutnya, jika membuka usaha di kota, persaingan sangat ketat karena banyak kompetitor. Sementara di daerah, peluang masih terbuka lebar.
“Kalau di kota pasti kalah saing. Banyak kompetitor. Saya buka di kampung begini, peluangnya lebih besar karena saingan sedikit,” jelasnya.
Ia juga melihat masyarakat di sekitar lokasi usahanya banyak bergerak di sektor perkebunan sawit dan memiliki daya beli. Namun, jika ingin menikmati makanan modern, mereka harus pergi ke Kota Binjai.
“Kalau mau makan enak harus ke Kota Binjai. Jadi saya buka cafe agar orang ke tempat kita untuk makan enak, nggak harus jauh-jauh ke kota,” katanya.
Baginya, penting menghadirkan tempat modern di kampung sendiri agar masyarakat punya pilihan hiburan dan kuliner tanpa harus keluar daerah.
“Ingin mengubah pola pikir masyarakat bahwa yang keren itu bukan hanya di kota. Di kampung juga ada,” tegas Evi.
Di tengah persaingan bisnis kuliner, Evi percaya satu hal penting yakni konsistensi rasa. Menurutnya, makanan enak akan selalu dicari pelanggan.
“Konsistensinya ya menjaga rasa. Kalau enak, orang akan cari terus jualan kita,” jelasnya.
Ia juga memahami karakter masyarakat desa yang menginginkan makanan enak dengan harga terjangkau. Karena itu, Bikin Rindu Cafe berusaha menghadirkan menu berkualitas dengan harga bersahabat.
Salah satu menu andalan di tempat itu adalah dimsum yang disebut memiliki rasa tak kalah dengan cafe di kota. Selain itu, steak yang awalnya diprediksi kurang diminati justru menjadi favorit pelanggan.
“Ternyata steak jadi salah satu menu yang paling disukai. Tapi cita rasanya kami sesuaikan dengan selera lokal,” ujarnya.
Meski berada di kampung, Evi tak menutup mata terhadap kekuatan digital. Ia aktif mempromosikan usahanya lewat TikTok dan Instagram.
Menurutnya, media sosial memberi dampak besar terhadap penjualan dan membuat cafe lebih dikenal luas.
“Usaha di kampung pun sosial media tetap menunjang penjualan. Saya promosi lewat TikTok dan Instagram. Impact-nya sangat besar,” katanya.
Di balik ramainya cafe saat ini, perjalanan Evi penuh tantangan. Saat awal membangun usaha, ia sering dihantui rasa takut.
Mulai dari omzet yang tak sesuai target hingga kerusakan fasilitas di luar dugaan, semuanya pernah ia rasakan.
Selain itu, mengelola sumber daya manusia juga menjadi tantangan tersendiri. Menurutnya, kualitas karyawan sangat menentukan perkembangan usaha.
“Membangun SDM pekerja, promosi, bagaimana cafe tetap ramai terus, itu tantangan besar. Jadi saya juga belajar marketing,” ujarnya.
Kini, Bikin Rindu Cafe telah memiliki 11 pekerja. Kehadiran usaha itu pun membuka lapangan kerja baru bagi warga sekitar, termasuk lulusan sekolah yang belum mendapat pekerjaan.
“Tamat sekolah mereka bisa kerja di sini,” katanya bangga.
Salah satu kebanggaan terbesar Evi adalah melihat perubahan besar di lokasi usahanya.
Dulu, tempat itu hanyalah lahan kosong yang sepi. Kini, hampir setiap malam dipenuhi pengunjung. Lampu-lampu cafe menyala, kendaraan berdatangan, dan suasana hidup terasa berbeda.
“Awalnya tanah kosong, sekarang tiap malam sudah ramai. Banyak bersyukur, ini rezeki yang sangat besar bagi saya,” ucapnya haru.
Tak hanya menambah penghasilan keluarga, usaha itu juga memberinya kebanggaan karena mampu membuka peluang kerja bagi orang lain.
“Awalnya saya terima gaji suami saja. Sekarang bukan hanya menambah penghasilan, tapi bisa membuka peluang kerja juga,” katanya.
Sebagai perempuan pengusaha, Evi menilai kunci utama menjalankan usaha adalah komitmen dan disiplin, terutama dalam mengatur keuangan.
Ia memisahkan uang usaha dengan kebutuhan pribadi agar bisnis bisa berkembang sehat.
“Keuangan, pengeluaran dan pemasukan harus dijaga. Tidak boleh disatukan dengan keuangan lainnya,” ujarnya.
Ke depan, ia ingin terus mengembangkan Bikin Rindu Cafe dengan menu-menu yang lebih menarik dan sistem manajemen yang semakin profesional.
Untuk perempuan muda yang ingin memulai usaha, Evi punya pesan sederhana namun kuat.
“Jangan pernah takut gagal. Karena gagal itu langkah awal kita menuju kesuksesan. Jangan pernah takut untuk memulai,” pungkasnya.
(cr26/tribun-medan.com)
Baca berita TRIBUN MEDAN lainnya di Google News
Ikuti juga informasi lainnya di Facebook, Instagram dan Twitter dan WA Channel
Berita viral lainnya di Tribun Medan
| Pemko Medan dan Pomparan Raja Silahisabungan Lestarikan Budaya di Era Teknologi |
|
|---|
| Baru Bebas, Pengedar Sabu Kembali Ditangkap, Polisi Sita 7,04 Gram Sabu |
|
|---|
| Pemko Medan Rangkul Aceh, Rico Waas Serahkan Bantuan Bencana Rp 50 Miliar |
|
|---|
| Sopir Ekspedisi dari Jakarta Diduga Dirampok di Medan, Disekap hingga Truk Disandera |
|
|---|
| Kemenkop Ajak Mahasiswa di Medan jadi Motor Sukseskan Program Pemerintah |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/PENGUSAHA-Evi-Wulandari-pemilik-Bikin-Rindu-Cafe.jpg)