Medan Terkini
Sopir Ekspedisi asal Jakarta Diduga Jadi Korban Perampokan di Medan, Disekap hingga Truk Disandera
Seorang sopir truk ekspedisi asal Jakarta, bernama Moga Imanuel Sirait, beserta kernetnya bernama Dani, diduga menjadi korban perampokan
Penulis: Fredy Santoso | Editor: Randy P.F Hutagaol
TRIBUN-MEDAN.com,MEDAN - Seorang sopir truk ekspedisi asal Jakarta, bernama Moga Imanuel Sirait, beserta kernetnya bernama Dani, diduga menjadi korban perampokan di Medan Johor.
Mereka disekap di dalam boks belakang hingga nyaris tewas, dianiaya, dan truk yang dikemudikan disandera.
Akibat peristiwa ini, Moga, sebagai sopir sempat mengalami sejumlah luka akibat digebuki orang tak dikenal.
Moga Imanuel Sirait mengatakan, penyekapan dan penganiayaan pertama kali terjadi di halaman Masjid Nurul Ikhwan, Jalan Karya Kasih, Kecamatan Medan Johor.
Lokasi kedua diduga terjadi tak jauh dan berada di pangkalan udara (Lanud) Soewondo Medan.
Disini ia juga disekap di sebuah lokasi, dan dianiaya kembali.
Bahkan, ia juga diduga diancam akan dibunuh, jasadnya tak akan ditemukan.
Bukan cuma warga sipil, tapi ada juga sejumlah orang diduga prajurit TNI dari Angkatan Udara (AU).
"Jadi, sampai di Paskhas, saya diturunkan, dan di sono saya babak belur. Dipukul saya, dipukul. Ada juga tentara yang mukul saya, tapi nggak tahu itu tentara itu siapa namanya,"kata Moga Imanuel Sirait, Kamis (30/4/2026).
"Nah, sesudah itu dipukul, dipaksa, saya katanya kamu enggak bakalan selamat, enggak bakalan diketahui orang, keluarga kamu. Kamu pasti mati,"sambungnya.
Akibat peristiwa ini, bos Moga bekerja bernama Julham Efendi Panjaitan membuat laporan ke Polrestabes Medan, dengan nomor Polisi LP/B/1649/IV/2026, tanggal 24 April.
Mereka mengalami kerugian materi yang diperkirakan mencapai Rp 1,6 Miliar karena truk yang biasa dipakai pengiriman ekspedisi masih disandera.
Sedangkan Moga, dibebaskan dalam keadaan luka-luka.
"Masih. Intinya, mobil masih ditahan di Paskhas."
Kronologi Sopir Ekspedisi Diduga Dirampok
Moga Imanuel mengatakan, dugaan penganiayaan, penyekapan, hingga perampokan truk bermula ketika ia berada di Kota Medan dihubungi oleh seseorang bernama Gilang, Rabu (22/4/2026).
Gilang yang dikenal dari temannya meminta Moga membongkar muat minyak goreng, di wilayah Kecamatan Medan Johor.
Kemudian, Moga disuruh mencetak surat jalan dalam bentuk PDF, yang dikirim lewat WhatsApp.
"Saya disuruh jalan sama si Gilang, dari Tanjung Morawa menuju ke muat barang minyak makan di Johor. Jadi, saya disuruh si Gilang untuk ke fotokopi surat jalan, warna dua lembar,"ungkapnya.
Setelah mencetak surat jalan, Moga mendapat telepon melalui video call.
Namun telepon hanya singkat, langsung dimatikan.
Tak lama kemudian, Moga kembali mendapat telepon dari seseorang bernama Willy, yang mendapat nomor dari Gilang.
Ia juga dikirim kordinat lokasi, dan disuruh mengemudikan truk ke Medan Johor, untuk memuat minyak seperti di awal.
"Jadi saya jalan ke, ke daerah ke arah Johor atas perintah si Willy, saya jalan ke sana."
Belum sampai di titik yang ditentukan, Moga kembali mendapat telepon dari Willy, diminta berhenti di depan RS Mitra Sejati Medan, Jalan AH Nasution.
Alasannya karena ada sales yang akan datang menemui Moga.
"Dibilang dia sama saya, bang, berhenti dulu, itu ada sales itu mau datang, ke tempat saya, tahan dulu di situ, bang."
Karena khawatir jika berhenti di pinggir jalan, Moga melaju ke arah Jalan Karya Jaya, ke arah yang dikirim.
Tapi karena lapar, mereka berhenti untuk makan siang sebentar.
Tak lama kemudian, Willy kembali menghubungi dan bilang sales sudah di depan truk, dan minta terus diikuti daek belakang.
Willy berpesan, kalau ditanya apakah di dalam truk ada barang, harus dijawab ada, walaupun sebenarnya belum ada.
Namun, apabila ada yang meminta boks kontainer dibuka, tidak diperbolehkan, dan harus menunggu perintah Willy, dan Gilang.
Setelah beberapa menit melaju, sampailah mereka ke parkiran masjid.
Kemudian, tak lama kemudian sejumlah orang mendatangi Moga, dan kernetnya.
Mereka menanyakan apakah boks kontainer berisikan barang, dan Moga menjawab iya.
Namun ketika sejumlah orang meminta boks dibuka, ia menolak.
"sesudah itu, datanglah orang-orang sama saya. Beberapa orang itu ada lima atau enam orang, atau tujuh orang, enggak tahu,"ungkapnya.
"Saya enggak mau buka box, gara-gara perintah si Willy sama si Gilang ini, sama admin katanya,"sambungnya.
Sempat terjadi perdebatan, dan sejumlah orang yang datang bersikeras minta kontainer dibuka.
Bahkan, mereka menyatakan, sambil menunjukkan sudah mentransfer uang senilai ratusan juta ke Willy, maupun ke Gilang.
Akan tetapi Moga tetap menolak, karena belum mendapatkan arahan lagi dari Willy dan Gilang.
"Jadi sampai sore, sampai sore gitu, bang, gimana, bang. Ini sudah kita transfer ini, Rp230 juta," katanya.
Ketika Moga menanyakan kepada Willy maupun Gilang, keduanya tetap tidak mengizinkan boks kosong dibuka.
Sampai akhirnya beberapa orang yang datang emosi, merebut paksa kunci truk, dan membukanya.
Mereka makin emosi begitu melihat kontainer ternyata kosong melompong.
Alhasil, Moga dan kernetnya dimasukkan ke dalam boks, dan dikurung selama 30 menit.
Karena panik, Moga menghubungi rekannya di Kecamatan Tanjung Morawa.
Sekitar 9 orang rekannya datang berusaha menyelamatkan, hingga terlibat adu jotos.
Sejumlah orang tak dikenal itu akhirnya kalah, dan Moga selamat.
"Ada itu setengah jam itu disekap. Sebelum dikurung, saya sempat menelepon memang teman-teman saya yang dari garasi,"katanya.
Tak lama kemudian, orang tak dikenal itu menyerah dan meminta permasalahan diselesaikan di area pangkalan Udara Militer tak jauh dari lokasi.
Mereka menolak jika masalah diselesaikan ke Polres, maupun Polres.
Alhasil, Moga dan kernet ikut ke dalam mobil pribadi, dan truk dibawa orang tak dikenal ke
area pangkalan Udara Militer Lanud Soewondo Medan.
"Nah, di situ digiringlah ke Paskhas. Bukan saya yang bawa mobilnya, Bang. Orang lain yang bawa mobilnya, saya disekap di mobil pribadi."
Sesampainya di sekitar pangkalan udara (Lanud) Soewondo Medan, Moga kembali dianiaya.
Ia baru bebas ketika bos nya datang untuk menemui para terduga pelaku.
Alhasil ia dan kernetnya dibebaskan dan selamat, meski luka-luka.
Sedangkan mobil, masih ditahan hingga saat ini.
"Dikawal seorang tentara di depan, itu tentara yang mengawal mobil ini."
Kuasa hukum korban, Leo Situmorang mengatakan pihaknya telah bertemu dengan terduga pelaku penyekapan, dan penganiayaan.
Namun hingga kini, truk ekspedisi belum dibebaskan.
Mereka juga telah melaporkan kasus ini ke Polrestabes Medan.
Leo mengingatkan agar pelaku berhati-hati karena bisa dipenjarakan.
"Untuk yang melakukan saya ingatkan hati-hati. Kamu salah langkah. Bagus sekarang mediasi.
Ingat, laporan sudah terbit."
(Cr25/Tribun-medan.com)
Baca berita TRIBUN MEDAN lainnya di Google News
Ikuti juga informasi lainnya di Facebook, Instagram dan Twitter dan WA Channel
Berita viral lainnya di Tribun Medan
| Anak 9 Tahun di Sunggal Dicabuli, Pelaku Ikat Kaki Korban saat Beraksi |
|
|---|
| Pria Pengangguran Ditangkap Warga Sunggal Deli Serdang seusai Cabuli Bocah SD |
|
|---|
| Langgar Fungsi Trotoar dan Picu Kemacetan, Gerai JCO Donuts & Coffee di Adam Malik Segera Ditindak |
|
|---|
| Tampang Eks Pejabat Bank Pelat Merah Andi Hakim yang Gelapkan Rp 28 Miliar Uang Jemaat Aek Nabara |
|
|---|
| Paskah Oikumene Pemko Medan, Wali Kota Rico Waas Tekankan Kasih Sayang dan Perlindungan Antarwarga |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/Moga-Imanuel-Sirait-sopir-truk-ekspedisi-beserta-kernetnya-bernama-Dani.jpg)