Medan Terkini
Sejumlah Pelajar di Medan Bertaruh Nyawa Seberangi Sungai Setinggi Belasan Meter lewat Pipa
Sejumlah pelajar dari beberapa sekolah yang berada di kawasan Kecamatan Medan Maimun, Kota Medan.
Penulis: Muhammad Nasrul | Editor: Randy P.F Hutagaol
TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Sejumlah pelajar dari beberapa sekolah yang berada di kawasan Kecamatan Medan Maimun, Kota Medan, memilih bertaruh nyawa saat pergi maupun pulang sekolah. Hal ini, dikarenakan para pelajar terutama di tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) ini menyebrangi sungai perbatasan Kecamatan Medan Polonia dan Kecamatan Medan Maimun.
Kondisi ini, disebabkan karena fasiltas jembatan penyeberangan bekas perlintasan kereta api di kawasan tersebut roboh sejak tahun 2024 lalu. Meskipun sudah tak lagi ada jembatan yang layak, para pelajar ini tetap nekat melintasi sungai hanya dengan berpijak pada pipa air PDAM.
Kabar banyaknya pelajar yang masih melintasi pipa air untuk akses pergi dan pulang sekolah ini, sempat kembali viral di sejumlah Media Sosial (Medsos). Dalam video viral itu, tampan sejumlah pelajar melintasi aliran Sungai Deli saat akan berangkat sekolah.
Bak daerah pedalaman, pemandangan mitis ini tentunya tak seharusnya terjadi di salah satu jantung Kota Medan yang notabene sebagai salah satu kota terbesar dan maju di Indonesia. Perjuangan para pelajar di beberapa sekolah yang tersebar di Kecamatan Medan Maimun untuk menempuh pendidikan, sudah selayaknya tak harus bertaruh nyawa.
Saat dicek langsung ke lokasi, amatan www.tribun-medan.com, meskipun hanya berpijak ke pipa dengan diameter 30 CM hingga 40 CM, tampak para pelajar melintasi pipa setinggi belasan meter dari permukaan sungai tanpa ragu. Informasi yang didapat, kebanyakan para pelajar melintasi pipa air sepanjang sekitar 50 meter hingga 60 meter itu saat pulang sekolah.
Salah satu pelajar yang ditemui di lokasi, Zaki, mengaku cukup sering melintasi pipa air ini untuk pulang sekolah. Ketika ditanya perasaannya saat melintas, ia mengaku saat pertama semoat gugup namun kini sudah terbiasa.
"Pertama takut makanya merangkak, tapi sekarang sudah biasa. Kalau pulang sekolah aja lewat sini," ujar Zaki.
Berdasarkan penuturan Lestari selaku Kepala Lingkungan (Kepling) 21 Kelurahan Kampung Baru, Kecamatan Medan Maimun, selama ini memang masih cukup banyak pelajar yang melintasi pipa tersebut untuk akses ke sekolah. Padahal, pihak pemerintah dan warga setempat sudah melarang para plajar pelajar itu melintas di pipa demi keselamatannya.
"Enggak semuanya (pelajar) memang lewat sini. Beberapa murid yang nekat saja melintasi jalan ini. Mungkin ya, karena nggak ada ongkos atau gimana. Atau mereka dikasih ongkos untuk angkot tapi tidak dimanfaatkan," ujar Lestari, Rabu (15/4/2026).
Dikatakannya, para pelajar yang melintasi jembatan ini kebanyakan merupakan pelajar yang berasal dari Kecamatan Medan Polonia. Diketahui, akses jembatan yang tubuh itu sebelumnya memang menghubungkan tiga wilayah yaitu Kecamatan Medan Maimun, Kecamatan Medan Polonia, dan Kecamatan Medan Johor.
"Biasanya orang yang dari kecamatan Polonia itu, saya nggak tahu apakah orang tuanya tahu mereka menyebrang. Kita bersama warga juga sudah beberapa kali menegur supaya enggak lewat dari sini, tapi mungkin karena jaraknya yang lebih dekat jadi mereka tetap nekat melintas," ungkapnya.
Diturunkan Lestari, sebelumya di kawasan tersebut memang terdapat akses jembatan penyeberangan yang sebelumnya merupakan jalur lintasan rel kereta api. Setelah perlintasan sejak jaman Belanda itu tak lagi dimanfaatkan untuk kereta api, sehingga dimanfaatkan untuk jembatan penyeberangan warga sekitar.
"Awalnya perlintasan kereta. Udah lama, udah lama banget. Dari jaman Belanda kalau nggak salah itu ya. Cuma pernah jembatan ini miring, terus ada yang memperbaiki jalannya itu, udah bagus. Dibangun pakai papan untuk bawahnya," katanya.
Di salah satu titik di bibir bekas jembatan, tampak adanya prasasti yang bertuliskan ucapan terimakasih masyarakat Gang Perbatasan setelah perbaikan jembatan dari dermawan pada tahun 2023 lalu. Jika ditarik ke belakang, dimana jembatan tersebut kembali ambruk hingga akhirnya tak lagi bisa dipergunakan hanya bertahan sekitar satu tahun.
"Bapak Bobby waktu jadi Walikota datang kemari, meninjau lokasi di sini. Setelah ditinjau, beberapa bulan kemudian baru roboh seluruhnya," ungkapnya.
| Ribuan Peminat Berebut Kursi Terbatas, Ini Prodi Paling Ketat di USU 2026 |
|
|---|
| Polda Sumut Selidiki Kasus Polisi yang Diduga Todongkan Senpi di Tempat Potong Rambut |
|
|---|
| Hut ke-78 Pemprov Sumut, Gubsu Bobby Minta DPRD Buatkan Perda soal Larangan Vape di Tempat Umum |
|
|---|
| Video Gubsu Bobby Nasution Marahi Camat di Tapteng Viral di Sosmed, Begini Kronologi Sebenarnya |
|
|---|
| Perkara Korupsi yang Jerat Dua Kepala Dinas di Pemko Medan Digelar Kamis Mendatang |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/Sejumlah-pelajar-melintas-di-pipa-PDAM-yang-berada-di-atas-aliran-Sungai-Deli-1.jpg)