Sosok

Bangkit dari Keterpurukan, Laura Sinaga Kenalkan Tari Simalungun hingga Internasional

Hidup memang tak selalu berjalan sesuai rencana. Ada kalanya, seseorang harus melewati luka yang tak pernah dibayangkan sebelumnya.

|
TRIBUN MEDAN/ISTIMEWA
PENDIRI SANGGAR TARI - Laura Tias Avionita Sinaga, Pendiri Sanggar Simalungun Home Dancer. Melalui sanggar yang ia dirikan, Simalungun Home Dancer (SIHODA), Laura tak hanya mengajarkan teknik menari, tetapi juga menanamkan nilai budaya yang melekat dalam setiap gerakan.  

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN – Hidup memang tak selalu berjalan sesuai rencana. Ada kalanya, seseorang harus melewati luka yang tak pernah dibayangkan sebelumnya. Begitu pula yang dialami Laura Tias Avionita Sinaga.

Rangkaian peristiwa tragis pernah membawanya jatuh hingga ke titik terendah dalam hidup. Namun dari keterpurukan itu, Laura perlahan belajar bangkit, menata ulang hidupnya, dan menemukan kembali makna dari setiap langkah yang tersisa.

Kini, perempuan yang akrab disapa Kak Vio itu berdiri dengan caranya sendiri membuktikan bahwa keterbatasan bukanlah akhir dari segalanya.

Ia justru menunjukkan bahwa mimpi tetap bisa tumbuh, bahkan ketika tubuh tak lagi sekuat dulu.

Lahir di Pematangsiantar, 27 Januari 1997, Laura telah mengenal dunia tari sejak usia sangat dini. Kecintaannya pada seni sudah tumbuh sejak ia berusia sekitar 4,5 tahun. Ia rutin mengikuti sanggar-sanggar kecil di sekitar rumahnya, bahkan kerap tampil di berbagai kesempatan sejak kecil.

“Aku dari kecil memang sudah suka nari. Ikut sanggar di dekat rumah, sering tampil juga. Jadi memang dunia tari itu sudah jadi bagian hidupku,” ujarnya.

Hiasan wajah dan gemerlap baju adat, sudah membawa Laura kecil dari satu panggung ke panggung lain. Memupuk kecintaannya pada dunia tari.

Kecintaan itu kemudian membawanya melanjutkan pendidikan ke Universitas Negeri Medan (Unimed) jurusan Pendidikan Seni Tari. Namun, perjalanan hidupnya berubah drastis pada 2017.

Tak pernah ada yang benar-benar siap menghadapi badai hidup. Tahun 2017 menjadi fase paling kelam dalam perjalanan Laura.

Di usianya yang menginjak 20 tahun, ia harus menghadapi rentetan peristiwa berat. Menikah di usia 19 tahun, Laura justru dihadapkan pada kenyataan pahit berupa kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Luka itu semakin dalam ketika ia juga mengalami keguguran.

Tekanan yang datang bertubi-tubi membuat kondisi mentalnya runtuh. Dalam situasi tersebut, ia sempat mencoba mengakhiri hidupnya.

Dampaknya pun sangat serius terhadap kondisi fisiknya. Pinggulnya mengalami pergeseran, tulang belakang berubah posisi, dan kaki kirinya patah hingga menyebabkan kelumpuhan. Pada masa itu, Laura bahkan tidak mampu duduk dan hanya bisa terbaring di tempat tidur.

“Waktu itu benar-benar tidak bisa apa-apa. Duduk saja tidak bisa, apalagi berdiri. Semua dimulai dari nol, dari ngesot sampai akhirnya bisa duduk di kursi roda,” kenangnya.

Meski begitu, Laura menyadari bahwa dirinya masih diberi kesempatan hidup.

“Itulah baiknya Allah, masih ngasih kesempatan. Memang yang kulakukan itu tidak benar, tetapi inilah, aku dikasih kesempatan hidup kedua sama Allah untuk memperbaiki semuanya,” ucap Laura.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved