Sketsa

Orang Gila di Sekitar Kita

Sepeninggal Kak Lela, lagu tak lanjut. Berawal dari Lek Tuman, malah pembahasan perihal orang gila pula yang ganti menjujut.

|
Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: Randy P.F Hutagaol
TRIBUN MEDAN/ISTIMEWA
Illustrasion Generated by AI. 

Kasihan Qais bagaikan orang gila

setiap hari menyebut nama Laila...

Laila... Oh...., Laila...

 

“Ah, apa, lah, kau panggil-panggil aku, Marulam! Marah pulak nanti binikmu!”

Kak Lela menyergah Marulam Disko yang sedang bernyanyi bergitar-gitar dengan Jontra Polta dan Riki Rikardo. Dia belum lama tiba, mengantarkan pesanan daster Ocik Nensi yang minta dikecilkan di bagian pinggang.

“Perasaan kali. Lah, kakak ni. Kami nyanyi, lho, Kak. Bukan manggil Kakak.”

“Jhonny Iskandar ni, Kak Lel. Masak gak pernah dengar?” tanya Jontra Polta yang segera disahut Riki Rikardo.

“Harusnya pernah, lah, Bang Jon. Kan, generasi Kak Lela dia ni.”

“Apa maksud kau, Ki? Kau mau bilang aku udah tua, gitu?”

Riki Rikardo gelagapan. “Bukan gitu maksud awak, Kak. Ini, kan, lagu lama. ‘Qais dan Laila’ judulnya kalok tak silap awak. Kayaknya, pasti, lah, kakak pernah dengar. Apalagi kudengar kakak penggemar dangdut.”

Alah, banyak kali cakap kau!” kata Kak Lela tersungut-sungut, lalu melangkah pergi dengan langkah disentak-sentakkan.

Sepeninggal Kak Lela, lagu tak lanjut. Berawal dari Lek Tuman, malah pembahasan perihal orang gila pula yang ganti menjujut. Namun bukan tentang Qais yang jadi majenun, yang jadi gila, lantaran cintanya pada Laila terhalang restu orang tua. Bukan perkara miskin dan kaya. Lek Tuman yang sejak tadi bermain Ludo dengan Leman Dogol dan Tamsil Kalimaya, sekonyong-konyong mengutip kalimat Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin.

“Teringatnya betulnya yang dibilang menteri itu? Ada 28 juta orang kenak gangguan mental. Kalok betul ngeri jugak, Jang.”

“Gangguan mental, kan, belum tentu gilak, Pak Kep,” sebut Riki Rikardo.

“Persisnya masih calon-calon gilak.”

“Artinya ada 28 juta orang potensial jadi gila, Pak Kep?” tanya Marulam.

“Kurang lebih kek gitu, lah.”

“Dua puluh delapan juta sekitar sepuluh persen dari total penduduk Indonesia. Wah, besar jugak tu,” sahut Riki Rikardo.

“Berapa rupanya penduduk Indonesia?” tanya Jontra Polta pula.

Marulam menyeletuk setel yakin, “135 juta.”

“Hahahaha... Itu hitungan Rhoma Irama. Udah setengah abad lewat.”

“Eh, jadi berapa sekarang, Ki?”

“280-an juta, Bang.”

Makjang, banyak juga, ya, naiknya. Ada 145 jutaan. Berarti kalok 50 tahun, setahunnya rata-rata 2,9 juta nambahnya.”

“Paten juga kali-kalimu, Jon” ujar Tamsil Kalimaya, yang segera ditimpali Ocik Nensi dari balik steling.

Kalok kali-kali memang paten dia, Pak Tamsil. Bagi-bagi baru payah. Entah udah berapa banyak mobil tejual dia, berapa banyak kereta, tanah, rumah. Kucing dan burung pun dilewatkannya. Cumak, ya, anginnya yang lewat di sini. Tak tersiram sikit awak. Kopi pun masih terutang.”

Gelak tawa pecah seketika. Jontra Polta kuyup sepenuhnya. Sama sekali dia tak melawan ucapan Ocik Nensi. Pelan-pelan dia beringsut lebih ke sudut. Namun meski jadi lebih banyak diam, sesekali dia masih menyela percakapan. Terutama menyangkut potensi 28 juta penduduk Indonesia jadi gila tadi, yang meski telah sempat melenceng ke perkara rumah tangga artis, film India, festival dangdut dan sepak bola, ternyata terus saja kembali dan kembali lagi.

“Menurut kelen, kira-kira apa, lah, yang jadi sebab gangguan mental massal ini?” tanya Marulam.

Kalok ditanya sebab, ya, banyak kali, lah. Disusun dari Medan sampai Jakarta pun masih belum cukup. Mau itu memanjang sampai ke rumah Ridwan Kamil.”

Leman Dogol akhirnya ikut nimbrung. Sejak menuntaskan duel ludo versus Lek Tuman dan Tamsil Kalimaya, dia mengambil posisi menyendiri, berbicara entah dengan siapa lewat telepon selularnya.

“Contohnya.”

“Em-Be-Ge.”

“Kenapa Em-Be-Ge?”

“Tahu kelen pemerintah mau angkat pegawe Es-Pe-Pe-Ge jadi A-Es-En?”

“Kan, gak semuanya, Man,” sergah Tamsil dan Lek Tuman hampir bersamaan.

Kalok tak silap kepalanya. Terus ahli gizi, sama tukang-tukang hitung uangnya.”

“Terus, di mana salahnya, Bang?” tanya Riki.

“Eh, kau tanya pulak di mana salahnya? Cemananya kau jadi mahasiswa? Tak perlu kali-kali Si Jon untuk ngitung udah berapa lama orang-orang ini ngerjain Em-Be-Ge dan cemana pulak hasilnya.”

“Terus?”

“Terus kenapa orang tu yang diangkat jadi A-Es-En?”

“Kan cumak pake perjanjian kerja, Man,” kata Tamsil dan Lek Tuman lagi. Hampir-hampir bersamaan lagi.

“Oke, bilanglah kek gitu. Jadi kenapa bukan guru-guru honorer yang diangkat? Orang-orang Es-Pe-Pe-Ge tu cumak ngasih Em-Be-Ge ke sekolah-kesekolah. Itu pun bukan orang tu yang masak. Guru-guru honorer? Bertahun-tahun mereka ngajar. Kadang pun ada yang gajinya tak cukup untuk beli sempak.”

“Betul juga cakap kau, Man,” ucap Jontra Polta.

“Ya, betul, kali, lah, Mak. Makanya makin banyak orang gilak dan calon-calon orang gilak sekarang ini. Makin-makin gilak pulaknya kebijakan pemerintah kelen. Ada kemarin yang dengar cakap presiden?”

Marulam Disko menyahut sembari mencomot godok-godok pisang di atas meja. “Cakap yang mana, Mak?”

“Soal McDonald, ya, Bang?” sambar Riki Rikardo.

“Iya, dibandingkan kawan itu pulak Em-Be-Ge sama McDonald. Ya, nggak apple to apple, lah. Yang satu harus beli, cash, gak boleh ngutang. Yang satu lagi bagi-bagi. Itu pun baginya maksa. Anak sekolah libur pun tetap dibagi.”

Gilak, ya.”

Mo tau kelen yang lebih gilak?”

“Kepala Be-Ge-En bilang gini, kalok ada anak hasil pernikahan dini, hasil pernikahan siri, yang putus sekolah, akan dapat Em-Be-Ge.”

“Salahnya di mana, Man?” hanya Lek Tuman yang bertanya kali ini. Tamsil Kalimaya diam-diam telah melipir pergi.

“Begini, Pak Kep. Cak Pak Kep pikirkan secara logika. Kalok, lah, memang ada anak dari pernikahan dini dan pernikahan siri yang putus sekolah, kenapa mereka nggak lanjut disekolahkan? Kok, Em-Be-Ge-nya yang justru duluan dipentingkan?”

Gilak memang, ya,” kata Jontra Polta seraya mengangguk-angguk. “Masih ada yang lebih gilak, Dam?”

“Banyak! Banyak kali pun. Tapi malas, lah, kucakapkan. Awak belum mau ikut jadi gilak.

Ocik Nensi yang sedang memasak Mi Kuah Kari bersenandung dari balik steling.

 

Banyak orang sudah gila

Kalau pikirkan dunia, gila gila…

 

Riki Rikardo bertepuk tangan. “Seddep! Lagu Wika Salim, Cik?”

“Wika Salim kepala kau!” (t agus khaidir)

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved