Padukan Tokoh Mitologi, Komedi Satir Pelecehan Seksual dalam Teater Sidang  

Sutradara pertunjukan, Lidia, menjelaskan bahwa kisah dalam ‘Sidang’ berangkat dari cerita imajinatif dengan memadukan tokoh-tokoh mitologi.

Tayang:
Penulis: Husna Fadilla Tarigan | Editor: Eti Wahyuni
TRIBUN MEDAN/M Daniel Effendi Siregar
PERTUNJUKAN TEATER- Pemain Teater O USU menampilkan adegan dalam pertunjukan Sidang yang mengangkat isu pelecehan seksual melalui pendekatan komedi satir di Fakultas Ilmu Budaya, Selasa (19/5/2026). Pementasan tersebut menghadirkan refleksi terhadap persoalan sosial yang masih kerap terjadi dan sering dipandang sebelah mata di masyarakat. 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Teater O Universitas Sumatera Utara (USU) menghadirkan pertunjukan teater berjudul ‘Sidang’ yang mengangkat isu pelecehan seksual melalui balutan komedi satir, Selasa (19/5/2026).

Pementasan ini mencoba mengajak penonton melihat persoalan serius yang kerap dianggap sepele dalam kehidupan sehari-hari.

Sutradara pertunjukan, Lidia, menjelaskan bahwa kisah dalam ‘Sidang’ berangkat dari cerita imajinatif dengan memadukan tokoh-tokoh mitologi.

Ia menjelaskan, cerita bermula dari Dewa Zeus yang tengah menghadapi kekeringan di Olympus. Di tengah kondisi tersebut, Loki datang menawarkan solusi berupa pencarian sumber air dari wilayah Nordik.

“Awalnya Zeus ingin menjadi pahlawan dengan mengambil air di Nordik. Tetapi ketika bertemu Freya yang menjaga sumur, niatnya berubah,” ujar Lidia.

Dalam cerita tersebut, Zeus justru melakukan tindakan yang membuat Freya tidak nyaman hingga memunculkan konflik utama dalam pertunjukan.

Baca juga: Pementasan Teater KOPI SUHI FKIP UMSU: Emak-Emak dan Bisikan Kuasa di Ruang Tersembunyi

Menurut Lidia, isu pelecehan sengaja diangkat karena masih menjadi persoalan yang sering terjadi di masyarakat. Bahkan, tidak sedikit tindakan tersebut dianggap sebagai candaan atau hal biasa.

“Kami membuatnya dengan nuansa komedi dan satir. Hal yang sebenarnya serius, kadang dianggap orang bercanda. Misalnya ketika perempuan diam dianggap setuju, tetapi saat melawan justru dianggap kasar,” katanya.

Melalui pendekatan komedi, Teater O USU ingin menyampaikan kritik sosial terhadap cara pandang masyarakat mengenai pelecehan dan posisi korban.

Lidia juga menyampaikan apresiasi kepada tim produksi yang telah membantu jalannya pertunjukan hingga dapat terlaksana.

Pementasan ‘Sidang’ diperankan oleh Iwan, Lunel, Akib, Lili, Raul, Melina, Lyla, dan Maharani.

Ada pun naskah pertunjukan ditulis oleh Zahra dan Lidia, dengan Lidia bertindak sebagai sutradara. Posisi asisten sutradara diisi Setara dan Lili, sementara pimpinan produksi dipegang oleh Iwan.

Tim artistik terdiri dari Iwan, Rani, Dewi, dan Yay. Bagian musik ditangani Noel dan tim, sedangkan kostum dikerjakan Biel, Brica, dan Febri. Tata pencahayaan ditangani Zahra, Icha, dan Rahmi, serta desain dikerjakan Yay dan Regina.

Pertunjukan Sidang menjadi salah satu upaya Teater O USU untuk menghadirkan karya yang tidak hanya menghibur, tetapi juga mendorong penonton merefleksikan persoalan sosial yang terjadi di sekitar mereka.

 

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved