Pementasan Teater KOPI SUHI FKIP UMSU: Emak-Emak dan Bisikan Kuasa di Ruang Tersembunyi
Vina Ayu Kartini merasakan betul penerimaan penonton terhadap pementasan ini.
Oleh: Dina Eliyandra Putri, Mahasiswa Ilmu Komunikasi FISIP UMSU
Di Balai Budaya Medan, panggung menjadi sebuah cawan gelap yang diselimuti isu-isu busuk negeri: korupsi dan ketimpangan sosial. Kemudian, sorotan lampu menerjang, memecahkan kegelapan itu, dan apa yang tersingkap adalah sebuah anomali visual.
Pos ronda, yang secara tradisi adalah benteng kaum adam untuk berjaga, kini telah dikudeta. Di sana, berdiri sekelompok perempuan dengan busana yang menyala, menanti giliran untuk berbicara.
Inilah "Gardu Revolusi Emak-Emak," sebuah pementasan yang digagas dari keprihatinan yang mendalam.
Penulisnya dosen FKIP UMSU, Yulhasni, melihat praktik korupsi merajalela bagai wabah, sementara masyarakatnya hanya berdiam diri, seolah mati rasa.
Bagi Yulhasni, seni, khususnya teater, adalah medium terakhir untuk kritik sosial—sebuah megaphone yang memekakkan telinga dalam keheningan apatis.
Melalui kudeta gardu ini, teater KOPI SUHI FKIP UMSU yang juga didukung Harian Tribun Medan menawarkan sebuah tesis radikal: suara perempuan harus didengar, dan revolusi yang sesungguhnya dimulai dari tempat yang paling tersembunyi: dapur.
Dari Realis ke Revolusi Dapur
Bagi sutradara Khairul Anam, tantangan terbesar pementasan ini bukanlah naskah, yang ia sebut sebagai "naskah realis tanpa masalah berarti." Tantangan sejati adalah membentuk para pemainnya. Sebagian besar belum pernah bersentuhan dengan seni peran.
Anam harus mengolah rasa, suara, dan gerakan tubuh dari nol. Ia meminta para pemainnya melakukan observasi paling fundamental: mengamati emak-emak perumahan dalam kehidupan sehari-hari.
Dari pengamatan gestur saat menawar di pasar hingga cara menyilangkan tangan saat bergosip, Anam berhasil menciptakan dinamika yang hidup dan autentik.
Namun, hal tertinggi dan paling subversif dari pementasan ini adalah filosofi Revolusi itu sendiri, yang dimanifestasikan melalui tokoh Nenek Asih (Sandra Anggreini Sembiring).
Ketika tokoh lain mengeluh lelah karena hidup serba sulit, Nenek Asih, sang perwujudan kearifan komedi, menanggapi dengan metafora dapur: "capek itu wajar, seperti memasak rendang, dan revolusi harusnya terjadi di dapur."
Di sinilah "Gardu Revolusi Emak-Emak" menolak mentah-mentah feminisme kuno yang merendahkan dapur sebagai ruang keterbatasan.
Anam menjelaskan, walaupun perempuan disuguhi "kasur, sumur, dan dapur," justru di dapurlah ia memiliki kekuatan dan kontrol yang kuat.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/Pementasan-Gardu-Revolusi-Emak-emak.jpg)