Devina Zulkifli, Temukan Potensi Diri Lewat Beragam Pengalaman
Sejak saat itu, Devina dan saudara-saudaranya terbiasa menjalani hidup dengan mandiri.
Penulis: Husna Fadilla Tarigan | Editor: Eti Wahyuni
TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Bagi sebagian anak muda, menemukan jati diri bukanlah proses yang instan. Ada yang harus mencoba berbagai hal, jatuh, bangkit, hingga akhirnya memahami arah hidupnya.
Hal itulah yang dijalani Devina Zulkifli, mahasiswi asal Tanjungbalai yang kini menapaki proses eksplorasi diri lewat beragam pengalaman.
Tumbuh di kota kecil yang jauh dari hiruk pikuk perkotaan, Devina menjalani masa kecil yang sederhana. Tidak ada pusat perbelanjaan besar atau gedung-gedung tinggi. Namun dari tempat itulah ia mulai membangun keberanian untuk bermimpi lebih jauh.
“Di Tanjungbalai aku tumbuh. Dari situ juga aku mulai berani untuk keluar dan mencoba hal baru,” ujarnya.
Sejak kecil, kehidupan Devina tidak selalu mudah. Ia kehilangan sosok ayah saat masih duduk di bangku kelas 5 SD. Kepergian sang ayah membuat keluarganya harus beradaptasi dengan kondisi baru. Ibunya yang sebelumnya tidak bekerja, harus menjadi tulang punggung keluarga.
Demi mencukupi kebutuhan empat anaknya, sang ibu bahkan merantau ke Malaysia. Sejak saat itu, Devina dan saudara-saudaranya terbiasa menjalani hidup dengan mandiri.
Baca juga: Lebaran 2026, Cerita Mahasiswa Medan di Belanda Siapkan Perayaan Sederhana bareng Teman
“Kami tidak terbiasa dengan kata-kata motivasi, tapi dari keadaan kami belajar bahwa hidup tidak selalu ada yang menemani,” katanya.
Nilai kemandirian itu kemudian menjadi fondasi kuat dalam perjalanan hidupnya. Tantangan kembali datang saat Devina lulus sekolah. Ia harus menunda kuliah selama satu tahun karena keterbatasan ekonomi.
Di saat teman-temannya mulai menjalani kehidupan kampus, Devina justru harus bekerja dan menunggu kesempatan. Masa gap year itu menjadi salah satu fase terberat baginya. Namun di sisi lain, pengalaman tersebut membentuk mental yang lebih kuat.
“Aku sedih melihat teman-teman sudah kuliah. Tapi dari situ aku belajar bahwa setiap orang punya waktunya masing-masing,” ujarnya.
Awalnya, Devina bercita-cita melanjutkan pendidikan di Universitas Sumatera Utara atau Universitas Brawijaya dengan jurusan Hubungan Internasional.
Namun keterbatasan membawanya ke Universitas Islam Negeri Sumatera Utara dengan jurusan Ilmu Komunikasi, pilihan yang awalnya dianggap sebagai alternatif terakhir.
Di luar dugaan, keputusan itu justru membuka banyak peluang. Ia menemukan ruang untuk berkembang, baik secara akademik mau pun pribadi.
Kesadaran akan kondisi ekonomi membuat Devina aktif mencari beasiswa. Ia sempat mencoba beberapa program seperti Baznas dan Kafala UPZ, namun belum berhasil. Kegagalan itu sempat membuatnya hampir menyerah.
Namun ia memilih mencoba sekali lagi melalui Karya Salemba Empat (KSE). Tanpa ekspektasi tinggi, ia menyelesaikan proses pendaftaran dengan sederhana. Tak disangka, ia lolos hingga tahap akhir dan resmi menjadi penerima beasiswa.
| Agnes Redyna Br Siahaan, Menguatkan Diri Sekaligus Menguatkan Sesama |
|
|---|
| Sonya Lalla Saragih, Energi Tak Terbatas untuk Bahasa dan Generasi Muda |
|
|---|
| Cinta Menorehkan Prestasi di Berbagai Bidang hingga ke Perancis |
|
|---|
| Pertama Kalinya, Paskibra 22 Kecamatan se-Deli Serdang Meriahkan Hari Bela Negara |
|
|---|
| BINUS Medan Hadirkan Pendidikan Berkelas Dunia untuk Generasi Muda Sumatera |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/SOSOK-Devina-Zulkifli-mahasiswi-Universitas-Islam-Negeri.jpg)