Penyelenggaraan Ramadan Fair Jadi Sorotan, Indikasi Dugaan Jual Beli Stan hingga Fasilitas Minus  

Sejumlah temuan di lapangan pada Senin (2/3) menunjukkan masih lemahnya perencanaan dan pengawasan dalam kegiatan tahunan tersebut.

|
Penulis: Dedy Kurniawan | Editor: Eti Wahyuni
TRIBUN MEDAN/ISTIMEWA
RAMADHAN FAIR - Suasana di Ramadan Fair XX. Sejumlah fasilitas dan kenyamanan dikeluhkan warga, mulai toilet, kipas angin dan dekorasi khas Ramadhan yang tak meriah, Kamis (26/2/2026). 

 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Pelaksanaan Ramadan Fair XX/2026 di Kota Medan masih tak lepas diwarnai berbagai persoalan klasik. Dugaan jual beli stan UMKM, tarif parkir yang tidak sesuai aturan, hingga fasilitas yang minus menjadi sorotan pengunjung dan pelaku usaha.

Sejumlah temuan di lapangan pada Senin (2/3/2026) menunjukkan masih lemahnya perencanaan dan pengawasan dalam kegiatan tahunan tersebut.

Ramadan Fair yang digelar oleh Pemerintah Kota Medan ini sejatinya ditujukan sebagai ajang pemberdayaan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Namun di lapangan, sejumlah pelaku usaha mengaku stan justru diperjualbelikan.

Harga stan disebut berkisar antara Rp 2.500.000 hingga Rp 3.000.000 per unit.

“Harusnya ini untuk membantu UMKM, bukan malah jadi ajang cari untung dari sewa stan,” ujar seorang pelaku usaha.

Praktik jual beli stan tersebut bukan hal baru dan kerap terjadi setiap penyelenggaraan Ramadan Fair. Mekanisme distribusi stan dan transparansi pengelolaannya pun kembali dipertanyakan.

Baca juga: Resep Es Pepaya Juruk Pelepas Dahaga di saat Buka Puasa Ramadan

Keluhan juga datang dari pengunjung terkait kondisi area utama UMKM yang dinilai kurang nyaman. Minimnya sirkulasi udara dan banyaknya kipas angin yang tidak berfungsi membuat suasana di dalam tenda terasa panas dan pengap, terutama menjelang waktu berbuka puasa.

“Area utama UMKM ini panas sekali, penataannya semrawut. Kami sampai berkeringat makan di sini,” ujar Edlin Muharram, pengunjung yang ditemui di lokasi.

Menurutnya, kondisi tersebut membuat pengunjung tidak betah berlama-lama di arena Ramadan Fair. Selain panas, penataan stan yang kurang rapi juga menyebabkan arus pengunjung tersendat saat jam ramai. Kondisi ini dinilai berpotensi menimbulkan risiko keselamatan apabila terjadi kepadatan pengunjung, hingga rawan copet.

Persoalan lain muncul dari tarif parkir kendaraan yang dipatok antara Rp 3.000 hingga Rp 5.000. Sejumlah pengunjung mempertanyakan besaran tarif tersebut karena tidak ditemukan papan informasi resmi di sejumlah titik parkir.

Padahal sebelumnya, Pemko Medan menetapkan tarif parkir sepeda motor sebesar Rp 2.000 dan mobil Rp 4.000.

“Kami bingung, tidak ada papan tarif. Ada yang minta Rp 3.000, ada juga Rp 5.000,” kata Elin.

Ketiadaan kejelasan tarif dinilai memicu kebingungan masyarakat. Pengunjung berharap Dinas Perhubungan mau pun pihak penyelenggara memberikan penjelasan terbuka terkait pengelolaan parkir selama kegiatan berlangsung.

Fasilitas umum di sekitar lokasi juga tak luput dari kritik. Kamar mandi milik Pemko Medan dilaporkan dalam kondisi kotor, berbau, serta minim penerangan. Kondisi tersebut sudah terjadi sejak malam pembukaan Ramadan Fair pada 25 Februari lalu.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved