Sumut Terkini
Momen Nyepi dan Ramadan Bersamaan, Umat Hindu di Medan Jaga Harmoni dan Toleransi
Nyepi bertepatan dengan Ramadan, umat Hindu di Medan tetap jaga toleransi.
Penulis: Muhammad Nasrul | Editor: Tria Rizki
Nyepi Bertepatan Dengan Ramadan, Umat Hindu di Medan Tetap Jaga Toleransi
TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Umat Hindu di Kota Medan, mulai bersiap menyambut perayaan Hari Raya Nyepi atau Tahun Baru Saka 1948, pada Kamis (19/3/2026) esok hari. Satu hari sebelum perayaan Nyepi, tanpak sejumlah umat Hindu di Kota Medan mulai melakukan sejumlah ibadah di Pura Agung Raksa Bhuana, di Jalan Polonia, Medan, Rabu (18/3/2026).
Ada hal unik pada perayaan Nyepi tahun ini, yang mana bertepatan dengan berlangsungnya ibadah bulan suci Ramadan 1447 H. Sebagaimana diketahui, perayaan Nyepi identik dengan tidak adanya aktivitas sama sekali oleh umat Hindu yang sedang melaksanakan ibadah Nyepi.
Namun, meskipun demikian pelaksanaan ibadah Nyepi di Kota Medan ternyata tetap terlaksana dengan khidmat berdampingan dengan umat Muslim yang sedang melaksanakan ibadah puasa dan tarawih. Hal ini diungkapkan oleh I Wayan Dirgayasa Tangkas, yang merupakan Ketua Masyarakat Bali Sumut.
"Kita sebagai umat yang sudah ribuan tahun hidup di Indonesia, toleransi merupakan satu hal yang normal. Apalagi di Medan, kita memahami hal itu. Kawan kita muslim masih tarawih yang merupakan bagian dari rangkaian Ramadan, itu tidak masalah, yang penting toleransi," ujar I Wayan Dirgayasa Tangkas.
Apalagi, dirinya menjelaskan jika umat Hindu memiliki konsep prinsip dasar hidup yang disebut dengan Desta, Kala, Patra. Yang memiliki artian dalam berkehidupan sosial dan beragama, konsep filosofis Hindu Bali yang mengajarkan adaptasi perilaku berdasarkan tempat (Desa), waktu (Kala), dan situasi/kondisi (Patra). Konsep ini menekankan fleksibilitas, kearifan lokal, dan kepekaan terhadap lingkungan, memungkinkan umat Hindu menyesuaikan diri tanpa kehilangan esensi ajaran.
"Sehingga kalau pelaksanaan Nyepi bertepatan dengan Ramadan dan Idul Fitri itu sudah biasa dan tidak masalah," ungkapnya.
Dikatakan I Wayan, dalam menyambut Nyepi tahun ini umat Hindu Bali di Kota Medan sudah melakukan persiapan sejak beberapa pekan terakhir. Dimana, hari ini di Pura ini dilakukan upacara Pecaru yang memiliki artian penyucian alam semesta dari hal negatif yang ada di alam.
Sementara itu, sebelumnya pihaknya juga telah melakukan ritual lainnya yaitu upacara Melasti yang berisikan ritual pembersihan diri dan benda sakral umat Hindu menggunakan dumber air seperti air laut. Namun, karena sesuatu hal I Wayan menjelaskan pihaknya menggelar Melasti hanya di Pura.
"Kemarin sudah Melasti yang biasanya dilakukan di pantai, tapi tahun ini hanya kita lakukan di Pura," katanya.
Untuk hari ini, dirinya menjelaskan di Pura ini mereka menggelar ritual Pecaru dimana bertujuan membersihkan alam semesta dan juga diri menggunakan aroma wewangian di H-1 Nyepi. Serta, esok hari akan dilaksanakan ritual puncak dari perayaan Nyepi.
"Saat ini ibadah pecaru, sesaji ini merupakan perangkat kalau dihitung jumlahnya 100 item dengan masing-masing punya makna sendiri," katanya.
Lebih lanjut, untuk Nyepi pada esok hari umat Hindu akan menjalani ritual pembersihan diri dari segala aktivitas duniawi dengan berdiam diri. Dikatakannya, pada saat Nyepi umat Hindu harus melakukan ritual Catur Brata Penyepian yang berisikan empat larangan.
"Pertama tidak bepergian, tidak bekerja, tidak melakukan hiburan bunyi-bunyian, dan tidak boleh menyalakan api atau cahaya," ungkapnya.
Untuk waktu pelaksanaan Nyepi, dirinya menjelaskan secara umum dilakukan selama 24 jam terhitung dari awal mulai Nyepi. Ada yang melaksanakan ibadah Nyepi mulai pukul 00.00 WIB malam nanti hingga esok hari, namun ada juga yang melakukan di pukul 06.00 pagi esok hari hingga keesokan harinya lagi.
(mns/tribun-medan.com)
| 48 Narapidana Beragama Hindu di Sumut Terima Remisi Khusus Hari Raya Nyepi 2026 |
|
|---|
| Nyepi Bertepatan dengan Ramadan, Umat Hindu di Medan Tetap Jaga Toleransi |
|
|---|
| Akal-akalan Pejabat Bank BNI, Tilap Rp 28 Miliar Uang Jemaat Gereja di Labuhanbatu |
|
|---|
| Modus Pejabat Bank Pelat Merah Tilap Rp 28 Miliar Uang Jemaat Gereja Katolik di Labuhanbatu |
|
|---|
| KRONOLOGI Mobil Fortuner BK 1373 LAN Tergelincir dan Tabrak Pemotor di Balige, Sugiharto Tewas |
|
|---|