Pearl Princila Manurung, Cerita Tanggung Jawab Keadilan dari Hakim Muda
Momen itulah yang menguatkan tekadnya menempuh pendidikan hukum dan menjadikan keadilan sebagai tujuan hidup.
Penulis: Husna Fadilla Tarigan | Editor: Eti Wahyuni
TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Di balik palu hakim yang diketukkan di ruang sidang, ada proses panjang yang jarang terlihat publik. Bagi Pearl Princila Manurung, menjadi hakim bukan sekadar profesi, melainkan jalan pengabdian yang ditempuh dengan kesadaran penuh akan tanggung jawab moral dan kemanusiaan.
Ketertarikan Pearl pada dunia hukum tumbuh sejak masa SMA di SMA Negeri 1 Lubuk Pakam.
Diskusi-diskusi kelas tentang keadilan perlahan membentuk kesadarannya bahwa hukum bukan hanya soal aturan tertulis, tetapi juga menyangkut nilai, empati, dan keberpihakan pada kebenaran.
Momen itulah yang menguatkan tekadnya menempuh pendidikan hukum dan menjadikan keadilan sebagai tujuan hidup.
Pilihan itu membawanya ke Fakultas Hukum Universitas Bangka Belitung (UBB). Di kampus inilah Pearl mengasah kapasitas akademik sekaligus karakter.
Ia dikenal aktif mengikuti berbagai kompetisi dan kegiatan kampus. Konsistensi dan disiplin berbuah manis ketika ia dinobatkan sebagai Mahasiswa Terbaik UBB Periode September 2020, sebuah pencapaian yang menjadi titik penting dalam perjalanan hidupnya.
Baca juga: Profil Qisthi Widyastuti, Eks Jurnalis Hakim PN Kuala Simpang, Kisahnya Viral Selamat dari Banjir
“Penghargaan itu menguatkan keyakinan saya bahwa kerja keras, keberanian mencoba hal baru, dan komitmen pada proses tidak pernah mengkhianati hasil,” ujarnya.
Dari sekian banyak pilihan karier di bidang hukum, profesi hakim justru menjadi yang paling menarik bagi Pearl. Hakim berada di posisi yang sangat menentukan, bukan hanya dalam menafsirkan hukum, tetapi juga dalam menjaga harapan masyarakat pencari keadilan.
Setiap putusan adalah amanah besar yang harus dipertanggungjawabkan, tidak hanya secara hukum, tetapi juga secara moral.
Inspirasi terkuat Pearl datang dari keluarga. Almarhum ayahnya, Lengsipeng Manurung, serta ibunya, Aguslani Siregar, SPd, MHum, menanamkan nilai kejujuran, disiplin, dan integritas sejak dini.
Sebagai pendidik dengan latar akademik kuat, orang tua Pearl selalu menegaskan bahwa profesi apa pun harus dijalani dengan penuh tanggung jawab. Dukungan keluarga inilah yang menjadi fondasi mentalnya hingga hari ini.
Menariknya, selepas menyelesaikan pendidikan S-1, Pearl tidak langsung terjun ke dunia peradilan. Ia sempat bekerja sebagai HRD and General di BPR Ukabima Lestari pada 2020.
Pengalaman ini justru memperkaya sudut pandangnya. Berhadapan langsung dengan dinamika manusia, konflik kepentingan, dan proses penyelesaian masalah internal membuatnya lebih matang dan objektif dalam melihat persoalan.
Titik balik datang pada 2022, ketika Pearl memutuskan menjadi ASN peradilan di bawah Mahkamah Agung. Dari dalam sistem peradilan, ia melihat langsung bagaimana hukum bekerja dan bagaimana masyarakat menggantungkan harapan pada lembaga peradilan.
Interaksi dengan hakim-hakim senior dan pengalaman mendampingi proses persidangan semakin menguatkan niatnya.
| FAKTA-FAKTA Terbakarnya Rumah Ketua Majelis Hakim yang Menyidangkan Kasus Korupsi Jalan di Sumut |
|
|---|
| Keberatan dengan Tuntutan Oditur, Pelapor Minta Keadilan Majelis Hakim Militer Tinggi |
|
|---|
| Pelapor Minta Keadilan Majelis Hakim Militer Tinggi, Keberatan dengan Tuntutan Oditur |
|
|---|
| SOSOK Hakim Eko Aryanto Dimutasi ke Papua, Pernah Disorot karena Vonis Ringan Pelaku Korupsi Timah |
|
|---|
| Meski Bebas Ginting Tak Hadiri Sidang karena Sakit, Majelis Hakim PN Kabanjahe Tetap Bacakan Putusan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/Pearl-Princila-Manurung.jpg)