Ustad Roni Ditahan setelah Beli Tanah Rawa-rawa, Keluarga Protes Sidang Ditunda  

Pria yang akrab disapa Ustad Roni Paslani (47) itu saat ini sedang mengikuti proses sidang di Pengadilan Negeri Lubuk Pakam.

Tayang:
Penulis: Indra Gunawan | Editor: Eti Wahyuni
TRIBUN MEDAN/Indra Gunawan
JALANI SIDANG : Terdakwa Roni Paslani saat berada di Pengadilan Negeri Lubuk Pakam untuk menjalani sidang, Rabu (20/5/2026). Sidang dirinya sempat ditunda berulang kali. 

TRIBUN-MEDAN.com, LUBUKPAKAM - Seorang pendakwah di Kabupaten Deliserdang ditahan gara-gara membeli tanah rawa-rawa di wilayah Desa Patumbak Kampung Kecamatan Patumbak.

Pria yang akrab disapa Ustad Roni Paslani (47) itu saat ini sedang mengikuti proses sidang di Pengadilan Negeri Lubuk Pakam.

Meski hanya sebagai pembeli lahan namun dirinya kini disangkakan melakukan pemalsuan. Pihak keluarga menduga kasus yang menjerat Roni ini karena adanya kekuatan dari oknum mafia tanah.

Persidangan dengan agenda pemeriksaan saksi yang dihadirkan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) pun sempat diagendakan Rabu (20/5/2026).

Saat itu Kadisnaker Deliserdang, Syahdin Setia Budi Pane yang juga merupakan mantan Camat Patumbak pun sempat hadir di Pengadilan. Ia sempat duduk bersamaan dengan mantan Kades Patumbak Kampung yang juga diundang oleh Jaksa.

Pihak keluarga terdakwa yang datang ke pengadilan sempat kecewa dengan sikap JPU Kejari Deliserdang, Pasti Lubis. Hal ini lantaran sidang dibuka oleh Majelis Hakim sekira pukul 16.10 WIB saat yang bersangkutan tidak ada di tempat.

Baca juga: Ingatkan Risiko Ubah Area Pertanian Jadi Kavling, Dinas PUTR Siantar Sebut PBG tidak Keluar

Terdakwa Roni Paslani juga sudah dibawa kembali ke tahanan. Karena kondisi ini sidang pun terpaksa ditunda kembali untuk yang kesekian kalinya.

"Ditunda lagi. Sudah jelas lah ya orang itu yang memfitnah abang saya dan menzoliminya. Mana buktinya? ditunda tunda begini, buat apa. Jaksa nggak tau di mana rimbanya? Abang saya yang penting harus bebas," ucap Beby, adik terdakwa yang datang bersama anak-anak terdakwa.

Beby sempat begitu vocal di dalam ruang sidang. Kepada tiga Majelis Hakim yang menyidangkan kasus ini dirinya pun sempat meminta agar sidang-sidang selanjutnya tidak lagi ditunda. Hal ini lantaran dari hitungannya sudah tiga kali sidang ditunda dengan berbagai alasan.

Ketua Majelis Hakim, Endra Hermawan pun menyebut ketidakhadiran terdakwa akan mereka catatkan dalam berita acara. Terkait ketidakhadiran JPU bisa ditanyakan kepada pihak Kejaksaan.

Informasi yang dihimpun, JPU sempat datang sekira pukul 14.00 WIB ke Pengadilan namun karena belum lengkap para pihak ia pun meninggalkan Pengadilan.

Sementara itu Syahdin Setia Budi Pane mengaku dirinya datang ke Persidangan karena adanya undangan dari JPU. Ia mengaku sudah siap untuk  memberikan kesaksian.

Oleh Majelis, Budi sempat diarahkan untuk menghubungi Jaksa yang mengundangnya namun saat dicoba berulang kali tidak kunjung diangkat. Budi tidak tahu kenapa Jaksa meninggalkannya tanpa kabar.

"Berdasarkan pemberitahuan dari JPU, saya diminta hadir untuk memberikan keterangan pada  persidangan bapak Roni Paslani. Memang obyek perkara dimana saat itu saya masih menjabat sebagai Camat Patumbak. Tadi petunjuknya yang kami dengar (arahan Hakim) saya dimintakan koordinasi dengan JPU tanggal berapa saya dihadirkan kembali," kata Syahdin.

Dalam kasus ini, Budi hanya mengingat kalau pihaknya sempat melakukan mediasi atas kasus yang terjadi. Saat itu pihak desa melaporkan masalah ke tingkat Camat sehingga kemudian dilakukan mediasi. Dalam hal itu pihak dari lawan Roni Paslani hadir dengan cara diwakilkan.

Punya Bisnis Jual Beli Tanah Kavlingan 

Terdakwa Roni Paslani adalah warga Desa Bandar Setia Kecamatan Percut Seituan. Selain pendakwah yang punya ribuan jemaah di Sumut ia juga punya pebisnis dalam hal jual beli tanah kavlingan.

Pihak terdakwa menyampaikan tanah rawa rawa dibeli pada tahun 2021 sebesar Rp 900 juta untuk lahan seluas 3,2 hektare. Tanah dibeli dari pria bernama Adam Malik yang dapat hibah dari orangtuanya bernama Awaludin.

Tanah rawa yang dibeli sempat ditimbun dan kemudian dijual per kavling-kavling. Tanah kavlingan sudah dibuat sekitar 400 dan sudah laku 10 persennya. Harga kavlingan Rp 2 juta per meternya. Kasus tanah ini sempat bergulir secara perdata.

Oleh Pengadilan Negeri Lubuk Pakam Pihak Roni sempat menang. Namun pada proses Banding hingga Kasasi Roni Paslani kalah. Kemudian kasusnya pun berujung ke pidana dan dilaporkan pihak lawan ke Polda Sumut. Roni kemudian ditangkap di Bogor 27 Februari 2026.

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved