Rumah Mantan Polisi di Belawan Dirampok dan Dirusak Massa Saat Tawuran, Anak dan Istri Saya Diseret

Sebuah rumah milik mantan anggota kepolisian di Jalan Sicanang, Gang Bersama, Kelurahan Sicanang, Kecamatan Belawan, menjadi sasaran pengerusakan.

TRIBUN MEDAN/Haikal Faried Hermawan
RUMAH DIRUSAK - Mantan anggota kepolisian, Horas Hutauruk saat menceritakan rumahnya dirusak dan dijarah oleh pemuda saat tawuran terjadi di Jalan Sicanang, Gang Bersama, Kelurahan Sicanang, Kecamatan Belawan, Senin (6/4). 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Sebuah rumah milik mantan anggota kepolisian di Jalan Sicanang, Gang Bersama, Kelurahan Sicanang, Kecamatan Belawan, menjadi sasaran pengerusakan dan penjarahan oleh sekelompok pemuda diduga pelaku tawuran antarwarga. Peristiwa ini terjadi pada Sabtu (4/4), sekitar pukul 03.00 WIB.

Insiden ini bermula ketika sekelompok pemuda dari kawasan Pulau Ambon mendatangi wilayah Gang Bersama untuk melakukan tawuran. Rumah Horas Hutauruk (44), mantan anggota Polri yang sudah tinggal di lokasi sejak tahun 2019, berada tepat di titik kumpul para pemuda dan menjadi sasaran utama amukan massa.

Horas menjelaskan saat itu massa dari Pulau Ambon mulai bergerak memasuki Gang Bersama, Lingkungan 2, pada Sabtu dini hari.

Kemudian, anak muda di lingkungan 2 yang masih berstatus pelajar dan biasa berkumpul di depan rumahnya pukul 20.00 hingga 23.00 WIB, berusaha menghadapi serangan tersebut. "Jadi datang massa ini disambut oleh pemuda sini sehingga terjadi pelemparan antara dua kubu," ujar Horas saat ditemui di kediamannya, Senin (6/4).

Dengan pengalamannya kurang lebih dari 20 tahun di kepolisian, termasuk di bidang intelijen, Horas meyakini ada aktor intelektual di balik tawuran

Horas mengungkapkan, meskipun banyak warga setempat yang menjadi korban lemparan batu, rumahnyalah yang paling parah mengalami perusakan dan penjarahan. Menurut pengakuannya, ia sudah memberikan informasi kepada sejumlah oknum Polres Pelabuhan Belawan dan Polsek Belawan pada sore hari sebelum kejadian. "Saya panggil, mohon izin bang, mungkin malam ini akan jadi tawuran di tempat kami ini. Jangan sampai rumah saya jadi sasaran pelampiasan. Tapi terbuktikan," ungkapnya.

Saat kerusuhan berlangsung, Horas dan keluarganya berusaha berlindung di dalam rumah. Ia sendiri mengalami luka di punggung akibat terkena serangan.

Keluarganya pun tidak bisa berbuat banyak karena sambungan listrik rumah diputus dengan cara memecahkan lampu PLN. "Sehingga anak istri saya tidak bisa menghubungi siapa pun pada saat itu," katanya.

Horas merinci sejumlah barang yang dirusak dan dijarah oleh massa tawuran berupa, seluruh kaca rumah dihancurkan, pintu utama rumah dibobol, sepeda motor dirusak, 20 unit tabung gas, 3 karung beras ukuran 30 kilogram, 7 karung beras ukuran 10 kilogram, 5 karung beras bulog serta rokok dalam jumlah tidak terhitung dijarah.

Tak hanya barang dagangannya yang dijarah mereka, tetapi juga membawa 15 unit ponsel milik pemuda setempat yang dititipkan dan satu unit televisi tabung 21 inci dirusak.

Horas pun mengalami kerugian ditaksir mencapai kurang lebih Rp. 50 juta. Namun, Horas menegaskan bahwa kerugian yang paling berat adalah trauma pada keluarganya. "Anak saya yang masih berusia 11 tahun diseret. Istri saya yang seorang guru diseret dalam keadaan gelap. Itulah yang paling mahal," ujarnya dengan suara bergetar.

Horas mengaku telah melaporkan kejadian tersebut ke Polres Pelabuhan Belawan sekitar dua jam setelah insiden berakhir, saat listrik rumahnya masih padam.  Dalam kondisi sakit dan jantung berdebar, ia bersama adiknya, Sandro Siburian, mendatangi Mapolres dengan sepeda motor. "Saya bangunkan petugas SPKT yang sedang tidur. Saya minta tolong lapor, rumah saya sudah dijarah. Tapi pada malam itu juga mereka tidak bersedia datang," ungkapnya.

Ia membandingkan pelayanan Polres Belawan yang lamban dengan respons cepat dari PLN yang datang menghidupkan kembali aliran listrik. Sekitar pukul 05.00 WIB, aparat kepolisian tiba di lokasi. "Saya usir karena apa lagi yang mau dilihat? Anak saya tidak perlu dilihat-lihat," tegasnya. 

Baca juga: NASIB Karier Kajari Karo Danke Rajagukguk Ditarik ke Kejagung Untuk Evaluasi Atas Kasus Amsal Sitepu

Polisi Bantak tak Responsif

KAPOLSEK Belawan, AKP Ponijo, membantah tuduhan bahwa pihaknya tidak responsif menangani insiden penjarahan dan perusakan rumah warga di Kelurahan Sicanang, Kecamatan Belawan, pada Sabtu (4/4) dini hari.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved