Prioritaskan Perlindungan terhadap Ibu & Anak di Tengah Krisis Bencana Sumatera
Prioritaskan Perlindungan terhadap Ibu & Anak di Tengah Krisis Bencana Sumatera
Oleh : Dr. Siti Zahara Nasution, S.Kp., MNS & Lied Apriani Pane, S.Kep.,Ns
Program Studi Magister Ilmu Keperawatan USU
TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Banjir bandang dan longsor yang melanda sejumlah provinsi di Sumatera terutama Aceh, Sumatera Utara (Sumut), dan Sumatera Barat (Sumbar) telah menimbulkan duka mendalam dan krisis kemanusiaan. Terbaru, data resmi memperlihatkan bahwa korban tewas telah mencapai angka sekitar 900 orang lebih, dengan ratusan lainnya masih hilang dan ribuan luka- luka selain itu bangunan ambruk, infrastruktur rusak, jalan putus bahkan ribuan rumah warga turut terendam banjir. Hal tersebut menunjukkan betapa luasnya dampak yang ditimbulkan dari cuaca ekstrem yang terjadi.
Situasi ini menyebabkan jutaan orang terkena dampak, banyak yang kehilangan rumah, hidup di tenda pengungsian, dan tinggal dalam kondisi darurat tanpa akses memadai terhadap air bersih, sanitasi, layanan kesehatan, maupun rasa aman.
Situasi ini bukan hanya darurat logistik, tetapi juga darurat kemanusiaan yang membuat orang dewasa saja panik apalagi bayi dan balita ditempat-tempat yang dingin dan basah sepanjang hari.Bingung mau berbuat apa, minta tolong kepada siapa, mengungsi kemana karena semua serba tiba-tiba.
Yang harus dilakukan agar Ibu dan anak terlindungi !
1. Prioritaskan Asi sebagai nutrisi Aman & Steril di Tengah Krisis.
Ketika air bersih dan sanitasi terganggu, ASI tetap menjadi satu-satunya sumber nutrisi bayi yang aman : steril, bergizi seimbang, dan mengandung antibodi alami.
Dalam kondisi pengungsian dan banjir, susu formula bisa sangat berisiko jika dicampur dengan air yang tidak layak apalagi yang belum dimasak. Jika kita berpikir lebih matang, di saat bencana terjadi sulit sekali kita mendapatkan air bersih termasuk untuk mencuci dot dan botol, maka susu formula bisa memicu bencana baru sehingga sangat berpotensi memicu diare, infeksi, atau bahkan kematian pada bayi.
Apalagi jika bayi alergi dan intoleren laktosa. Oleh karena itu, posko pengungsian perlu memiliki fasilitas “ruang laktasi sementara yang layak pakai”, ketika mendirikan tenda pengungsian sebaiknya juga dipersiapkan tenda yang ramah ibu dan anak dimana para ibu yang masih menyusui anaknya bisa dengan tenang memberikan asupan steril terbaik bagi bayinya tanpa diganggu, dukungan psikologis dan nutrisi bagi ibu menyusui menjadi sangat penting selain dukungan logistik.
2. MPASI & Gizi Anak membutuhkan Butuh Dapur Bersih dan Penanganan Khusus.
Bayi dan balita yang sudah memasuki fase MPASI membutuhkan makanan bergizi yang disajikan secara higienis. Dapur umum seadanya tidak cukup. Saat dapur umum didirikan semestinya ada Tenda PMBA (Pemberian makan bayi dan anak) Artinya sangat diperlukan dapur terpisah untuk pengolahan bahan baku makanan pendamping ASI (MPASI) yang sama persis seperti dapur umum dewasa yang memiliki standar hygiene lebih tinggi karena seperti yang kita ketahui bahwa bayi dan anak lebih rentan diare
Informasi ini perlu disampaikan agar literasi donator dan pendonor makanan bisa menyumbangkan sumber makanan yang baik untuk bayi dan balita tidak sekedar susu formula dan makanan cepat saji bagi keluarga-keluarga yang punya anak kecil.
Sehingga donasi lebih berharga berupa beras, kentang, jagung, umbi-umbian, kacang-kacangan dan telur baik telur ayam ataupun telur bebek yang mudah disimpan tanpa lemari es sebagai protein hewani yang bisa diolah menjadi aneka makanan sedap dan bergizi.
Diperlukan juga Air bersih dan air matang, peralatan makan khusus kelompok bayi & balita. Selain itu dibutuhkan edukasi sederhana kepada relawan (khususnya dapur umum) atau pengungsi khususnya ibu-ibu berlatih membuat MPASI, memilih bahan sederhana tapi bermanfaat bagi anak dalam mengelola makanan sederhana didapur umum pengungsian. Karena tanpa hal ini, bantuan makanan bisa menjadi sumber penyakit dan bencana baru yang akan muncul didaerah pengungsian pasca bencana.
PerlindunganIbuAnak
KrisisBencanaSumatera
PeduliIbuAnak
BencanaSumatera
SiagaBencana
KeselamatanKeluarga
| Polda Sumut Kirim Bantuan via Helikopter ke Desa Rampa Terdampak Longsor |
|
|---|
| Eksistensi Perawat dalam Bencana Sumatera: Ketika Ilmu, Empati & Aksi Bertemu di Tenda Pengungsian |
|
|---|
| Pesan Ratna pada Anak di Pesantren, 'Hemat-hemat Ya Mang' |
|
|---|
| Tersisa 9 Kecamatan Terdampak Banjir & Longsor, Pengungsi Tinggal 7.988 Orang |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/ULTULFYLI.jpg)