Eksistensi Perawat dalam Bencana Sumatera: Ketika Ilmu, Empati & Aksi Bertemu di Tenda Pengungsian

Eksistensi Perawat dalam Bencana Sumatera: Ketika Ilmu, Empati & Aksi Bertemu di Tenda Pengungsian

|
Editor: Aisyah Sumardi
Istimewa
Eksistensi Perawat dalam Bencana Sumatera: Ketika Ilmu, Empati & Aksi Bertemu di Tenda Pengungsian 

Oleh : Dr. Siti Zahara Nasution, S.Kp.,MNS & Lied Apriani Pane, S.Kep.,Ns

Program Studi Magister Ilmu Keperawatan USU

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Hingga 8 Desember 2025, bencana banjir dan longsor yang melanda pulau Sumatera khususnya di Sumatera Utara, Aceh, dan Sumatera  telah menelan banyak korban. Berdasarkan laporan terakhir dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), lebih dari 900 orang meninggal dunia, sementara sekitar 600 orang hilang, dan ribuan lainnya luka-luka.

Situasi ini menyebabkan jutaan orang terkena dampak, banyak yang kehilangan rumah, hidup di tenda pengungsian, dan tinggal dalam kondisi darurat tanpa akses memadai terhadap air bersih, sanitasi, layanan kesehatan, maupun rasa aman. 

Dalam situasi ini,  kehadiran perawat tidak hanya sekedar  sebagai tenaga medis, tetapi sebagai penggerak utama pemulihan kesehatan masyarakat. Di tengah keterbatasan logistik, minimnya tenaga dokter, serta tekanan mental masyarakat yang besar, perawat sering kali menjadi garda terdepan yang paling nyata terlihat dan langsung bersentuhan dengan korban di tenda-tenda pengungsian.

Mengapa Perawat Penting di Tengah Bencana ?

Eksistensi keperawatan berdiri diatas landasan fondasi teoritis dan filosofisnya, memandang manusia sebagai makhluk utuh dengan kebutuhan bio (fisik), psiko-sosio (mental, sosial dan kemanusiaan), spiritual (kepercayaan dan budaya Masyarakat). Ilmu keperawatan tidak hanya berbicara soal penyakit, tetapi tentang keselamatan, keadilan, martabat, dan harapan bagi setiap manusia.

Saat bencana menghantam, banyak aspek kehidupan masyarakat runtuh.. Mereka kehilangan tempat tinggal, air bersih, makanan, bahkan anggota keluarga. Luka, penyakit, dehidrasi, infeksi, trauma psikologis, semuanya menjadi potensi bahaya. Di tengah kondisi itulah perawat dengan pengetahuan dan kepekaan kemanusiaannya memainkan peran gandanya yaitu merawat dan menjaga harapan.

 

Aksi Nyata Perawat di Lokasi Bencana dan Tenda Pengungsian !

Perawat dapat tampil sebagai pelaku utama yang memberikan banyak hal yang sangat dibutuhkan masyarakat ; Melakukan Triase dan penilaian cepat terhadap korban terdampak : luka, hipotermia, cedera, dehidrasi ; guna menentukan siapa yang butuh perawatan segera.Memberikan pertolongan pertama dan perawatan dasar : membersihkan luka, menekan perdarahan, menjaga kebersihan, merawat ibu hamil atau bayi dalam kondisi darurat.

 

Mengorganisir kebersihan dan sanitasi di tenda-tenda pengungsian : memastikan akses air bersih, membuat bilik MCK sementara, edukasi cuci tangan, semua ini adalah hal krusial untuk mencegah penyakit menular dan wabah. Memberikan dukungan psikososial : mendengarkan ketakutan warga, membantu menenangkan trauma, memberikan rasa aman bagi keluarga yang kehilangan ini sama pentingnya dengan memberikan perawatan fisik. Menjadi penghubung antara korban, tim penyelamat, Lembaga kemanusiaan, dan layanan kesehatan formal : Perawat dapat membantu koordinasi evakuasi, rujukan, distribusi logistik medis, dan pemenuhan kebutuhan dasar.

Lewat tindakan-tindakan ini, perawat tidak sekadar merawat luka pada tubuh korban tetapi juga “menjahit harapan” di tengah kepedihan yang dialami masyarakat. Perawat mampu membuat rasa aman, perduli, dan memanusiakan manusia untuk  tetap hidup.

Perawat Harapan di Tengah Duka.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved