Berita Medan

Masjid Al Osmani, Jejak Sejarah Kesultanan Deli yang Tetap Berdiri Megah

Masjid ini telah melalui berbagai transformasi hingga menjadi salah satu cagar budaya paling berharga di Sumatera Utara.

TRIBUN MEDAN/HAIKAL
Suasana Megah Mesjid Raya Al Osmani dibangun pada tahun 1854 di Jalan Kol Yos Sudarso Labuhan, Pekan Labuhan, Kec. Medan Labuhan, Kota Medan, menjadi Cagar Budaya, Jumat (28/3/2025). 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN- Masjid Raya Al Osmani bukan sekadar bangunan tempat ibadah.

Masjid yang terletak di Jalan Kol Yos Sudarso Labuhan, Pekan Labuhan, Kecamatan Medan Labuhan, Kota Medan ini adalah saksi kejayaan Kesultanan Deli dan bukti akulturasi budaya yang harmonis. 

Masjid raya Al Osmani dibangun pada tahun 1854 oleh Sultan Osman Perkasa Alam.

Masjid ini telah melalui berbagai transformasi hingga menjadi salah satu cagar budaya paling berharga di Sumatera Utara.

Masjid Al Osmani dibangun dengan material kayu pilihan dari Kalimantan yang dibawa melalui Sungai Deli.

Dengan ukuran 16x16 meter, masjid ini menjadi pusat aktivitas keagamaan dan sosial masyarakat Melayu.

Sultan Osman sengaja mendirikannya sebagai tempat ibadah bagi masyarakat Melayu, pusat pembelajaran agama dengan mendatangkan ulama dari Yaman, sarana silaturahmi antara rakyat dan kesultanan, terutama saat hari besar Islam.

Pada 1870, Sultan Mahmud Perkasa Alam (putra Sultan Osman) melakukan renovasi besar-besaran.

Ukurannya diperluas menjadi 26x26 meter dengan struktur batu permanen. Yang menarik, arsitektur masjid ini memadukan berbagai gaya Eropa (desain minimalis pada dinding), Timur Tengah (kubah dan kaligrafi), India (ornamen lengkung mirip Taj Mahal), Tiongkok (warna dan detail pintu), dan Melayu Deli (corak lokal yang khas).

Perpaduan ini menjadikan Masjid Al Osmani sebagai mahakarya seni yang masih memesona hingga kini.

Ramadhan Penuh Kebersamaan dan Tradisi Unik

Selama Ramadhan, Masjid Al Osmani menjadi pusat kegiatan keagamaan yang dinamis. Beberapa rutinitas yang digelar antara lain Salat Tarawih dengan jamaah tetap yang setia, buka puasa bersama, termasuk hidangan spesial "Bubur Pedas" setiap Kamis malam Jumat – menu legendaris yang selalu dinantikan warga, kuliah Subuh, pengajian Nuzulul Quran, dan persiapan menyambut Syawal.

Tak hanya untuk jamaah tetap, masjid ini juga ramah terhadap musafir. Khususnya pekerja dari Belawan yang kerap singgah untuk berbuka sebelum melanjutkan perjalanan pulang.

"Bubur Pedas kami tiap Kamis malam, puluhan ibu-ibu dan anak-anak datang khusus untuk menikmatinya," ujar H. Ahmad Faruni, Ketua BKM Al Osmani. Jum'at (28/3/2025).

Warisan Budaya yang Tetap Hidup di Era Modern

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved