Catatan Sepak Bola

PSMS Bapuk, Apa yang Salah?

Pencapaian PSMS ini pada dasarnya bukan kejutan. Dalam hal ini, kejutan yang dimaknai sebagai perkara yang betul-betul tidak diperkirakan sebelumnya.

Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: T. Agus Khaidir
TRIBUN MEDAN/ABDAN SYAKURO
LEWATI LAWAN - Pemain PSMS Medan Fardan Harahap (tengah) mencoba melewati pemain Sriwijaya FC pada lanjutan Kompetisi Liga 2 musim 2023-2024 di Stadion Teladan, Medan, Senin (23/10/2023). PSMS bermain imbang melawan Sriwijaya FC dengan skor 2-2. 

PUTARAN pertama kompetisi sepak bola Liga 2 musim 2023-2024 sudah berakhir dan PSMS tercecer di zona yang sama sekali tidak nyaman. Enam laga, skuat Ayam Kinantan –julukan PSMS– hanya mampu mengemas delapan poin: satu kali menang dan lima kali seri. Tertinggal enam poin dari Persiraja Banda Aceh yang memuncaki klasemen.

Tentu saja ini berbahaya. Alih-alih mewujudkan target lolos ke Liga 1 musim depan, PSMS justru bisa terperosok dan jatuh ke Liga 3. Mengacu pada regulasi Badan Liga Indonesia (BLI), tiga klub teratas masing-masing grup [terdiri empat grup] lolos ke fase play off promosi Liga 1, sebaliknya empat klub terbawah adalah berlaga di play off degradasi. PSMS mengakhiri putaran satu di posisi empat [disebut-sebut naik ke posisi tiga lantaran Sriwijaya mendapatkan sanksi pengurangan poin karena dalam satu laga tidak menyertakan pemain di bawah usia 21 dalam skuat].

Pencapaian PSMS ini pada dasarnya bukan kejutan. Dalam hal ini, kejutan yang dimaknai sebagai perkara yang betul-betul tidak diperkirakan sebelumnya. Katakanlah seperti kejatuhan yang dialami Ajax Amsterdam di Eredivisie. Pemegang rekor juara 36 kali ini sekarang tersuruk di peringkat 17. Sampai pekan kesembilan mereka sudah kalah empat kali.

PSMS tidak berada di posisi yang sama. Kemerosotan Ajax adalah kejutan, sedangkan PSMS sejak awal musim memang sudah meragukan. Teknis dan nonteknis.

Secara teknis, pemain-pemain yang direkrut PSMS tidak menghadirkan keyakinan. Benar bahwa ada sebagian di antara mereka yang pernah mengenyam pengalaman bermain di klub-klub Liga 1. Namun, ya, berhenti sekadar pada “labelisasi”. Di Liga 1, para pemain ini berada di kelompok ‘grade’ terbawah. Kalah jika dibandingkan dengan ‘grade’ pemain “lepasan” Liga 1 di klub-klub kompetitor.

Kedua tentu saja pelatih. Manajemen memercayakan skuat PSMS, yang notabene dibangun dari nol lagi setelah dibubarkan pascapenghentian kompetisi musim sebelumnya, kepada Ridwan Saragih.

Ini celaka lebih lanjut. Sebagai pelatih Ridwan belum pernah mencatatkan torehan-torehan gemilang. Bentangan kariernya masih pendek. Riwayat kepelatihan Ridwan lebih banyak berkutat di klub lokal PSAD, lalu menjadi asisten di PSMS dan Sriwijaya FC, masing-masing selama satu musim. Selain PSAD, ia menjabat pelatih kepala saat menangani PSMS Junior.

Ridwan Saragih memang mengantongi lisensi A. Namun dengan rekam jejak yang sama sekali tidak cemerlang, pantaskah manajemen membebaninya target lolos ke Liga 1? Rasa-rasanya berlebihan.

LEPASKAN TEMBAKAN - Pemain PSMS Medan Ridho Syuhada (dua kanan) melepaskan tembakan ke arah gawang Persiraja Banda Aceh pada satu momentum pertandingan lanjutan Kompetisi Liga 2 musim 2023-2024 di Stadion Teladan, Medan, Minggu (24/9/2023). PSMS bermain imbang melawan Persiraja Banda Aceh dengan skor 1-1.
LEPASKAN TEMBAKAN - Pemain PSMS Medan Ridho Syuhada (dua kanan) melepaskan tembakan ke arah gawang Persiraja Banda Aceh pada satu momentum pertandingan lanjutan Kompetisi Liga 2 musim 2023-2024 di Stadion Teladan, Medan, Minggu (24/9/2023). PSMS bermain imbang melawan Persiraja Banda Aceh dengan skor 1-1. (TRIBUN MEDAN/ABDAN SYAKURO)

Sampai di sini mencuat pertanyaan. Kenapa manajemen PSMS tetap menunjuk Ridwan Saragih? Apakah mereka tidak bisa mencari pelatih lain yang lebih mumpuni? Apakah manajemen tidak memiliki modal yang cukup untuk merekrut pelatih berkelas? Atau, jangan-jangan, iya, jangan-jangan manajamen PSMS “terpenjara” oleh “titah perintah” pimpinan tertinggi klub yang menginginkan pelatih berasal dari kalangan tertentu.

Makin ke sini, apa boleh buat, “kecurigaan” memang kian mengarah ke pertanyaan ketiga dan keempat. Manajemen PSMS kekurangan modal, dan oleh sebab itu memilih untuk merekrut pelatih dari kalangan tertentu. Kecurigaan mengerucut lantaran setelah pendepakan Ridwan Saragih, penggantinya tidaklah lebih baik. Lagi-lagi bukan pelatih dengan reputasi besar. Ridwan out, Miftahudin Mukson in.

Siapa Mukson? Situs transfermarkt mencatat Mukson pernah menangani Persija Jakarta, PS TIRA, TIRA-Persikabo, Borneo FC, dan Persekat Tegal.

Dari sisi jumlah klub, Mukson unggul dari Ridwan. Namun jika ditilik lebih jauh, ini tidak lantas membuat dirinya bisa disimpulkan lebih berkualitas. Di klub-klub ini, kecuali Persikat, Mukson menjadi asisten pelatih. Atau paling jauh pelatih interim atau pengganti. Rata-rata tidak lama pula. Pun di Persekat. Sebagai pelatih kepala, Mukson hanya bertahan tiga bulan dan membawa tim melakoni empat laga. Di laga terakhirnya sebelum memutuskan mengundurkan diri, Persekat disikat Persipati Pati tiga gol tanpa balas.

Lalu kenapa Mukson? Kenapa manajemen PSMS yang –pada akhirnya– ikut tidak yakin Ridwan Saragih dapat membawa PSMS ke Liga 1 justru memercayakan perbaikan tim kepada pelatih yang bahkan di klub sekelas Persekat Tegal pun terseok-seok? Apa yang jadi pertimbangannya? Mungkinkah hanya karena kendala modal?

Lihatlah, setelah putaran pertama berakhir pergerakan PSMS sangat lamban. Tidak ada, misalnya, kabar perombakan skuat yang akan dilakukan. Tidak ada selentingan-selintingan pemain baru yang masuk. Padahal berkaca dari performa PSMS yang bapuk sepanjang putaran pertama, perombakan layak dilakukan. Bahkan harus!

Namun PSMS sejauh ini adem ayem saja. Padahal klub-klub lain berlomba melakukannya. Persiraja Banda Aceh, pemuncak klasemen yang performanya paling stabil di putaran pertama, mendatangkan empat pemain baru. PSPS, terlepas dari benar atau tidak, dirumorkan bakal membawa masuk bintang Persija Marko Simic dengan status pinjaman.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved