Pembunuhan di Subang
Amalia Dibunuh: Baru Lulus Kuliah, Baru Dibelikan Mobil Yaris, dan Baru Jabat Sekretaris Yayasan
Semasa hidupnya, Amalia dikenal sebagai gadis yang manja dan gaul. Ia juga dikenal sebagai gadis cantik yang stylish dalam berbusana.
Sebagaimana diberitakan sebelumnya, kasus ini terungkap berawal dari Danu yang menyerahkan diri ke pihak kepolisian, Selasa (17/10/2023). Kepada polisi, Danu mengaku sudah lama ingin membuka kasus tersebut, tapi dirinya diancam oleh pelaku lainnya. Yosep dan Danu saat ini telah ditahan, sementara ketiga tersangka lainnya masih dalam pemeriksaan.
Baca juga: FAKTA BARU Pembunuhan Ibu dan Anak di Subang: Mimin Kesal Setiap Minta Uang Harus Persetujuan Tuti
*Latar Belakang Keluarga dan Usaha yang Dikelola*
Yosef Hidayah memiliki dua istri. Istri pertama Tuti Suhartini (korban). Dari pernikahan ini lahir dua anak, yaitu Yoris Raja Amanullah dan Amalia Mustika Ratu (korban).
Kemudian, Yosef Hidayah menikah dengan Mimin Tinarsih. Dari Tinarsih memiliki dua anak laki-laki, yaitu Reksa Pratama dan Abi.
Sementara, M Ramdanu alias Danu merupakan keponakan dari Tuti Suhartini. Danu merupakan anak angkat dari Lilis Sulastri, kakak kandung Tuti Suhartini (korban).
Keluarga ini mengelola salah satu usaha di bidang pendidikan Yayasan Bina Prestasi Nasional.
Yayasan Bina Prestasi Nasional yang mengelola SMP dan SMA ini terletak di Desa Cijengkol, Kecamatan Serangpanjang, Subang.
Yayasan pendidikan ini berdiri sejak Juli 2008 dan mendapat SK pengesahan pendirian pada 2009. Yayasan ini juga tercatat dalam situs verifikasi dan validasi Kemendikbud.
Yayasan Bina Prestasi Nasional mempunyai SK Pengesahan Badan Hukum Menkumham : AHU-0011534.AH.01.04.
*Usai Pembunuhan, Terjadi Pencairan Uang dan Perombakan Pengurus Yayasan*
Setelah terjadi pembunuhan Tuti dan Amalia, Yosef Hidayah menempati jabatan sebagai Ketua Yayasan Bina Prestasi Nasional.
Sedangkan Yoris Raja Amarullah menjadi kepala sekolahnya. "Kata Yoris, Mimin kesel kali minta uang teh harus ke mama terus, kan mama bendahara. Mungkin yah," kata Leni.
Informasi dari Yoris, kata Leni, sebagian staf di yayasan tersebut merupakan keluarga Mimin. "Stafnya di Yayasan itu memang banyak dari keluarga bu Mimin" katanya.
Leni Anggraeni menerangkan kesaksian Yoris, tak ada proyek bernilai fantastis di yayasan tersebut. Katanya, hanya ada pencairan dana BOS.
"Kalau setahu Yoris gak ada proyek (nilai fantastis). Tahunya ada dana BOS aja. Gak ada uang lain-lain, kalau pengakuannya Yoris," kata Leni.
Dana BOS di yayasan tersebut cair dua atau tiga kali per tahunnya. Nominalnya sekitar Rp 200 juta sampai Rp 300 juta sekali cair.
"Dari satu yayasan bisa Rp 1 miliar. Itu bukan uang (pribadi), buat sekolah, buat guru. Gak mungkin bisa di (mainkan) ini," kata Leni.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/Amalia-Dibunuh-Baru-Dibelikan-Mobil-Yaris.jpg)