Viral

Tangis Pilu Albert Francis, Antarkan Jasad Alvaro ke Pemakaman: Ketemu Papi di Surga ya Nak !

Terlihat keduanya tak kuasa menahan tangis mengantar peti berisi jenazah putranya untuk terakhir kalinya menuju pusara. 

Tayang:
Editor: Satia
Istimewa
Tangis Ayah Antarkan Jasad Alvaro ke Pemakaman 

TRIBUN-MEDAN.COM, MEDAN - Tangis pilu ayah Alvaro, bocah 7 tahun yang meninggal diduga korban malapraktik di Rumah Sakit (RS) Kartika Husada Jatiasih, Kota Bekasi.

Bocah ini awalnya datang ke rumah sakit untuk melakukan operasi amandel.

Akan tetapi, seusai operasi, Alvaro malah mengalami mati batang otak.

Pihak keluarga begitu terpukul ditinggal Alvaro untuk selama-lamanya.

Mereka tak menyangka, anak yang sehari-hari mereka rawat kini tak lagi menghiasi hari-harinya.

Alvaro meninggal setelah sebelumnya koma selama lebih dari 10 hari, jasadnya dimakamkan di Taman Pemakaman Umum (TPU) Pedurenan, Kota Bekasi, Rabu (4/10/2023) kemarin.

Dari pantauan Kompas.com (grup TribunTrends.com) di lokasi, ambulance pengantar jenazah Alvaro tiba di TPU Padurenan pada pukul 12.57 WIB, diantar orangtua, keluarga besar dan teman-teman sekolahnya.

Baca juga: PENAMPAKAN Menteri Pertanian SYL di Kantor Kementerian Pertanian hingga Berpamitan ke Pegawai

Proses pemakaman berjalan dengan khidmat, serta diiringi oleh isak tangis keluarga yang ditinggalkan.

Terutama, ayah dan ibu Alvaro, Albert Francis dan Delima Sinaga.

Terlihat keduanya tak kuasa menahan tangis mengantar peti berisi jenazah putranya untuk terakhir kalinya menuju pusara. 

Tangis Albert dan Delima pecah ketika peti jenazah Alvaro mulai diturunkan ke liang lahat.

Sebelum ditutup, keduanya menaburkan bunga sembari mengucapkan perpisahan.

"Selamat jalan anakku...," ujar Delima Sinaga sembari menangis saat menaburkan bunga di pemakaman Alvaro.

Albert juga mengucapkan hal yang sama. Ia berharap dapat bertemu kembali dengan sang anak di surga.

"Selamat jalan ya, Nak. Ketemu Papi di surga ya," tutur Albert.

Pemakaman selesai pukul 13.30 WIB.

Baca juga: SOSOK Mertua Tasya Kamila, Pilih Bercerai Usai 34 Tahun Menikah, Ayah Randi Bachtiar Kuak Alasannya

Albert mengucapkan terima kasih kepada seluruh keluarga dan kerabat yang ikut mengantarkan anaknya ke tempat peristirahatan terakhir.

"Terima kasih dari hati kami terdalam, kami saat ini benar-benar menyadari bahwa anak kami ini adalah sosok yang menjadi pemberkat bagi kita semua," ujar Albert.

Kini anak keduanya telah tiada, Albert dan keluarga hanya bisa memanjatkan doa untuk Alvaro. Ia berharap anaknya berpulang dengan damai.

Di akhir kalimatnya, Albert berterima kasih kepada Alvaro. Meski hanya bersamanya selama tujuh tahun, A telah memberikan kebahagiaan.

"Terima kasih, nak, papi senang karena engkau telah pergi dengan damai ke rumah Bapa di surga.

Tolong persiapkan segala sesuatunya di sana untuk kami semua keluargamu, Nak," pungkasnya.

Baca juga: Tips Menjaga Kesehatan dalam Kondisi Cuaca Ekstrem

Maafkan pihak RS

Sebelum meninggal dunia, Alvaro menjalani operasi amandel pada Selasa (19/9/2023). Empat hari setelah operasi, dia diagnosis mati batang otak dan koma selama 13 hari.

Pihak RS Kartika Husada, Jatiasih, telah menyampaikan permintaan maaf atas kekecewaan keluarga selama Alvaro dirawat.

"Kami dalam ajaran agama kami, kami diajarkan untuk bisa memaafkan bahkan kami tidak boleh mempunyai dendam tersendiri terhadap siapa pun," ujar Albert usai pemakaman Alvaro.

Terlepas dari adanya kesengajaan atau tidak dalam meninggalnya sang anak, Albert telah memaafkan pihak RS.

Dengan itu, Albert berharap anaknya dapat pergi dengan tenang ke sisi Tuhan.

"Kami maafkan baik disengaja maupun yg tidak disengaja. Saat ini saya pribadi sudah memberikan maaf, karena itu juga menjadi doa dan jalan bagi anak saya," papar dia.

Albert menyebut, manajemen RS juga telah secara pribadi menyampaikan permintaan maaf kepadanya.

Baca juga: Kondisi Dua Rumah Mewah Mentan SYL di Makassar saat Digeledah KPK

Masih pertanyakan penyebab mati batak otak

Meski telah menerima permintaan pihak RS, Albert dan keluarga sebetulnya masih bertanya-tanya penyebab Alvaro bisa terkena mati batak otak usai operasi amandel.

"Penyebab pasti itu masih (dijelaskan karena) risiko, merupakan bagian dari risiko operasi. Saat ini kami sebenarnya memang masih bertanya-tanya," imbuh Albert.

Masih banyak pertanyaan-pertanyaan yang mengganjal hati Albert. Akan tetapi, keluarga mencoba untuk ikhlas.

Sebagai ayah, Albert khawatir pemikiran itu justru memberatkan sang anak yang kini telah kembali ke Tuhan Yang Maha Esa.

Baca juga: VIRAL Remaja 16 Tahun Dipukuli dan Dianiaya Oleh Polisi Sampai Koma, Diduga Langgar Aturan Hijab

"Apa sih penyebabnya? Kenapa sih anak saya bisa sampai mati batang otak?

Tapi kalau kita keluarga berpikir, kalau kita masih bertanya-tanya seperti itu berarti anak kami tidak akan tenang jalannya," tuturnya.

Sampai sekarang, pihak rumah sakit belum menjelaskan penyebab Alvaro didiagnosis mati batang otak.

Minta kerja pakai hati

Terlepas dari permasalahan Alvaro, Albert berpesan untuk setiap orang harus bekerja dengan hati. Terutama bagi mereka yang bekerja di bidang jasa.

"Saya cuma mau memohon kepada kita semua, mungkin dari pihak rumah sakit dan bidang bidang jasa lainnya yang memang mengutamakan jasa dan kemanusiaan, tolong kerja dari hati," ucapnya.

Menurut Albert, apabila bekerja dengan hati maka semua akan terjalin dengan baik. Kesalahan atau kelalaian pun dapat dihindari.

"Kalau kita kerja dari hati, otomatis semuanya akan terjalan dengan baik, kerja dengan baik, tidak akan ada yang namanya kesalahan ataupun kelalaian ataupun itu," paparnya.

Untuk itu, Albert meminta agar ke depannya setiap pekerja di bidang apapun itu dapat memberikan pelayanan dari hati agar tidak terulang seperti Alvaro.

Baca juga: SOSOK Miftahudin Mukson, Polisi Militer yang Digadang Jadi Pelatih PSMS Medan

"Semoga anak kami membawa hikmah positif dan pelajaran bagi kita semua," ujar Albert.

Pihak Rumah Sakit Minta Maaf

Pihak Rumah Sakit (RS) Kartika Husada Jatiasih, Kota Bekasi angkat bicara soal kasus Alvaro yang meninggal dunia diduga malapraktik.

Komisaris RS Kartika Husada Jatiasih dr. Nidya Kartika mengatakan, pihaknya meminta maaf kepada keluarga pasien atas apa yang telah terjadi.

"Dari hati yang paling dalam, kami mohon dimaafkan segala kekurangan yang menimbulkan kekecewaan selama dilakukan pengobatan dan perawatan," kata Nidya, Selasa (3/10/2023).

Baca juga: VIRAL Emak-emak Geruduk Toko Obat, Resah Anaknya Terancam Dikeluarkan dari Sekolah Gegara Tramadol

Nidya menegaskan, pihaknya berupaya semaksimal mungkin melakukan pelayanan terhadap pasien dan tidak ada niat apapun dari tim medis yang dapat menimbulkan risiko.

"Insya Allah, sejak awal tindakan perawatan maupun pengobatan untuk adik BA (Benekdiktus Alvaro) dari hari dan menit pertama tim medis berupaya memberikan yang terbaik," jelas dia.

"Tidak mungkin ada niat apapun dari tim medis juga pihak rumah sakit yang merugikan atau menelantarkan pasien anak BA," tambahnya.

Dia tidak menapik telah terjadi kesalahpahaman komunikasi antara pihaknya dengan keluarga pasien Alvaro, terkait permintaan resume medis.

Saat itu lanjut Nidya, keluarga meminta resume medis bertujuan agar bisa bersama-sama mencari rujukan rumah sakit yang lebih lengkap.

Baca juga: Baru Terungkap, Ternyata Ahli Forensik Terima Uang Tutup Mulut Kasus Kopi Sianda Jessica Wongso

"Hal ini baru saya ketahui hari Jumat kemarin tanggal 29 September 2023, setelah saya menemui keluarga adik BA, kami berkomunikasi dengan baik, dua arah setelah itu baru kamu mengerti apa yang diinginkan keluarga," jelas dia.

Manajemen RS Kartika Husada Jatiasih juga telah melakukan rapat khusus untuk penanganan pasien anak bernama Alvaro, termasuk mencari rumah sakit rujukan.

Kondisi Alvaro kata dia, merupakan pasien yang masuk kategori non-transferable atau sulit untuk dipindah untuk dilakukan rujukan.

Perlu kendaraan medis khusus yang memungkinkan memindahkan Alvaro, hal ini pula yang menjadi pertimbangan dalam proses rujukan.

Titik terang mencari rumah sakit rujukan muncul pada Minggu (1/10/2023), satu hari sebelum Alvaro dinyatakan meninggal dunia.

"Akomodasi sudah stand by, konsultasi dengan konsultan medis sudah terjadwal, tapi kondisi adik BA semakin menurun dan semakin jauh dari harapan, pada hari Senin kemarin adik BA tidak bisa bertahan," kata Nidya.

Baca juga: BERITA TERKINI Menteri SYL Datangi Istana Mengundurkan Diri? Jokowi Jawab soal Pertemuan

Kronologi

Albert bercerita awalnya sang anak mengalami sakit amandel yang sudah membesar.

Saat berobat, pihak puskesmas menyarankan agar amandel tersebut segera di angkat.

Namun, betapa terkejutnya ibu dari A saat anaknya tiba-tiba dibawa ke ruang operasi.

"Dijadwalkan tindakan operasi pukul 12.00, akan tetapi ditunggu pukul 12.00 belum datang, jadi istri saya berpikir bisa dia mandi sebentar," kata Albert dikutip dari Kompas.com, Sabtu (30/9/2023).

Pada saat dia masih mandi tiba-tiba perawat datang untuk membawa anak saya ke ruang operasi tanpa istri saya ketahui," imbuhnya.

Baca juga: Menteri Syahrul Yasin Limpo Segera Mundur dari Jabatan Menteri Pertanian, Dikabarkan Jadi Tersangka

Albert menuturkan, istrinya terkejut mengetahui anaknya tidak ada di kamar rawat.

Sang ibu lantas syok saat melihat anaknya sudah dipindahkan ke ruang operasi.

"Istri saya mendapatkan lokasi ruang operasi, akan tetapi anak saya sudah berada di dalam ruang operasi." bebernya.

"Istri saya sudah tidak dijinkan masuk atau menemui anak saya," ujar Albert.

Istri Albert lalu diberikan kertas untuk ditandatangani sebelum A menjalani operasi amandel.

"Istri disodorkan form untuk ditandatangani, dikarenakan sedang panik jadi dia hanya tanda tangan tanpa benar-benar paham apa isi form tersebut," imbuhnya.

Dari pukul 12.30 WIB, A menjalani operasi selama satu jam.

Setelah itu, dokter THT memberikan informasi operasi berjalan lancar.

Baca juga: Kementerian Pertanian Buka 493 Formasi CPNS 2023, Berikut Link dan Rinciannya

Selanjutnya, dari penuturan Albert, dokter anestesi yang mengambil alih untuk menyadarkan kembali anaknya.

"Tetapi di saat itu anak saya terlihat kesusahan dalam mengambil napas karena terlihat anak saya berusaha mengambil napas lewat mulutnya sekitar tiga kali seperti orang mendengkur keras," jelas Albert.

A kemudian mengalami henti napas dan henti jantung.

Dokter anestesi dan perawat langsung melakukan resusitasi jantung dan memasang ventilator.

Albert menuturkan, setelah itu sampai dengan hari Kamis, kondisi A mengalami penurunan tingkat kesadaran.

A tiba-tiba mengalami hilang kesadarannya.

"Di hari Jumat malam pihak dokter mendiagnosis anak saya sudah mati batang otak berdasarkan nilai GCS (Glasgow Coma Scale) anak saya," ucapnya.

Sampai dengan saat ini, kata Albert, anaknya masih terbaring di rumah sakit.

Pihak RS belum memberikan penjelasan detail.

"Barusan direktur utamanya datang ke saya minta maaf dan saat ini saya minta tindakan nyata dan pertanggungan jawabnya untuk anak saya ini," jelasnya.

 

Artikel ini Tayang di Tribun Trends

Baca Berita Tribun Medan Lainnya di Google News

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved