Suhu Panas

PBB Sebut Bumi Makin Mendidih, Suhu Terpanas Indonesia Capai 36,5 Derajat Celcius

Setelah bulan Juli tercatat menjadi bulan terpanas dalam sejarah, PBB mengklaim bahwa bumi kini semakin mendidih. PBB juga mewanti-wanti agar manusia

Tayang: | Diperbarui:
Ho / Tribun
Setelah bulan Juli tercatat menjadi bulan terpanas dalam sejarah, PBB sebut bumi kini semakin mendidih. 

Suhu yang tinggi melebihi rekor ini juga menyebabkan kebakaran di Yunani, Kanada dan Aljazair.

Menurut laporan Administrasi Meteorologi China, stasiun pemantau cuaca Sanbao di Turpan yang terletak di provinsi Xinjiang mencatat suhu 52,2 derajat Celsius pada 16 Juli, sehingga menciptakan rekor baru bagi negara tersebut.

Suhu udara permukaan laut juga mencapai rekor tertinggi.

Bahkan di Kutub Selatan, yang sekarang ini sebenarnya masih musim dingin, menambah rekor dengan suhu yang lebih tinggi dari biasanya.

Ilmuwan cuaca dari University of New South Wales Associate Professor Sarah Perkins-Kirkpatrick mengatakan, semua ini tentu saja berdampak besar bagi manusia penghuni planet Bumi.

"Kita berbicara mengenai suhu di 40 derajat atau lebih tinggi yang terjadi hampir setiap hari selama gelombang panas di daerah seperti Italia dan Yunani," katanya.

"Ini sangat menyiksa. Tidak mudah untuk menyesuaikan diri dengan hal tersebut. Seberapa pun bugarnya Anda,” tuturnya.

Disisi lain, menurut Badan Meteorologi dan Klimatologi Indonesia (BMKG), suhu di Indonesia juga sudah mencapai 36,5 derajat celcius.

Suhu maksimum yang tertinggi ini terjadi di Stasiun Meteorologi Klimarau, Berau, Kalimantan Timur pada 31 Juli 2023 lalu.

Baca juga: Tempat Pelelangan Ikan di Brandan Timur Roboh, 5 Orang Jadi Korban

Baca juga: Dermaga TPI di Pangkalan Brandan Roboh dan Lima Warga Terluka, Berikut Identitas Korban

Baca juga: Indonesia Berpotensi Alami Musim Kemarau Lebih Kering setelah Dilanda Suhu Panas

Penyebab Suhu Panas

Lantas, apa penyebab suhu panas di bumi saat ini ?

Disampaikan Dr Perkins-Kirkpatrick ternyata penyebab pecahnya rekor suhu panas tersebut disebabkan karena meningkatnya emisi gas rumah kaca.

"Memang kemungkinan gelombang panas terjadi di musim panas, namun tidak akan terjadi selama ini atau sekuat ini tanpa adanya perubahan cuaca," kata Dr Perkins-Kirkpatrick.

Sementara itu, Direktur Institute for Climate, Energy and Disaster Solutions Mark Howden mengatakan, yang juga mengkhawatirkan adalah fenomena cuaca El Nino baru mulai terjadi lagi.

Dampak udara panas ini memang bervariasi antarnegara, namun secara keseluruhan membuat suhu udara global lebih tinggi dari rata-rata.

Sumber: Kompas.com
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved