Rusia vs Ukraina

Gunakan Bom Tandan, Drone Ukraina Hantam Gudang Amunisi Militer Putin, Seorang Jurnalis Rusia Tewas

Serangan ini kurang dari seminggu setelah serangan dini hari terhadap jembatan utama yang menghubungkan semenanjung itu dengan Rusia

Tayang: | Diperbarui:
Editor: AbdiTumanggor
istimewa
Seorang koresponden perang untuk kantor berita Rusia, RIA Novosti, dilaporkan tewas akibat serangan bom tandan Ukraina di dekat garis depan di Wilayah Zaporizhzhia, tenggara Ukraina, Sabtu 22 Juli 2023. Sementara itu, tiga jurnalis Rusia lainnya terluka dalam peristiwa yang sama. Kementerian Pertahanan Rusia menyatakan, para jurnalis Rusia itu terluka dalam serangan artileri Ukraina. Mereka lantas dievakuasi dari medan perang. Akan tetapi, koresponden RIA bernama Rostislav Zhuravlev tewas saat dalam perjalanan. (istimewa) 

Pada Sabtu pagi, Angkatan Udara Ukraina mengatakan bahwa mereka telah berhasil menjatuhkan 14 drone Rusia, termasuk lima drone buatan Iran, di wilayah tenggara negara itu, tempat pertempuran sedang berkecamuk.

Dalam pembaruan media sosial rutin, angkatan udara tersebut mengatakan bahwa seluruh drone Shahed buatan Iran yang diluncurkan oleh pasukan Rusia selama malam hari berhasil dihancurkan, menunjukkan tingkat keberhasilan Ukraina yang semakin meningkat dalam menetralkan mereka.

Rusia sebut serangan bom tandan AS

Bom tandan biasanya menebarkan sejumlah bom-bom kecil di area yang sangat luas sehingga dapat menewaskan atau melukai banyak warga sipil yang tidak waspada selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun kemudian. Dalam sejarahnya, bom tandan yang pertama kali digunakan secara signifikan adalah Sprengbombe Dickwandig berbobot 2 kilogram buatan Jerman yang digunakan Luftwaffe (Angkatan Udara Jerman) pada masa Perang Dunia Kedua.

Tidak hanya oleh Nazi Jerman, pengeboman melalui udara pada Perang Dunia Kedua juga dilakukan oleh pesawat negara-negara Sekutu seperti pengeboman terhadap Dresden di Jerman (yang menewaskan lebih dari 25.000 warga di kota tersebut), serta pengeboman Tokyo yang dilakukan beberapa kali, khususnya pada 1944-1945, yang menghabisi nyawa lebih dari 100.000 warga sipil. Sayangnya, jumlah korban yang besar itu tidak membuat penggunaan bom tandan dihentikan, bahkan tetap terus digunakan sepanjang abad ke-20 dan terus berlanjut hingga abad ke-21 ini, termasuk dalam konflik Rusia dan Ukraina sekarang ini.

Padahal, pada Perang Lebanon 2006, di mana Israel banyak menggunakan bom tandan, menjadi momentum bagi berbagai negara untuk melarang penggunaan amunisi bom tandan. Pergerakan dari banyak negara itu akhirnya melahirkan Convention on Cluster Munitions atau Konvensi Munisi Tandan yang melarang penggunaan bom tandan. Konvensi yang diadopsi pada 30 Mei 2008 di Dublin dan mulai ditandatangani pada 3 Desember 2008 itu hingga 2023 telah diratifikasi oleh 111 negara.

Kedua belah pihak

Namun, pada konflik Rusia-Ukraina terbaru yang berawal dari invasi pasukan Rusia ke wilayah Ukraina pada Februari 2022, ditemukan masih ada penggunaan bom tandan oleh kedua belah pihak. Organisasi hak asasi manusia Human Rights Watch (HRW) dalam laporannya yang diterbitkan pada Kamis (6/7), menyatakan baik pasukan Rusia maupun Ukraina menggunakan amunisi tandan yang menewaskan warga sipil Ukraina. Untuk itu, HRW mendesak Rusia dan Ukraina untuk berhenti menggunakan senjata tersebut, dan mendesak Amerika Serikat (AS) untuk tidak memasok persenjataan jenis itu. AS, Rusia, dan Ukraina, termasuk negara yang menolak untuk meratifikasi konvensi yang melarang penggunaan bom tandan.

Ukraina sendiri telah amunisi klaster atau bom tandan dari Amerika Serikat. Menurut penasihat politik kepresidenan Ukraina Mykhailo kepada Reuters pada Jumat (7/7/2023), pasokan bom tandan dari AS merupakan amunisi tambahan bagi Ukraina yang berkontribusi sangat penting untuk melawan pendudukan Rusia. Podolyak berpendapat bahwa amunisi tandan akan mampu menimbulkan dampak psikologis yang sangat luar biasa terhadap kelompok pasukan pendudukan Rusia yang saat ini menurut dia sudah menurun semangatnya.

Ukraina membutuhkan lebih banyak amunisi dan sangat berterima kasih kepada negara mitra yang "memahami kenyataan keras dari perang," kata Podolyak.

Pemerintah AS sendiri pada Jumat (7/7) juga secara resmi telah mengumumkan mengirimkan amunisi klaster atau bom tandan ke Ukraina, sebagai bagian dari paket keamanan senilai 800 juta dolar AS (sekitar Rp12,12 triliun). Jake Sullivan, penasihat keamanan nasional Presiden Joe Biden, kepada wartawan menyatakan bahwa pihaknya menyadari bahwa amunisi tandan menimbulkan risiko bahaya bagi warga sipil, termasuk dari bom yang tidak meledak.

Untuk itu, ujar dia, pihaknya sebenarnya telah lama menunda keputusan untuk mengirimkan amunisi bom tandan ke Ukraina. Namun, AS menyadari bahwa ada risiko yang sangat besar bila pasukan dan tank Rusia mencaplok lebih banyak wilayah Ukraina sehingga menaklukkan daerah di mana banyak warga sipil Ukraina, bila Ukraina tidak memiliki cukup artileri, kata Sullivan.

Sulivan menyatakan bahwa Ukraina telah memberikan jaminan tertulis bahwa mereka akan menggunakan bom tandan itu dengan sangat berhati-hati untuk meminimalkan risiko terhadap warga sipil.

Sempat ditolak negara sekutu

Langkah yang dilakukan AS itu diikuti oleh pernyataan dari berbagai negara sekutu lain yang menyatakan bahwa mereka tidak akan mengirimkan bom tandan untuk Ukraina. Menteri Pertahanan Spanyol Margarita Robles pada Sabtu (8/6/2023) mengatakan bahwa bom tandan tidak boleh dikirim untuk membantu Ukraina. "Spanyol, berdasarkan komitmen tegas kami dengan Ukraina, juga memiliki komitmen tegas bahwa senjata dan bom tertentu tidak dapat dikirim dalam keadaan apa pun," kata Margarita Robles.

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved