Penganiayaan

Kronologi Pekerja PT RGA Ngaku Disekap dan Diintimidasi Oknum TNI, Berikut Identitas Pelaku

Seorang pekerja PT RGA, Wahyu Abdi Rangkuti yang menjadi korban penyekapan dan intimidasi di markas Deninteldam I/BB resmi buat pengaduan.

Tayang:
TRIBUN MEDAN/ALFIANSYAH
Wahyu Abdi Rangkuti saat menunjukkan bukti laporannya di Denpom I/5 Medan dan juga Polrestabes Medan, Senin (19/6/2023). 

Dikatakannya, ketika itu ia tidak berfikir akan dibawa ke Markas Deninteldam I/BB yang terletak di Jalan Beringin Raya, Helvetia.

Dia sempat berfikir, akan dibawa ke kantor PT RGA yang berbeda di Kota Medan.

"Saya di suruh turun di bagian piket jaga, disuruh nunggu, saya minta hp saya untuk mengabari keluarga, cuma nggak di kasih," ucapnya.

Wahyu menjelaskan, tak lama datang oknum Denintel memintanya untuk masuk ke ruangan belakang.

Setelah masuk, pintu ruangan pun ditutup dan dia bersama temannya menunggu di dalam ruangan tersebut.

"Lalu, masuklah oknum Denintel ini lagi, di situ dia marah-marah sama saya, diancamnya saya dengan pistol ke paha kanan saya, dibentak-bentak nya," ungkapnya.

Kemudian, dijelaskannya oknum Denintel itu pun silih berganti mendatangi nya untuk mengintimidasi dirinya dan temannya itu.

Tak lama, pimpinan PT RGA pun datang ke ruangan tersebut dan langsung menendangnya dan juga memukul dirinya.

"Pimpinan RGA ini menendang saya, memukul saya dengan kertas, baru oknum Denintel memukul saya dengan kemoceng, saya visum bagian kaki kiri," katanya.

Lalu, datang lagi seseorang yang dipanggil Komandan oleh para anggotanya ke ruangan tersebut, dan meminta agar ia disetrum.

Ternyata, saat itu baru diketahui bahwa tujuan menyandera dan mengintimidasi dirinya agar ia mengaku telah menggelapkan uang perusahaan sebesar Rp 629 juta.

Padahal, uang yang diterimanya pada bulan Agustus 2022 itu untuk membayar upah pekerja proyek gedung Alquran di Pekanbaru itu.

Lantaran, ia di perusahaan menjabat sebagai Site Manager.

"Habis itu saya disuruh buat surat pernyataan untuk mengembalikan uang itu. Surat nya saya yang buat, karena dipaksa dan dibawah ancaman," bebernya.

"Saya depresi, dipikiran saya cuma pingin pulang. Si teman saya Surono juga disuruh buat surat serupa," tambahnya.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved