Berita Viral
Ratusan Masyarakat Baduy Protes Agar Sinyal Internet di Desanya Dihapus, Alasannya Sangat Mulia
Ratusan masyarakat suku Baduy melakukan protes agar sinyal internet dihilangkan dari desanya.
TRIBUN-MEDAN.com - Ratusan masyarakat suku Baduy melakukan protes agar sinyal internet dihilangkan dari desanya.
Para masyarakat yang tergabung dalam Lembaga Adat Baduy meminta pemerintah untuk menghapus sinyal internet di Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten.
Permintaan tersebut disampaikan melalui surat kepada Bupati Lebak. Penghapusan sinyal internet dilakukan sebagai upaya Lembaga Adat Baduy untuk memperkecil pengaruh negatif penggunaan ponsel pintar di lingkungan Baduy.
Pemerhati Budaya Baduy, Uday Suhada, mengatakan adalah hal yang tepat dari Lembaga Adat Baduy mengusulkan penghapusan sinyal di wilayahnya.
Pasalnya, kata dia, saat ini Baduy menghadapi ancaman serius dengan keberadaan sinyal dan pengaruh gadget atau ponsel pintar yang digunakan oleh warganya.
Satu ancaman besar gara-gara gadget, kata Uday, adalah kemungkinan hilangnya satu generasi warga Baduy.
"Baduy saat ini banyak perubahan yang membahayakan. Mereka terancam kehilangan satu generasi. Penyebab utamanya adalah kemajuan teknologi. Gadget yang dimiliki dan digunakan oleh anak-anak Baduy telah merubah pola pikir, sikap dan perilaku mereka," kata Uday kepada Kompas.com melalui sambungan telepon, Jumat (9/7/2023).
Baca juga: Xiaomi 12T 5G Dilengkapi Kamera 108 MP, Cek Harga dan Speknya
Baca juga: Sahroni Beber Demokrat Paksa AHY Dampingi Anies jadi Bakal Cawapres!
Uday mencontohkan salah satu ancaman terkikisnya tradisi budaya di Baduy adalah anak muda di Baduy enggan membantu orang tuanya berhuma di ladang.
Padahal prinsip dasar masyarakat adat Baduy adalah wajib bertani dan setiap keluarga yang sudah berumah tangga wajib memiliki lahan huma.
Namun yang terjadi saat ini, anak muda Baduy sibuk dengan gadgetnya untuk bermain media sosial hingga berjualan online.
"Jika dibiarkan akan merusak pola hidup masyakarat suku Baduy yang seharusnya bertani. Jika terus bermain medsos dikhawatirkan mereka akan kehilangan keahlian bertani yang merupakan tradisi turunan leluhur Suku Baduy," kata Uday.
Uday yang juga menjabat sebagai Aliansi Independen Peduli Publik (ALIPP), mengungkapkan, berdasarkan data dari Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Lebak pada 2020, ada 9.000 nomor handphone yang tercatat atas nama warga Baduy di Desa Kanekes.
Padahal sebelum 2007, komunikasi sesama warga Baduy, masih mengandalkan telepati tapi kini beralih ke ponsel pintar.
Menjamurnya ponsel pintar di Baduy, lanjut Uday, wajib menjadi perhatian karena tidak adanya kontrol terhadap konten yang mereka akses.
Mayoritas yang menggunakan ponsel pintar di Baduy disebut adalah pengguna media sosial, bahkan menjadi YouTuber, TikTok, dan kesenangan lain di internet.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/suku-Baduy-melakukan-protes-agar-sinyal.jpg)