Tribun Wiki
Sejarah Gedung Warenhuis di Kesawan Kota Medan, Supermarket Pertama Masa Kolonial Belanda
Tahukah kamu? Gedung Warenhuis dulunya merupakan supermarket pertama di Kota Medan yang dibangun masa kolonial Belanda.
Pascakebakaran 2013, beberapa warga yang sehari-hari berjualan menjadikannya tempat tinggal hingga saat ini.
Kemudian, organisasi kemasyarakatan pemuda (OKP) juga menjadikan gedung dingin dan megah ini sebagai sekretariatnya.
Alhasil, dinding buramnya menjadi gantungan plank nama organisasi dan spanduk parpol.
Keberadaan bangunan bersejarah Warenhuis di Kota Medan menjadi sebentuk kajian preservasi terhadap keberadaan bangunan bersejarah di Kota Medan, yang tidak hanya sebagai tinggalan masa lalu semata melainkan juga sebagai simbol keterkaitan sejarah antar masa dan juga sebagai bagian kekayaan arsitektural Kota Medan yang beragam.
Awal mula gedung dibangun, gedung ini berfungsi sebagai kamar dagang Belanda, lalu beralih fungsi sebagai gedung opera dan setelah Indonesia merdeka gedung ini menjadi gedung perkantoran.
Bangunan berukuran sekitar 15 x 30 meter itu memiliki bungker sebagai area menyimpan barang dagangan (gudang) sebelum disajikan kepada pembeli.
Supermarket ini menjual berbagai jenis barang, mulai makanan, pakaian, hingga produk elektronik.
Dulunya hanya orang-orang kaya pribumi, bangsawan, Eropa dan Cina yang dapat berbelanja di toserba ini.
Gedung ini bisa menjadi saksi dan bukti kalau sistem perdagangan di Kota Medan sudah maju sejak lama.
Fungsi Warenhuis Pada Masa Hindia Belanda
Sejak 1918, Medan pun menjadi sebuah kota tempat bertemunya pemilik modal dan pengguna modal, dari hampir seluruh bangsa di dunia dan suku di Indonesia.
Berbagai elemen yang ada pun memainkan perannya secara maksimal pada bentuk wujud baru tanah Deli ini.
Bangsa Arab, Punjab dan Tionghoa contohnya, mereka secara harmonis memajukan perekonomian Medan dengan keahlian dagang yang mereka miliki.
Beberapa golongan Tionghoa juga tercatat menjadi ahli dalam bidang perkayuan di kota baru ini.
Suku Jawa, etnis Tamil dan beberapa golongan Tionghoa menjadi motor dalam memajukan usaha perkebunan di kota Meda sebagai buruh.
Semua elemen ini melebur menjadi satu kesatuan dengan identitas baru yakni 'orang Medan'.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/24112020_bangunan_bersejarah_terbengkalai_danil_siregar-4.jpg)