Perang Rusia Ukraina
Ultimatum Amerika dan Sanksi Diberlakukan Joe Biden pada Rusia Begitu Caplok Sebagian Ukraina
Rusia baru saja mengumumkan bahwa mereka sedang 'mencaplok' sebagian besar Ukraina. Presiden Rusia Vladimir Putin
TRIBUN-MEDAN.com - Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden langsung mengultimatum dan telah memberlakukan sanksi ekonomi tahap pertama terhadap Federasi Rusia.
Langkah ini diambil sebagai tanggapan atas pengakuan Rusia terhadap kemerdekaan Republik Rakyat Donetsk (DPR) dan Republik Rakyat Lugansk (LPR) serta penyebaran pasukan penjaga perdamaian ke wilayah Donbass, Ukraina.
"Rusia baru saja mengumumkan bahwa mereka sedang 'mencaplok' sebagian besar Ukraina. Presiden Rusia Vladimir Putin membangun alasan untuk mengambil lebih banyak wilayah secara paksa. Ini adalah awal dari invasi Rusia ke Ukraina," kata Biden pada Selasa kemarin.
Baca juga: KASUS Persipura di Liga 1 Dibahas, Sempat Kirim Surat Kondisi 6 Pemain, 3 Ofisial Positif Covid-19
Baca juga: HASIL LIGA CHAMPIONS Bikin Kecewa Massimiliano Allegri, Juventus Imbang 1-1 atas Villarreal
Biden pun mempertanyakan 'siapa' yang mengizinkan Putin melakukan hal itu kepada negara tetangganya.
"Dalam nama Tuhan, siapa yang menurut Putin memberinya hak untuk mendeklarasikan apa yang disebut negara baru di wilayah milik tetangganya sendiri?, ini adalah pelanggaran mencolok terhadap hukum internasional dan menuntut tanggapan tegas dari komunitas internasional," tegas Biden.
Tidak hanya itu, Biden juga mengumumkan tahap pertama sanksi yang diberlakukan terhadap Rusia, yang menargetkan VEB Development Bank, Promsvyazbank Public Joint Stock Company (PSB) dan 42 anak perusahaan mereka, utang negara Rusia, serta menjatuhkan sanksi pada 'elite dan keluarga mereka'.
Biden pun menegaskan bahwa AS telah bekerja sama dengan Kanselir Jerman Olaf Scholz untuk memastikan bahwa pipa gas Nord Stream 2, yang akan membawa gas alam cair dari Rusia ke Jerman, tidak akan dibuka.
Baca juga: REKOR Baik Chelsea di Liga Champions, Menang 2-0 atas Lillie, Gol Kai Havertz dan Christian Pulisic
"Kami menerapkan sanksi komprehensif terhadap utang negara Rusia. Itu berarti kami telah memutuskan pemerintah Rusia dari pembiayaan Barat. Ia tidak dapat lagi mengumpulkan uang dari Barat dan tidak dapat memperdagangkan utang barunya di pasar kami atau pasar Eropa juga," jelas Biden.
Baca juga: HASIL LIGA CHAMPIONS Bikin Kecewa Massimiliano Allegri, Juventus Imbang 1-1 atas Villarreal
Dikutip dari laman Sputnik News, Rabu (23/2/2022), Menteri Keuangan AS, Janet Yellen mengumumkan rincian sanksi baru yang ditargetkan terhadap Rusia di Kantor Pengendalian Aset Asing.
Tindakan hari ini, kata dia, diambil dalam koordinasi dengan mitra dan sekutu AS.
"Memulai proses pembongkaran jaringan keuangan Kremlin dan kemampuannya untuk mendanai aktivitas destabilisasi di Ukraina dan di seluruh dunia. Kami terus memantau tindakan Rusia dan jika lebih lanjut menyerang Ukraina, AS akan segera menjatuhkan sanksi ekonomi yang luas yang akan berdampak parah dan bertahan lama pada ekonomi Rusia," tegas Yellen.
Sanksi tersebut dijadwalkan mulai berlaku pada Rabu waktu setempat dan Biden mengatakan bahwa AS siap untuk menerapkan sanksi yang 'jauh melampaui' sanksi pada 2014 lalu jika Rusia berani menyerang Ukraina.
Biden juga mengungkapkan pasukan AS akan dipindahkan dari tempat lain di Eropa ke negara-negara Baltik, sebagai tanggapan atas masih tersisanya pasukan Rusia di Belarus.
Negara Baltik seperti Estonia, Latvia dan Lithuania, semuanya adalah anggota aliansi NATO.
Seorang pejabat AS melaporkan bahwa pengerahan pasukan ini termasuk diantaranya 800 tentara dari Italia, 20 helikopter serang Apache yang saat ini ditempatkan di Jerman, dan 12 helikopter Apache yang dikirim ke Polandia dari Yunani.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/invasi-ukraina.jpg)