Banjir Hebat Melanda Madina

LISTRIK Padam Dua Hari Beruntun setelah Banjir Madina, Jaringan Komunikasi pun Teramat Sulit

Banjir menyebabkan beberapa jembatan penghubung antar Kecamatan terputus. Hal ini menyebabkan pasokan logistik ke titik titik banjir menjadi sulit.

TRIBUN MEDAN/HO
Meski telah surut, banjir masih setinggi lutut orang dewasa di sejumlah lokasi di Madina, Senin (20/12/2021). 

Rendi, Kepala Desa Batahan III Kecamatan Batahan, Mandina mengatakan, saat ini banjir juga mulai surut.

Namun tinggi air masih memasuki rumah warga.

Dia berharap kondisi banjir bisa cepat berlalu.

"Alhamdulillah hari ini mulai surut jika dibandingkan dua hari lalu," tutupnya.

Banjir Mandina terjadi pada Jumat (18/12/2021) kemarin.

Banjir terjadi karena tingginya intensitas hujan yang terjadi sejak beberapa hari.

Setidaknya satu orang dikabarkan hilang dalam tragedi tersebut. Banjir membuat ribuan rumah terendam selama beberapa hari.

Ketinggian banjir hingga menutupi atap rumah warga. Sejumlah desa juga terisolasi karena putusnya jalan dan jembatan penghubung.

Walhi Mendorong Investigasi Kerusakan Lingkungan

Usai tahun 2018 banjir melanda Kabupaten Mandailing Natal (Madina) dan menelan puluhan koban, kini kawasan itu kembali dilanda banjir pada Jumat (18/12/2021).

Banjir malah lebih meluas jika dibanding pada tahun 2018.

BANJIR MADINA - Beberapa orang warga telihat sedang dievakuasi menggunakan mobil dan perahu karet selepas banjir hebat melanda Madina.
BANJIR MADINA - Beberapa orang warga telihat sedang dievakuasi menggunakan mobil dan perahu karet selepas banjir hebat melanda Madina. (TRIBUN MEDAN/HO)

Menurut data pemerintah setempat sebanyak 16 Kecamatan dan 74 desa tergenang banjir dan juga longsor.

Hal itu ditengarai kerusakan lingkungan yang masif.

Merupakan dampak buruk dari pertambangan dan perkebunan di kawasan hutan dan daerah aliran sungai.

Banjir besar dan longsor melanda 16 kecamatan di Kabupaten Madina
Banjir besar dan longsor melanda 16 kecamatan di Kabupaten Madina (HO)

Mulai dari kegiatan industri ekstraktif seperti pertambangan dan ekspansi perkebunan sawit.

Manajer Kajian dan Advokasi Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Sumatera Utara, Putra Septian mendorong pemerintahan melakukan investasi penyebab terjadinya banjir di Madina.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved