Bocah 9 Tahun Dijual Ayahnya Untuk Dinikahi Pria 55 Tahun, Terkuak Tragedi Pilu Keluarga Miskin Ini
Baru-baru ini pernikahan seorang gadis kecil berusia 9 tahun dengan pria berusia 55 tahun menarik perhatian publik.
Penulis: Liska Rahayu | Editor: Liska Rahayu
TRIBUN-MEDAN.com - Baru-baru ini pernikahan seorang gadis kecil berusia 9 tahun dengan pria berusia 55 tahun menarik perhatian publik.
Pernikahan pengantin cilik ini mengungkapkan tragedi memilukan yang menimpa keluarganya.
Parwana Malik adalah seorang gadis berusia 9 tahun dengan mata gelap dan pipi yang kemerah-merahan.
Dia terkikik saat bermain lompat tali di lapangan berdebu dengan teman-temannya.
Tapi tawa Parwana hilang ketika dia kembali ke rumah, sebuah gubuk kecil dengan dinding tanah.
Baca juga: Bagai Nenek dan Cucu, Pasangan Beda Usia 46 Tahun Ini Buat Heboh, Kehidupan Ranjangnya Terungkap
Baca juga: Tak Bisa Lupain Mantan, Pria Ini Batalkan Pernikahan 4 Hari Sebelum Pesta, si Wanita Lakukan Ini
Di mana Parwana diingatkan akan nasibnya. Dia akan dijual kepada orang asing sebagai pengantin.
Pria yang ingin membeli Parwana mengatakan dia berusia 55 tahun.
Tetapi bagi gadis itu, lelaki itu adalah pria tua dengan rambut abu-abu dan janggut, dilansir dari CNN.
Gadis berusia 9 tahun itu sangat khawatir pria ini akan memukulinya dan memaksanya bekerja.
Tapi orangtua Parwana tidak punya pilihan lain.
Selama empat tahun terakhir, keluarga Parwana telah tinggal di sebuah kamp pengungsi di Provinsi Badghis di barat laut Afghanistan.
Mereka hidup hanya dengan mengandalkan bantuan kemanusiaan dan tenaga kerja yang hanya menghasilkan beberapa dolar sehari.
Sekarang, kehidupan itu menjadi lebih sulit sejak Taliban mengambil alih kekuasaan di Afghanistan pada 15 Agustus.
Ketika bantuan internasional mengering dan ekonomi negara itu runtuh, mereka tidak mampu membeli kebutuhan dasar seperti makanan.
Beberapa bulan lalu, ayah Parwana juga harus menjual putrinya yang berusia 12 tahun.
Parwana adalah salah satu dari banyak gadis di Afghanistan yang dijual untuk dinikahi saat krisis kemanusiaan negara itu semakin dalam.
Baca juga: NIkah Beda Usia 34 Tahun Istri Cantik 21 Tahun Kerap Digoda Pria Lain, Ki Daus Sempat Bertengkar
Baca juga: Beda Usia 15 Tahun, Inilah Potret Kemesraan Marion Jola dengan Pacar Barunya, Rayakan Valentine
Kelaparan telah mendorong beberapa keluarga untuk membuat keputusan yang memilukan, terutama saat musim dingin yang brutal mendekat.
Mohammad Naie Nazem, seorang aktivis hak asasi manusis di provinsi Badghis mengatakan, hari demi hari, jumlah keluarga yang menjual anak-anak mereka meningkat.
"Kurang makanan, kurangnya pekerjaan, mereka tidak punya pilihan." Katanya.
Abdul Malik, ayah Parwana, tidak bisa tidur tiap malam.
Sebelum membuat keputusan untuk menjual putrinya, dia merasa sangat bersalah, malu, dan cemas.
Abdul berusaha untuk tidak harus menjual anak-anaknya ketika datang ke Kota Qala-e-Naw.
Ia datang untuk mencari pekerjaan, tetapi gagal.
Bahkan harus meminjam uang dari kerabat dan istrinya harus mengemis makanan dari orang lain di kamp pengungsi.
Abdul tahu dia tidak punya pilihan lain.
"Keluarga saya beranggota delapan orang. Saya harus menjual anak-anak saya agar anggota keluarga lain bisa hidup." Kata Abdul.
Hasil penjualan putrinya Parwana dapat menghidupi keluarganya selama beberapa bulan sebelum ia harus mencari solusi lain.
Parwana berharap bisa mengubah pikiran orangtuanya.
Ia bercita-cita menjadi seorang guru dan tidak ingin putus sekolah.
Namun, semua permohonan Parwana sia-sia.
Pada tanggal 24 Oktober, pria yang membeli Parwana, bernama Qorban, datang ke rumah dan menyerahkan kepada orangtuanya 200.000 AFN (mata uang Afghanistan) atau setara Rp 3.146.453.089 dalam bentuk domba, tanah, dan uang tunai.
Qorban tidak mengangga penjualan itu sebagai pernikahan.
Dia mengatakan dirinya sudah punya istri dan akan merawat Parwana seperti anak kecil.
"Harga untuk membeli Parwana sangat murah. Ayahnya sangat miskin dan dia membutuhkan uang. Dia akan bekerja di rumah saya. Saya tidak akan memukulnya, tetapi akan baik dan memperlakukannya seperti manusia, keluarga.” Katanya.
Pada hari “pernikahannya”, Parwana mengenakan jilbab hitam dengan karangan bunga warna-warni di lehernya.
Ia menyembunyikan wajahnya dan terisak ketika ayahnya memberi tahu Qorban bahwa ia telah menyerahkan anaknya untuk dinikahi.
“Ini pengantinmu, tolong jaga dia. Bertanggung jawablah padanya dan jangan pukul dia.” Kata ayahnya.
Qorban setuju lalu meraih lengan Parwana dan membawanya keluar.
Ketika mereka pergi, ayah Parwana masih berdiri di depan pintu.
Parwana mencoba untuk tetap tak bergerak hingga dia tidak harus pergi, tetapi tidak berhasil.
Gadis itu dibawa ke sebuah mobil dan perlahan-lahan pergi.
Meksipun ilegal untuk menikahi anak di bawah usia 15 tahun di negara ini, hal tersebut berlanjut selama bertahun-tahun, terutama di daerah pedesaan.
Sejak Taliban mengambil alih Afghanistan pada bulan Agustus, cerita memilukan seperti Parwana telah meningkat.
Menurut PBB, hampir 677.000 warga Afghanistan telah mengungsi tahun ini karena pertempuran.
Banyak dari mereka harus tinggal di gubuk-gubuk darurat di kamp-kamp pengungsi seperti keluarga Parwana.
Kemiskinan telah mendorong banyak gadis ke dalam pernikahan komersil.
Dan sekali diperdagangkan, kemungkinan gadis-gadis ini pergi ke sekolah atau memiliki kehidupan mandiri hampir nol.
(Yui/Tribun-Medan.com)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/pernikahan-komersil-di-afghanistan.jpg)