China Negara Pertama Akui Taliban sebagai Penguasa Afghanistan yang Dinamai Emirat Islam Afghanistan

Apa yang Diincar China dari Taliban? Ternyata Bumi Afghanistan Kandung Mineral Paling Dicari. Kekayaan Mineral Negara Itu mencapai triliunan dolar AS

Editor: AbdiTumanggor
(24h.com.vn/AP Photo/Zabi Karimi)
China dan Taliban Akui Negara Afghanistan menjadi Emirat Islam Afghanistan 

TRIBUN-MEDAN.COM - Setelah konflik selama 20 tahun lamanya, pasukan AS ditarik dari Afghanistan. 

Laporan pasukan AS ditarik dari Afghanistan berdasarkan perintah dari Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan dilanjutkan Joe Biden.

Namun siapa yang sangka penarikan semua pasukan asing di negara itu lantas membuat Afghanistan jatuh ke tangan milisi Taliban.

Setelah sukses menguasai 18 provinsi, pada Minggu (15/8/2021) lalu, Taliban akhirnya sukses menguasai Kabul, ibukota Afghanistan dan turut menguasai Istana Presiden.

Ketika kelompok militan itu merebut ibu kota Kabul, mereka pun segera menguasai negara sepenuhnya.

Mereka dapat memiliki akses ke kekayaan mineral Afghanista yang sangat besar. Hal itu menurut survei parsial yang dilakukan oleh Kementerian Pertambangan dan Perminyakan Afghanistan pada tahun 2017.

Survei menemukan Afghanistan memiliki mineral langka dan mahal yang penting untuk manufaktur industri.

Survei menemukan sumber daya alam termasuk tembaga, emas, uranium, dan bahan bakar fosil.

Ketika survei ini pertama kali dilakukan pada tahun 2017, berita tersebut disambut baik oleh pemerintah Afghanistan.

Ini karena sumber daya ini membuat negara tersebut siap untuk pembangunan infrastruktur.

Akses ke sumber daya alam dapat meningkatkan ekonomi suatu negara dan membantu mendanai rekonstruksinya.

Tetapi ketika pasukan Taliban mengambil kembali kekuasaan, maka secara otomatis sumber daya ini dapat jatuh ke tangan mereka.

Dilansir dari express.co.uk pada Selasa (17/8/2021), dalam survei parsial, cadangan kekayaan mineral negara itu diperkirakan maish ada mencapai 3 triliun Dollar AS (Rp 43,161 triliun).

Meskipun demikian, industri pertambangan di Afghanistan tampaknya menjadi sektor yang merugi.

Setiap tahun pemerintah Afghanistan kehilangan sekitar 300 juta Dollar AS pendapatan dari pertambangan menurut Aljazeera, dan hanya menyumbang tujuh hingga 10 persen dari PDB Afghanistan.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved