Cerita Pilu Warga Pinggiran Sungai Deli, Bertahan Hidup di tengah Bahaya Banjir
Mereka yang rumahnya bertingkat bisa menyelamatkan diri keatas. Namun yang tak bertingkat terpaksa mengungsi.
Penulis: Fredy Santoso | Editor: Ayu Prasandi
"Waktu kejadian pemilihan Wali Kota itu banyak yang cari muka itu. 24 jam itu bantuan gak putus-putus," kata Edo, warga yang kecewa lantaran pemerintah dianggap tak peduli lagi kepada mereka yang terkena banjir.
Usai kontestasi politik tersebut beberapa kali mengalami musibah bantuan pun tak pernah datang. Baik pemerintah maupun partai politik.
Mereka bekerja secara mandiri membersihkan sisa-sisa banjir.
"Kita disini Gotong-royong. Gak ada mengharapkan bantuan. Semua bekerjasama. Nanti pagi lanjut malam. Ini gak ada bantuan. Kalau ada niat baik pasti kami terima. Ini gak ada," keluhnya.
Sama seperti ibunya, Edo pun punya keinginan pindah dari kawasan padat penduduk tersebut. Namun solusi yang ditawarkan pemerintah tidak memberikan jalan keluar.
Baca juga: Rumah Tangga Retak, Dhena Devanka Unfollow Jonathan Frizzy & Curhat di Instagram hingga Jadi Sorotan
Merasa Dirugikan.
Meski memilih bertahan sampai solusi yang tepat muncul mereka berharap agar pemerintah juga peduli terhadap kawasan bantaran sungai Deli.
Mereka berharap agar air kiriman tak lagi menerjang rumah mereka.
Apalagi Medan memiliki kanal yang seharusnya dapat dimanfaatkan untuk mengantisipasi banjir seperti ini.
"Kuncinya itu di kanal. Kalau air disini sudah se atap, di kanal sana gak ngaruh apa-apa. Kami kecewa karena kanal itu juga gak berfungsi," ucapnya.
(cr25/tribun-medan.com)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/warga-kampung-aur-kecamatan-medan-maimun-membersihkan-rumahnya.jpg)