Cerita Pilu Warga Pinggiran Sungai Deli, Bertahan Hidup di tengah Bahaya Banjir
Mereka yang rumahnya bertingkat bisa menyelamatkan diri keatas. Namun yang tak bertingkat terpaksa mengungsi.
Penulis: Fredy Santoso | Editor: Ayu Prasandi
TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Dibawah 'Jembatan Cinta', sebutan jembatan yang berada di Jalan Letjen Suprapto, Medan, ratusan Kepala Keluarga (KK) keturunan Minang yang telah lama menetap dan mengantungkan hidup di bantaran sungai Deli.
Mak Inah (71), seorang warga bantaran sungai Deli, Kampung Aur, Kecamatan Medan Maimun bercerita sudah tak asing lagi dengan permasalahan banjir yang menerjang tempat tinggalnya.
Seakan-akan dia, keluarganya dan warga lainnya sudah berdamai dengan situasi tersebut. Dimana air bah yang seharusnya menjadi momok menakutkan karena bisa saja memakan korban seolah sudah bersahabat.
Baca juga: Karput Terseret, Sosok Ini Ternyata Penyebab di Balik Penangkapan Paksa dr Richard Lee, Orang Dekat
Jumat (20/8/2021), dinihari banjir kiriman dari pegunungan menerjang rumah warga Kampung Aur sekitar pukul 23:00 WIB.
Banjir itu setinggi pinggang orang dewasa.
Mereka yang rumahnya bertingkat bisa menyelamatkan diri keatas. Namun yang tak bertingkat terpaksa mengungsi.
Warga Kampung Aur menyebutnya sebagai banjir kiriman karena air yang datang itu tanpa disebabkan hujan dari Kota Medan, melainkan dari tanah Karo.
Mereka sudah biasa dengan situasi tersebut meski awalnya mengejutkan.
Mereka baru merasakan banjir kiriman sekitar lima tahun terakhir.
Selama periode tersebut banjir besar kerap melanda, meski di Medan tak hujan.
Meski demikian mereka tak khawatir. Mereka sudah terbiasa.
Bahkan mereka enggan beranjak dari tempat mereka lahir dan dibesarkan.
Mak Inah mengatakan, beberapa tahun yang lalu dia dan warga lainnya ditawari untuk pindah ke rusunawa. Namun mereka menolak karena disana mereka justru akan menemukan permasalahan baru.
Menurut mereka akan sulit mencari nafkah, apalagi di Kampung Aur mayoritas masyarakatnya bekerja sebagai pedagang.
Baca juga: SOSOK Dwi Arimbi, Atlet Wushu Taulo, Tambah Jam Latihan Jelang PON Papua
Mereka sudah terbiasa dengan pekerjaan mereka.
"Kami belum mau untuk dipindahkan meskipun isu-isunya ada kabar mau dipindahkan," kata Mak Inah, (71) warga Kampung Aur, Kecamatan Medan Maimun, Jumat (20/8/2021).
"Dulu kami pernah rapat untuk perpindahan ini ke asrama haji (BPN) gak ada yang mau kami," lanjutnya.
Selain alasan tersebut, mereka juga sepakat apabila memang disuruh pindah pemerintah harus memberikan ganti rugi bantuan yang sudah mereka bangun.
Menurut mereka dengan uang tersebut Meri bisa mencari rumah yang lebih layak.
Mak Inah dan keluarganya pun menyadari kalau tinggal di bantaran sungai merepotkan, apalagi diusianya yang mulai senja.
Ia mengaku sudah tak nyaman menghabiskan masa tua dipinggiran sungai Deli yang rawan banjir. Apalagi dia pun sedang sakit-sakitan.
Baca juga: Lama Menghilang, Unggahan Aktor Marcelino Lefrandt Banjir Komentar, Dewi Rezer Eks Istri Kirim Doa
Meski demikian, uang menjadi permasalahan. Mereka membutuhkan dana untuk pindah ke rumah yang lebih layak dan aman.
"Kalau ada batu loncatan yang bagus mau ibu pindah. Lagian capek juga, sudah tua maunya tenang. Ini saja sudah sakit-sakitan ini," harapnya.
Mak Inah memiliki nama asli Rismawati, ia dibawa orang tuanya pindah ke Medan sekitar tahun 60 an. Saat itu ayahnya yang mantan prajurit TNI pensiun dan bekerja di sebuah perusahaan swasta di Medan.
Saat baru pindah ia ingat betul saat itu lokasi bantaran sungai belum sepadat sekarang. Bahkan masih banyak ladang milik masyarakat.
Saat ini ia memiliki enam orang anak, suaminya meninggal dunia sekitar 4 tahun yang lalu.
Tiga anaknya merantau, sementara yang lainnya di lokasi yang sama dengannya.
Ia mengatakan banjir kiriman yang paling parah akhir tahun 2020. Saat itu banjir datang begitu cepat menenggelamkan rumahnya.
Ia yang renta pun beruntung karena sempat menyelamatkan diri.
Baca juga: Gambar Semut Pun tak Tampak Lagi di Layar Televisi
Meski tak ada korban jiwa, paling tidak sebanyak 3 rumah tetangganya hanyut.
Seperti dikatakannya, banjir sudah menjadi teman bagi mereka. Mereka sudah bisa menebak kapan air besar akan berkunjung ke rumah-rumah mereka.
Bahkan saat banjir setinggi pinggang orang dewasa dinihari tadi mereka lebih dulu meninggalkan rumah dengan membawa barang berharga.
Setibanya air mulai surut mereka saling berjibaku membersihkan sisa-sisa lumpur yang melekat. Mereka nampak kompak.
Menggunakan satu mesin penyemprot air membuang sedimen dari sungai yang jaraknya hanya sekitar 5 meter dari pemukiman.
Bagi para wanita bertugas membersihkan bagian dalam rumah. Sementara para oria membersihkan halaman luar.
Para laki-laki terlihat berbagi peran. Ada yang mencangkul lumpur, adapula yang mengutip sampah-sampah yang ikut terbawa air.
Saat ditemui mereka menyebutkan sudah terbiasa membersihkan sisa banjir tanpa bantuan pemerintah.
Baca juga: Ini Dia! Daftar Menu Makanan untuk Penderita Penyakit Jantung yang Sedang Menjalani Isoman
Bantuan Hanya Jadi Ajang Kampanye Calon Wali Kota Medan
Alfredo Silalahi (30), anak kandung Mak Inah bercerita kalau musibah banjir kiriman yang mereka alami hanya dijadikan alat kampanye.
Desember 2020 lalu banjir besar melanda wilayah tersebut. Saat itu kontestasi politik sedang berlangsung. Dua calon Wali Kota dan Wakil Wali Kota berusaha menunjukkan kepeduliannya kepada masyarakat Kampung Aur yang diterjang banjir setinggi 5 meter.
Bahkan Calon Wali Kota Medan, Bobby Afif Nasution dan Akhyar Nasution hampir bertemu di waktu yang bersamaan.
Satunya datang dari tangga di dekat Jembatan di Jalan Letjen Suprapto dan yang satunya lagi masuk ke kampung bantaran sungai itu melalui Jalan Brigjen Katamso.
Kedatangan mereka pun seolah-olah meringankan beban warga. Kala itu bantuan sembako, pakaian tak henti-hentinya datang.
Bahkan nasi untuk warga hampir tak termakan karena banyaknya bantuan yang datang.
Baca juga: Rumah Tangga Retak, Dhena Devanka Unfollow Jonathan Frizzy & Curhat di Instagram hingga Jadi Sorotan
Edo mengisahkan kalau bantuan sembako yang mereka terima penuh di dalam ruko dua lantai yang tak jauh dari lokasi.
"Waktu kejadian pemilihan Wali Kota itu banyak yang cari muka itu. 24 jam itu bantuan gak putus-putus," kata Edo, warga yang kecewa lantaran pemerintah dianggap tak peduli lagi kepada mereka yang terkena banjir.
Usai kontestasi politik tersebut beberapa kali mengalami musibah bantuan pun tak pernah datang. Baik pemerintah maupun partai politik.
Mereka bekerja secara mandiri membersihkan sisa-sisa banjir.
"Kita disini Gotong-royong. Gak ada mengharapkan bantuan. Semua bekerjasama. Nanti pagi lanjut malam. Ini gak ada bantuan. Kalau ada niat baik pasti kami terima. Ini gak ada," keluhnya.
Sama seperti ibunya, Edo pun punya keinginan pindah dari kawasan padat penduduk tersebut. Namun solusi yang ditawarkan pemerintah tidak memberikan jalan keluar.
Baca juga: Rumah Tangga Retak, Dhena Devanka Unfollow Jonathan Frizzy & Curhat di Instagram hingga Jadi Sorotan
Merasa Dirugikan.
Meski memilih bertahan sampai solusi yang tepat muncul mereka berharap agar pemerintah juga peduli terhadap kawasan bantaran sungai Deli.
Mereka berharap agar air kiriman tak lagi menerjang rumah mereka.
Apalagi Medan memiliki kanal yang seharusnya dapat dimanfaatkan untuk mengantisipasi banjir seperti ini.
"Kuncinya itu di kanal. Kalau air disini sudah se atap, di kanal sana gak ngaruh apa-apa. Kami kecewa karena kanal itu juga gak berfungsi," ucapnya.
(cr25/tribun-medan.com)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/warga-kampung-aur-kecamatan-medan-maimun-membersihkan-rumahnya.jpg)