Apa yang Diincar China dari Taliban? Ternyata Bumi Afghanistan Kandung Mineral Paling Dicari
“Dan jika semua orang pergi bekerja jam sembilan pagi dan pulang jam 6 sore, mereka tidak punya waktu untuk memikirkan terorisme.”
Mineral dan logam tanah jarang di Afghanistan diperkirakan bernilai antara $ 1 triliun dan $ 3 triliun pada tahun 2020, menurut sebuah laporan di majalah berita The Diplomat, mengutip Ahmad Shah Katawazai, mantan diplomat di Kedutaan Besar Afghanistan di Washington DC.
“Ini harus menjadi inisiatif internasional untuk memastikan bahwa jika ada negara yang setuju untuk mengeksploitasi mineralnya atas nama Taliban, hanya melakukannya di bawah kondisi kemanusiaan yang ketat di mana hak asasi manusia, dan hak-hak perempuan dipertahankan dalam situasi tersebut,” ujar Shamaila Khan, direktur utang pasar negara berkembang di AllianceBernstein dalam acara kepada CNBC "Squawk Box Asia", Selasa, 17 Agustus 2012.
Afghanistan memiliki unsur tanah jarang seperti lantanum, serium, neodymium, dan urat aluminium, emas, perak, seng, merkuri, dan lithium, menurut Katawazai.
“Jadi harus ada tekanan pada China jika mereka akan melakukan aliansi dengan Taliban untuk menghasilkan bantuan ekonomi bagi mereka – bahwa mereka melakukannya dengan persyaratan internasional,” kata Shamaila Khan, menanggapi pertanyaan tentang motivasi komersial di balik persetujuan China kepada Taliban sehari setelah para militan mengambil alih negara itu—mengingat tanah jarang bernilai triliunan dolar di sana.
China Dominasi Pasokan Logam/Tanah Jarang
China mendominasi pasar tanah jarang secara global dengan pasokan hampir di atas 90 persen.
Sekitar 35% dari cadangan global tanah jarang berada di China, yang terbesar di dunia, menurut Survei Geologi Amerika Serikat.
China memproduksi 120.000 metrik ton atau 70% dari total tanah jarang pada tahun 2018, dibandingkan dengan AS yang menambang 15.000 metrik ton tanah jarang pada tahun yang sama.
Cadangan logam/mineral tanah jarang AS juga sangat sedikit dibandingkan dengan China.
AS memiliki total 1,4 juta metrik ton cadangan logam/mineral tanah jarang, dibandingkan 44 juta metrik ton cadangan di Cina.
China menggunakan logam/mineral tanah jarang sebagai ancaman selama perang dagangnya dengan AS pada tahun 2019, ketika Beijing mengancam akan memotong pasokan ke AS.
Bahkan China langsung menghentikan ekspor Logam/mineral tanah jarang ke Jepang dengan alasan keamanan dan kebutuhan dalam negeri.
AS sangat bergantung pada China untuk pasokan logam/mineral tanah jarang pada 2019, ketika negara Asia itu mengekspor 80% kebutuhan AS, menurut Survei Geologi AS. (aljazeera/cnbc/eurasiantimes.com)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/emirat-islam-afghanistan.jpg)