Nasib 3 Jenderal Berani Marah Bahkan Pernah Tempeleng Soeharto

Tak ada yang menyangka, nasib 3 jenderal berani tampar dan memarahi Soeharto bakalan begini jadinya.

ARSIP FOTO KOMPAS / JB SURATNO
Jenderal Besar Soeharto berbincang dengan Jenderal Besar AH Nasution, sesaat sebelum menerima ucapan selamat pada acara silaturahmi di Istana Negara, Jakarta, Minggu (5/10/2007) siang. 

Sebuah cerita di penghujung hayatnya malah membuat banyak orang bersedih.

Kabarnya ia tak mewariskan kekayaan materi pada keluarganya, kecuali kekayaan pengalaman perjuangan dan idealisme.

Rumahnya di Jalan Teuku Umar, Jakarta, tetap tampak kusam, tak pernah direnovasi.

Berstatus jenderal tapi mengalami kesulitan air bersih sehari-hari di rumahnya.

Kabarnya ada yang memutus aliran air PAM ke rumahnya.

Untuk memenuhi kebutuhan air sehari-hari, Nasution terpaksa membuat sumur di belakang rumah.

Sumur itu masih ada sampai sekarang.

Baca juga: Bercinta di Kebun Sawit, Residivis Bawa Kabur Motor Pasangan Kekasih, Ponsel Ikut Dirampas

Baca juga: Pisah Ranjang dengan Maell Lee, Intan Ratna Juwita Diajak Nikah Berondong 17 Tahun: Pengen

Baca juga: Menantu Soeharto Mayangsari Pamer Penampilan Casual Pakai Jeans Robek Bak ABG, Tenteng Tas Mahal Ini

Nasib Kolonel Kawilarang

Dalam sejarah dunia militer Indonesia, sosok Alex Evert Kawilarang merupakan nama yang tak asing lagi dikenal.

Pria kelahiran Batavia (kini Jakarta), 23 Februari 1920 ini pernah menempeleng Presiden kedua Indonesia, Soeharto.

Penempelengan tersebut terjadi ketika Kawilarang menjabat sebagai Panglima selaku atasan dari Letkol, Soeharto.

Soeharto dan Alex Kawilarang saat masih menjadi anggota TNI
Soeharto dan Alex Kawilarang saat masih menjadi anggota TNI (istimewa)

Sekitar tahun 1950-an, sebagai Panglima Wirabuana, Alex E Kawilarang melaporkan kepada Presiden Soekarno bahwa keadaan di Makassar sudah aman.

Namun Soekarno justru menyodorkan sebuah radiogram yang baru saja diterimanya yang melaporkan bahwa pasukan KNIL Belanda sudah menduduki Makassar.

Brigade Mataram, pasukan yang seharusnya mempertahankan kota Makassar saat itu juga dilaporkan telah mundur ke Lapangan Udara Mandai.

Mendengar radiogram tersebut, Kawilarang marah besar dan segera kembali ke Makassar.

Sumber: Tribun Jambi
Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved