Wali Kota Medan Bobby Akui Layanan RSUD Pirngadi Belum Baik, tapi Bantah Dugaan Mengcovidkan Pasien

Wali Kota Medan Bobby Nasution sebut RS Pirngadi Jangan cuma buang-buang anggaran. Anggaran itu harus tepat guna, tepat sasaran.

Tayang:
TRIBUN MEDAN/DANIL SIREGAR
Wali Kota Medan Bobby Nasution memberikan keterangan terkait pelayanan RSU Pirngadi seusai menghadiri seminar di GMKI, Medan, Kamis (10/6/2021). Peralatan RSU Pirngadi yang diduga minim sehingga seorang bayi yang mengidap penyakit tidak bisa buang air besar (BAB) meninggal dunia. 

"Secara tidak sengaja saya mendengar pembicaraan dari sejumlah suster yang berkumpul di tempat jaga terkait ada tabung oksigen yang kosong. Tabung tersebut mereka bawa ke bawah," kata Rawi, usai melaporkan insiden tersebut ke IDI cabang Medan, Senin, 31 Mei 2021.

Terkait kejadian tersebut, Manajemen RSUD Pirngadi sudah melakukan klarifikasi. Pihak RSUD Pirngadi memastikan tabung oksigen yang diberikan kepada pasien tersebut masih memiliki isi.

"Tabung oksigen itu masih berisi lebih kurang 250 cc," kata Direktur RSUD Pirngadi Medan, Suryadi Panjaitan, Sabtu, 29 Mei 2021.

Teranyar, RSUD Pirngadi kembali menjadi sorotan publik terkait dugaan mengcovidkan pasien seorang bayi. Keluarga pasien Annisa menceritakan persoalan tersebut kepada Tribun Medan melalui saluran telepon, Rabu.

Ia mengatakan, awalnya anaknya mendapat rujukan dari RS Stella Maris ke RSUD Pringadi pada Senin malam lalu, sekitar pukul 22.00 WIB. Saat itu, anaknya mengantongi surat negatif Covid-19 berdasar tes swab di RS Stella Maris.

Namun ketika anaknya mau dioperasi Selasa sekitar pukul 18.30 WIB, ia tersentak mendapat kabar dari tenaga medis RSUD Pringadi, yang mengatakan anaknya reaktif Covid-19.

Hasil terpapar itu pun berdasar hasil tes antibodi yang dilakukan pihak RSUD Pringadi dan disampaikan secara lisan. Rasa curiga Annisa muncul seketika. Sebab, sejak anaknya dimasukkan ke ruangan untuk dirawat, mulai awal masuk hingga sore, ia tidak ada kontak secara langsung.

Baca juga: Rajudin Sagala Ungkap Bayi Diduga Dicovidkan RSUD Pirngadi Gagal Dioperasi karena Tak Ada Dokter

Selain itu, Annisa mengaku, selalu berada di depan ruangan anaknya dirawat, kecuali saat tengah malam sampai subuh karena harus istirahat. 

"Aku stay di depan ruang anakku mulai pagi. Tapi, aku juga tidak melihat anakku ada dites antibodi. Bahkan, pihak suster juga tidak ada yang permisi ke aku,"katanya.

Suster pun mengatakan, anaknya akan dipindahkan ke ruangan pasien Covid-19 baru dioperasi. Annisa memberontak dan sempat terjadi cekcok. Annisa sangat tidak terima anaknya dikatakan positif Covid-19.

Ia pun melayangkan pertanyaan kepada dokter yang bertugas, mana yang lebih akurat hasil tes swab antigen yang didapatnya dari rumah sakit sebelumnya dengan rapid antibodi yang dilakukan RSUD Pringadi.

"Dibilang dokter itu, ya benar lebih akurat tes swab antigen. Tapi, mereka tetap berdalih bahwa itu hasil laboratorium terbaru sehingga menjadi rujukan. Kalau pun anakku positif berarti dari suster.

Karena yang kontak langsung dengan anakku cum suster. Kalau saya tantang di sini susternya semua di-swab apakah kalian berani? Artinya suster itulah yang tularkan kalau dibilang anak saya Covid-19," lanjutnya.

Setelah itu, lanjutnya, para suster dan dokter berdalih lain lagi demi mempertahankan status pasien agar tetap positif Covid-19. Ia kemudian menelepon Wakil Ketua DPRD Medan untuk mengadukan persoalan tersebut.

Kemudian, katnya, Rajudin  menelepon Direktur RSUD Pirngadi. Terakhir Direktur memerintahkan susternya untuk melakukan tes swab antigen kepada pasien sebelum operasi.

Baca juga: Bayi Diduga Dicovidkan RSUD Pirngadi Gagal Operasi Gegara Tak Ada Dokter

Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved