Kisah Pilu Perawat Cantik Hamil 7 Bulan, Harus Kehilangan Nyawanya dan Bayinya Demi Perangi Covid-19
Menjadi garda terdepan dalam memerangi Covid-19 bukanlah hal yang mudah dan tidak semua orang berani berpartisipasi.
Penulis: Liska Rahayu | Editor: Liska Rahayu
TRIBUN-MEDAN.com – Menjadi sukarelawan untuk melawan Covid-19 dalam kondisi hamil 9 bulan bukanlah perkara mudah bagi wanita ini.
Menjadi garda terdepan dalam memerangi Covid-19 bukanlah hal yang mudah dan tidak semua orang berani berpartisipasi.
Karena selain tingkat kesulitan yang lebih parah daripada pekerjaan biasa, mereka juga menghadapi bahaya.
Selain itu peluang tertular virus dari pasien bisa terjadi setiap saat.
Ketika kebanyakan orang menjauhkan diri di rumah, banyak dokter dan perawat harus mengorbankan kehidupan sehari-hari mereka untuk pergi ke daerah pandemi, daerah isolasi atau rumah sakit untuk menjalankan tugas.
Baca juga: KONDISI MALAYSIA TERBARU Lockdown Total, Risiko Ekonomi Bisa Runtuh, 9.020 Kasus Baru Covid-19
Baca juga: COVID Malaysia Tembus 8.000 Kasus Sehari, Rumah Sakit Siapkan Kontainer Freezer Mayat
Baru-baru ini, kisah seorang perawat asal Malaysia yang meninggal saat bertugas melawan Covid-19 membuat publik di negara itu sangat sedih.
Yang lebih menyakitkan lagi, saat itu perawat tersebut sedang hamil 7 bulan.
Menurut laporan media lokal perawat tersebut bernama Siti Aishah Binti Mohd Zamri.
Namun karena kekurangan tenaga rumah sakit, jumlah pasien pasien tidak berkurang.
Siti membuat keputusan tak terduga untuk secara sukarela bergabung dengan pekerjaan merawat pasien di unit perawatan intensif Rumah Sakit Labuan, di wilayah Labuan, Malaysia.
Namun malang tak dapat ditolak, Siti tertular virus tersebut dari seorang pasien di ruangan itu.
Segera setelah itu, dia dipindahkan ke ICU unit perawatan intensif rumah sakit untuk perawatan intensif ketika kesehatannya memburuk.
Pada 1 Juni, suami Siti memposting kisah istrinya itu di media sosial, berharap semua orang akan bergabung dengannya untuk mendoakan Siti dan anak mereka yang belum lahir.
Sayangnya, keinginan tersebut tidak bisa terwujud.
Pada pagi hari tanggal 2 Juni, dokter memastikan Siti dan bayi dalam perutnya telah meninggal dunia.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/kisah-perawat-cantik-meninggal-karena-covid-19-malaysia-2.jpg)