TERNYATA Bukan India, China, Atau AS, Inilah Wilayah Paling Mematikan di Dunia Akibat Covid-19
Rekor penyebaran Covid-19 tertinggi di dunia bukan hanya didominasi oleh India, China, dan Amerika Serikat.
Dampak pandemi tahun ini diperburuk oleh beberapa pemimpin yang meremehkan tingkat keparahan dan gagal memastikan pasokan vaksin tepat waktu.
Delapan negara dengan tingkat kematian Covid-19 tertinggi di dunia per kapita semuanya adalah Amerika Selatan.
"Alih-alih bersiap untuk pandemi, kami meremehkan sejauh mana itu, berpikir panas tropis akan menetralkan virus," kata Dr. Francisco Moreno Sanchez, kepala program Covid-19 di salah satu rumah sakit utama Meksiko, mengatakan.
"Sayangnya, kami adalah salah satu tempat yang paling parah terkena pandemi," kata ahli epidemiologi Meksiko itu kepada Reuters.
"Kami menderita akibat cara yang salah dalam menangani penyakit itu," tambahnya.
TELITI ASAL VIRUS CORONA - Pakar dari China dan Badan Kesehatan Dunia (WHO) mengenakan masker saat mengunjungi Rumah Sakit Wuhan Tongji, pusat wabah virus corona di Hubei, China, 23 Februari 2020.(CHINA DAILY/REUTERS via VOA INDONESIA)
Asal Usul Covid-19 Memanas Lagi, China Mulai Panik
Kini, beberapa ilmuwan kembali menyarankan untuk memahami asal usul Covid-19 secara menyeluruh, demi menghadapi pandemi baru di masa depan.
Bahkan ketika banyak negara semakin dekat dalam hal mengalahkan virus ini, dengan melakukan vaksinasi massal.
Faktanya bukti nyata soal asal-usul pandemi ini belum diketahui hingga saat ini
Amerika masih secara aktif menyerukan penyelidikan secara independen, untuk menyelidiki virus SARS-CoV-2 ini.
"Kami belum memiliki cukup informasi, dan kami membutuhkan lebih banyak data dan penyelidikan independen," kata Jan Psaki White, Sekretaris pers DPR.
Selain itu, belakangan ini bukti-bukti soal asal usul Covid-19 mulai menyeruak lagi setelah amerika memberikan bukti baru.
Mengatakan, bahwa bukti tentang virus ini berasal dari kebocoran di Lab Wuhan sudah dikantongi.
Hal inipun telah diungkapkan oleh Wall Street Journal yang mengutip laporan intelijen Amerika Serikat.
Dalam laporan itu dikatakan, 3 ilmuwan di Institute Virologi Wuhan, masuk rumah sakit pada November 2019.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/https___cdncnncom_cnnnext_dam_-20210325060946.jpg)